Alexandria The Pearl of the Mediterannian

0
771

Entah keberapa kalinya saya mengunjungi kota ini, perasaan saya selalu sama “ feeling Exciting” sama seperti pertama kali menginjakan kaki di kota ini di musim semi tahun 2007 silam, tapi ada yang berbeda dengan traveling kali ini, biasanya dalam rangka pekerjaan travel guide atau tugas dari kedutaan menemani tamu pejabat dari Indonesia, kali ini saya mengunjungi kota ini membawa istri dan putra saya El Khalif, mereka berdua saya putuskan untuk diboyong ke negeri Piramida setelah saya lolos seleksi beasiswa S3 dari Mora yang otomatis juga mendapatkan dana tunjangan keluarga, menyelam sambil minum air, jadi rasanya sayang sekali kalau mereka tidak saya kenalkan pada kota Indah nan menawan Alexandria.

Perjalanan kami mulai dari stasiun Kereta Api Ramsis, untuk kenyamanan kami pilih tiket kelas tertinggi “ Darajah Ula” yang harganya 100 Le atau sekitar 78 ribu rupiah untuk perjalanan sejauh 300 Km, cukup murah bukan untuk perjalanan sejauh ini.

Tiba di Alexandria pukul 4 sore kami memilih untuk mencari hotel dengan View balkon menghadap laut Mediterania, sebetulnya kami sudah booking hotel beberapa hari sebelumnya tapi dihari keberangkatan kami mendapat kabar dari pihak hotel bahwa kamar yang kami pesan sedang dalam perbaikan dan pihak hotel menyarankan untuk mencari hotel lain, Alhamdulillah rekan perjalanan kami memiliki rekomendasi hotel lain, tibalah kami di hotel Kaoud, hotel yang sama-sama memiliki view laut sama seperti hotel yang kami booking jauh-jauh hari sebelumnya.

Alexandria atau dalam Bahasa arab disebut Iskandariyah merupakan kota terbesar kedua di Mesir. Alexander the Great atau Alexander Agung yang berasal dari Macedonia mendirikan kota ini pada 331 tahun sebelum masehi. Pernah menjadi ibukota Mesir selama hampir 1000 tahun. Tatkala berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi. Sebelum pindah ke Fustat (Old Cairo) EL Qoherah El Adimah ketika masuknya islam ke Mesir. Kota ini sangat strategis karena berada di delta sungai Nil yang subur sekaligus berada di tepi laut Mediterania yang menjadi jalur perdagangan penting dunia, penghubung benua Eropa dengan Afrika. Sampai-sampai Alexandria dijuluki sebagai “The Pearl of the Mediterannian” (MutiaranyaMediterania).

Kota eksotis ini membentang sepanjang 32 km. Jika kita lihat di google map bentuk pantainya menyerupai huruf U. Di Cekungan sebelah timur merupakan kota modern sedangkan di sebelah barat adalah kota lama (downtown). Maka tak heran banyak bangunan berasitektur Eropa, juga peninggalan Romawi tersebar di daerah ini.

Selain indah, Alexandria adalah kota para filusuf, jadi pantas saja kota ini banyak melahirkan Filusuf hebat diantaranya Hypatia yang dijuluki sebagai perempuan pembela pengetahuan. Hypatia mengajarkan filsafat kepada murid-muridnya di perpustakaan Alexandria  Bibliotheca, dalam Manuskrip Aristrophanes di perpustakaan Calligio Romano, Roma, dituliskan bahwa perpustakaan Alexandria dibangun pada 300 tahun SM, jadi perpustakaan ini adalah perpustakaan pertama di dunia. Namun tiga abad kemudian keemasan ini berakhir. Redupnya pelita ilmu Alexandria ini ditandai dengan tragedi pembakaran perpustakaan oleh Julius Caesar saat invasinya ke Mesir di tahun 48 SM. Berdasar catatan Sinika, sejarawan yang turut dalam ekspedisi itu, tak kurang dari 400.000 buku dibakar. Dunia ilmu berduka, dan Julius Caesar minta maaf. Untuk menebusnya, Marx Antonio yang datang setelah Caesar menghadiahkan 200.000 buku dari Roma kepada Cleopatra yang berlanjut pada kisah cintanya.

Kisah hidup filsuf perempuan ini pernah diangkat oleh sutradara film Spanyol, Alejandro Amenabar, dengan film berjudul berjudul “Agora”. Hypatia, yang diperankan oleh Rachel Weisz, seakan ingin mengabdikan hidupnya pada ilmu pengetahuan dan filsafat. Film ini sangat menarik untuk ditonton. Terlebih lagi, Rachel Weisz sanggup memerankan sosok Hypatia dengan sangat baik. Beberapa pesan filosofis dalam film ini juga sangat relevan untuk konteks masyarakat kita saat ini.

Hypatia, berabad-abad sebelum Kepler dan Galileo, sudah berjuang keras menemukan hukum-hukum yang mengatur gerakan planet. Sayang, ia hidup di tengah masyarakat yang seakan-akan meletakkan pengetahuan sebagai musuh dari keyakinan agama.

