COLOURFULL OF LOVES 3

0
370

(-3-)

BASKETBALL

x x x

SYUUNG

“AWAS!”

BRUKK

Sebuah bola basket melayang dengan santainya mengenai seseorang yang saat itu tengah berjalan di pinggir lapangan. Bukan hanya lemparan biasa, melainkan lemparan kuat penuh tenaga. Meski si pelaku adalah seorang gadis berwajah imut dan bertubuh mungil. Orang yang menjadi korbannya kini tergeletak mengenaskan, tak sadarkan diri di tempat.

“Ya Tuhan!” Pekik Audy panik dan terkejut.

Ia merutuki diri sendiri karena telah melakukan kesalahan serta kecerobohan yang menyebabkan seseorang menjadi korban. Sedikit mempercepat laju kedua kakinya agar segera sampai ke tempat dimana si pemuda berada. Nafasnya terengah. Peluh membasahi dahi hingga ke leher jenjangnya. Surai hitamnya yang terurai panjang sedikit lepek oleh keringat. Namun meski begitu, tak sedikitpun mengurangi kecantikannya.

Bermain basket selama menunggu kedatangan Abangnya sudah menjadi rutinitas setiap hari. Membunuh kebosanan sembari melakukan permainan yang disukainya meski ia tak memiliki bakat dalam bidang tersebut. Tak masalah bukan meski ia memainkannya dengan ala kadarnya saja. Khas seorang amatir yang tak terlalu jago dalam permainan basket. Namun justru karena kemampuan tak seberapanya itu, kini sebuah masalah terjadi.

Seharusnya ia melemparkan bola berwarna oranye ke dalam ring, bukan malah melemparkannya pada seseorang yang tengah melintas tak jauh di depan sana. Sudah jelas ini murni kesalahannya sendiri. Lebih tepatnya ia salah sasaran.

“Ka-kakak, bangunlah!” Audy menepuk-nepuk pipi si pemuda bersurai coklat madu pelan dan hati-hati. Berharap dengan tindakannya itu ia akan segera tersadar. Namun nihil. Tak ada pergerakkan berarti dari pemuda itu.

“Bagaimana ini?” Audy Menggigit bibir bawahnya cemas dan gelisah.

Audy mengenal betul siapa pemuda itu. Ia adalah Vincent, seniornya sekaligus kapten tim basket di sekolahnya. Tak hanya berwajah tampan dan berasal dari keluarga terpandang. Iapun memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata yang selalu mendapatkan posisi pertama dalam berbagai bidang pelajaran. Memiliki banyak penggemar baik dari kalangan perempuan ataupun laki-laki. Ia terlalu sempurna. Sangat sulit mencari tahu kekurangan yang dimilikinya.

Gawat. Ini benar-benar gawat. Audy mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari bantuan untuk membawa Vincent ke UKS. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk padanya. Takut jika kepalanya terkena gegar otak atau bahkan jauh lebih buruk.

‘Arghh … Ini akan menjadi masalah yang sangat besar nantinya.’ Batin Audy semakin kalut.

Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepala Audy, “Aku akan meminta bantuan pada satpam di depan saja.” Beranjak hendak pergi darisana namun ada sesuatu yang menahan pergerakkannya. Tangan kekar berlapis kulit putih milik Vincent yang kini tengah membuka matanya, menampakkan iris dark brown yang mempesona meski terkesan datar.

“Syukurlah.” Audy menghela nafas lega. Tersenyum senang karena pemuda itu telah tersadar dan terlihat baik-baik saja. Sepertinya. Agak ragu. Ia kembali berkata, “A-apakah Kakak baik-baik saja?”

Untuk beberapa saat tak ada respon dari Vincent. Ia hanya diam memandangi wajah Audy. Tajam dan dalam. Penuh perhatian. Seakan melihat sesuatu yang sangat langka dan berharga di dunia ini, membuat si objek tak nyaman karenanya.

“Apa kepala Kakak pusing?” Audy bertanya lagi. Raut wajahnya mulai menunjukkan kecemasan berlebih. Menggigiti bibir bawahnya guna menetralisir perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Blush on alami pun telah menghiasi kedua pipinya karena tatapan intens dari sepasang iris dark brown milik Vincent.

“Ya.” Suara bariton Vincent terdengar. “Kepalaku sangat pusing.” Ia mengernyitkan dahi pertanda rasa pusing tengah melanda. Berusaha untuk mengubah posisinya menjadi duduk, dibantu oleh Audy.

“Ma-maafkan aku, Kak. Aku benar-benar minta maaf.” Cicit Audy tak berani menatap kearah Vincent. Menundukkan kepalanya ke bawah. Meremas jari-jemarinya gelisah dan takut. “Aku sudah membuatmu—”

“Tak apa.” Ujar Vincent santai. Ia memijat kepalanya yang terkena lemparan bola sembari menatap mata Audy masih seperti tadi. Tajam dan dalam. “Antarkan saja aku ke UKS!” Bernada perintah meski diucapkan dengan datar.

Kepala Audy terangkat. Membalas tatapan Vincent dengan sorot mata penuh penyesalan. “Baik. Aku akan mengantarmu kesana.” Mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

Vincent menerima uluran tangan Audy. Mencoba berdiri di kedua kakinya sendiri, namun ternyata ia tak mampu. Tubuhnya oleng, hampir terjerembab ke tanah jika saja Audy tak sigap memeluknya. Melingkarkan kedua tangan kecilnya pada tubuh tinggi pemuda itu.

