Cinta itu Duka (bag 17)

0
61

Kelembutan hati, semangat singa dan jiwa petualang Gie berlabuh di Pangrango. Anak muda itu terpikat sensasi. Keheningan malam di lembah Mandalawangi. Gie jatuh hati.

Anak muda itu pun menulis puisi.

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah!

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie

 

Pangrango rindu anak muda penuh semangat itu. Pejuang yang tidak pernah takut menghadapi maut. Cintanya kepada manusia sama besar dengan cintanya kepada alam. Baginya kemanusiaan dan lingkungan adalah dua dahan kehidupan yang saling menopang. Tanpa manusia alam miskin guna. Tanpa alam manusia binasa.  Perjuangannya melawan kerakusan. Karena kerakusan adalah bom atom pemusnah alam dan manusia. Sekali kekuasaan digenggam si rakus, maka manusia menjadi mangsa dan alam diperkosa.

Sayang Gie mati muda. Aktifis penuh cinta itu melepas nafas di atas Semeru. Tuhan menyayanginya, dia terbebas dari beban dunia yang berseri. Tapi perjuangannya tidak boleh habis. Kehangatan cintanya harus terus dijaga. Ketinggian citanya harus terus didengungkan. Keberaniannya menerobos kegelapan harus disemai. Kerakusan harus terus dilawan.

Tawa remaja desa yang membuat Pangrango terjaga membimbingnya berlayar di dunia asa. Pangrango telah melintas masa. Ribuan purnama datang dan pergi. Manusia berganti generasi. Tapi angkara masih tetap lestari. Kasih sayang Sang Pencipta lewat alam indah bestari dikhianti. Setidaknya dia merekam kisah datang dan pulang. Perjalanan naik dan turun. Drama tangis dan tawa. Kelahiran dan kematian. Setiap masa memiliki cerita beda. Meski dia mengerti pada dasarnya pemicunya sama. Kerakusan menjadi api yang membakar. Sedangkan kasih sayang laksana air yang menyejukan. Sering kali kerakusan yang membara, tidak mampu dipadamkan air yang hanya sepancuran. Episode kegagalan kasih sayang meredam kerakusan sering terjadi. Hanya karena volume air kalah besar dengan besaran api. Manusia berhati air kalah banyak dengan manusia yang dadanya dipenuhi api.

Masih ada dua penyakit yang menggerogoti peradaban manusia. Makhluk yang didesain oleh Sang Pencipta sebagai pengelola alam raya itu menjadi tidak berdaya saat dua penyakit ini bertahta. Kebodohan dan kemiskinan.

Bertiga; Kerakusan, Kebodohan dan Kemiskinan berkolaborasi menjadi gerhana. Kebenaran  dan kejahatan disamarkan, keadilan dihapuskan, kemuliaan digelapkan. Manusia berjalan tanpa kepastian. Mereka berlomba masuk goa. Terpenjara dalam kepasrahan ketidak tahuan. Hanya segelintir orang yang berani jalan di luar. Mereka yang mendapat cahaya di dadanya. Berteriak memanggil penghuni goa. Tapi tangan-tangan malam berupaya membungkamnya. Kegelapan dilestarikan dengan berbagai cara. Seperti Gie yang mati muda. Dia membawa cita sampai ke alam baka. Sedangkan dunia yang ditinggalkannya masih tetap sama.

Di balik selimut kabut, Pangrango menatap wajah anak remaja yang membuatnya terjaga. Anak-anak kampung yang polos. Terlahir di zaman serba susah. Kerusakan sudah menjalar di mana-mana. Semoga saja mereka selamat dari kehancuran. Selamat dari tiga penyakit yang menggulitakan kehidupan; kerakusan, kebodohan dan kemiskinan. Semoga ada diantara mereka yang mampu berjuang melawan tiga kegelapan.

Tinggalkan Komentar