Selain Hypatia, Alexandria juga melahirkan filusuf yang masuk pada deretan 100 filusuf berpengaruh menurut buku the greatest Philosophers diantaranya adalah Geometri Euclidian seorang filsuf ahli matematika geometri, kemudian Klemens, Klemens terkenal dalam sejarah karena berhasil mendamaikan konsep pemikiran agama dan filsafat.

Dari Kekaisaran Romawi kita beranjak pada Alexandria masa keislaman, diantara peninggalan Islam di Alexandria adalah Benteng Qait Bey (Qait Bay) benteng megah yang berdiri kokoh di tepi Laut Mediterania. Benteng ini didirikan di atas reruntuhan Mercusuar Pharos (Pharos Lighthouse). pendiri benteng ini adalah seorang sultan dari Dinasti Mamluk Burji yang pernah menguasai Mesir dan Suriah. ia bergelar Al-Malik Al-Asyraf Abu Nashr Saifudin Al-Mahmudi Azh-Zhahiri, memerintah antara 837 sampai 902 Hijriyah (1468-1496 M).

Qait Bey adalah mantan budak yang naik tahta menggantikan Azh-Zhahir Temirbugha, sultan Dinasti Mamluk sebelumnya. Ketika naik tahta, Qait Bey dihadapkan pada dua tantangan besar. Pertama, menghadang gerak maju pasukan Dinasti Utsmaniya yang ingin menguasai Mesir. Dan kedua, mengatasi masalah ekonomi yang memburuk akibat ditemukannya Tanjung Harapan oleh para petualang Eropa yang sedang memburu kekayaan alam di Asia, termasuk Indonesia.

Dan bagi pegiat Ziarah, Alexandria adalah pilihan yang tepat, karena terdapat makan Aulia diantaranya adalah Guru dari Ibnu Attaillah As Sakandari (pengarang kitab Al Hikam) ia adalah Abu Abbas Al Mursi, dalam kitab Al-Wâfi bil Wafâyât menyebutkan bahwa nama aslinya adalah Ahmad bin Umar bin Muhammad yang merupakan pewaris tarekat Syadziliyah. Dan tepat disebelah kanan Makam Abu Abbas Al Mursi terdapat Makam pengarang Solawat Burdah atau Qasidah Burdah ia adalah Imam al-Busiri (1213-1296 Masehi), Imam al-Busiri merupakan seorang sasterawan dan penyair yang ulung. Kemahirannya didalam bidang syair mengalahkan para penyair lain dizamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal dengan keindahannya. Ia juga adalah murid Abdul Abbas al-Mursi.

Ditempat lain 2 kilometer dari Roman Teater terdapat makam Nabi Danial dan Lukmanul Hakim, Mungkin sebagian dari kita belum mengenal Nabi yang dulu diutus oleh Allah kepada Bani Israil ini, bahkan di dalam al-Quran pun tidak disebutkan namanya, belum lagi terdapat banyak pendapat versi mengenai dimana letak makam Nabi Daniyal, sebagian dari sejarawan mengatakan bahwa Nabi Daniel dimakamkan di sebuah makam kuno yang terletak di Benteng Kirkuk di kota Kirkuk Irak. Sebuah makam lain di Susa Iran, juga diklaim sebagai makam Daniyal. Selain itu juga, Bahkan, ada yang menyangka Nabi Daniyal dimakamkan di Samarqand, Uzbekistan. Akan tetapi dari beberapa riwayat dikatakan makam yang Alexandria lah yang lebih diyakini. Wallahu A’lam.

Disamping makan nabi Danial terdapat makam Lukmanul Hakim tentunya kita sudah sering mendengar tentang namanya, sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran “dan ingatlah ketika Luqman berkata pada anaknya dan dia menasehatinya “Wahai anakku! Janganlah engkau syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang besar”. Dan dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia telah berkata: Rasullullah Saw. pernah bersabda: “Adakah engkau semua tahu siapakah dia Luqman? “Mereka pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Dia adalah seorang Habsyi.” Pendapat yang mengatakan ia adalah seorang habsyi, adalah riwayat dari lbnu Abbas, kemudian Ibnu Qutaibah juga pernah berkata dalam bukunya: “Luqman adalah seorang hamba Habsyi kepada seorang lelaki dari kalangan bani Israil. Kemudian beliau dibebaskan dan diberikannya harta.” Sebuah keagungan jika kita berkunjung ke Makam seorang yang soleh yang nama dan kisahnya Allah catatkan dalam AlQuran. Alangkah mulianya jika kita menyempatkan sejenak waktu kita untuk sekedar berziarah dan bertawasul.

Sebagai penutup saya ingin katakan bahwa Traveling ke Alexandria bukan hanya keindahan serta kecantikan yang didapat tapi juga nilai sejarah dan nilai spiritual. Salam dari Alexandria untuk pembaca Santri Nulis.

Dari Balkon Hotel Kaoud Alexandria, 4 Mei 2018

Rizzaldy Satria Wiwaha

(Cand. Doktor di Institute of Arab Research and Studies, ALECSO, Mesir)

Tinggalkan Komentar