“Ka-kakak …” Audy berusaha keras menahan tubuh Vincent yang jauh lebih besar darinya. “Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja. Aku takut jika—”

“Bawa aku ke pinggir lapangan!” Ujar Vincent masih bernada sama. Menenggelamkan kepalanya pada leher putih Audy. Bernafas berat seakan menahan sakit atau sesuatu.

“Baik.” Tanggap Audy cepat. Memapah senior tampannya menuju ke pinggir lapangan. Hati-hati dan susah payah karena tubuh Vincent sangat berat bagi gadis lemah lembut seperti ia. Mendudukkan diri diatas kursi kayu yang tak jauh berada disana.

Nafas Audy sedikit cepat. Mengusap peluh yang ada di dahinya dengan punggung tangan. “Kakak …” Memanggil Vincent lembut. Takut mengganggu atau membuatnya marah.

Tak ada respon. Vincent hanya memejamkan mata sembari menyimpan kepalanya pada bahu mungil Audy.

“Kakak—”

“Sssttt! Diamlah!” Ujar Vincent akhirnya bersuara tanpa membuka mata. “Kepalaku sangat sakit. Seperti ditusuk ribuan jarum.” Mengernyitkan dahinya menahan sakit yang menyerang.

“Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” Gumam Audy pelan. Semakin dilanda ketakutan dan kecemasan akan keadaan Vincent akibat kesalahannya. Menggigiti bibirnya sendiri.

Iris dark brown yang semula tersembunyi di balik kelopak mata Vincent kini terbuka, “Pinjamkan aku kedua pahamu!”

“E-eh?” Audy terkejut mendengar permintaan Vincent. Tak tahu harus berekspresi seperti apa. “Untuk apa, Kak?” Tanyanya polos.

Mendengus pelan, Vincent kembali berkata: “Aku ingin istirahat sebentar dan meminjam pahamu sebagai bantal.” Jelasnya datar.

Audy mengangguk mengerti sekaligus sebagai tanda bahwa ia mengizinkan Vincent.

“Aku janji tak akan lama.” Ujar Vincent setelah menyimpan kepalanya diatas pangkuan Audy. Mulai memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Meluruskan tubuh lelahnya seakan ia tengah berada di kamarnya. Menyamankan diri dan menikmati apa yang ada.

“La-lama pun tak masalah.” Ujar Audy merasakan kegugupan yang luar biasa. Tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ia akan berada sedekat dan seintim ini dengan Vincent. “Ta-tapi apa Kakak tak ingin pergi ke rumah sakit? Aku takut ada sesuatu yang tak beres dengan kepalamu.” Nada suaranya terdengar cemas.

Vincent memegangi tangan Audy. Menyimpannya diatas kepala. “Belai kepalaku!” Kembali memerintah. Tak terbantahkan. “Rasa sakitnya akan sedikit hilang jika kau membelainya.” Menjelaskan agar keraguan Audy lenyap.

“Ba-baik.” Audy menurut saja tanpa membantah. Meski debaran jantungnya semakin tak terkendali, namun ia tetap melakukan hal itu. Membelai kepala bersurai coklat madu milik Vincent. Lembut dan penuh kasih bagaikan seorang ibu yang tengah menidurkan anaknya.

Nafas Vincent teratur tak seperti tadi. Ekspresi wajahnya tenang dan polos seperti anak kecil. Ia seakan menikmati setiap sentuhan tangan Audy di kepalanya. Tak ingin momen ini segera berakhir.

‘Tampan sekali. Ia jauh lebih tampan jika dilihat dari dekat seperti ini.’ Pikir Audy memperhatikan pahatan wajah pemuda itu. Mengagumi segala hal yang ada pada dirinya. Tak menyadari bahwa rona merah di wajahnya semakin bertambah saja. Berharap jika dentuman jantungnya tak akan terdengar.

Langit mulai menguning. Sang Mentari mulai tenggelam ke tempat peraduannya. Burung-burung kecil terlihat beterbangan diatas sana. Angin sepoi menyapu lembut seluruh tubuh kedua insan itu. Sejuk dan menenangkan.

Audy melemparkan pandangannya keatas langit. Menikmati indahnya sore hari bersama seseorang yang tak pernah diduga. Tetap melakukan tugas yang diperintahkan Vincent untuk membelai kepalanya. Mengembangkan senyum manis yang membuat siapapun terpesona, termasuk pemuda bersurai coklat madu yang telah membuka mata tanpa disadarinya.

‘Kau memang sangat indah.’ Batin Vincent mengangumi pemandangan langka yang tersaji di depan mata. Tersenyum tipis merasakan desiran menyenangkan yang menyerang dada serta perutnya. Kembali memejamkan mata setelah puas menikmati keindahan gadis yang selama ini menarik hatinya kemudian bibirnya membentuk seringai kemenangan tanpa sepengetahuan siapapun.

Sebenarnya Vincent bisa dengan mudah menghindari ataupun menangkap bola basket yang melayang kearahnya tadi. Hanya saja otak cerdasnya memikirkan sesuatu, menangkap sebuah kesempatan bagus yang tak mungkin disia-siakan begitu saja. Berakting layaknya orang yang benar-benar merasa kesakitan. Membuat gadis polos dan baik hati seperti Audy dengan mudah masuk ke dalam permainan yang telah dibuatnya.

Dan ternyata berhasil. Audy sungguh berpikir bahwa Vincent telah menjadi korban dari kesalahan dan kecerobohannya. Bersedia melakukan apa saja yang diperintahkan pemuda itu tanpa membantah ataupun menolak.

‘Langkah awal yang cukup baik. Aku yakin kau akan segera jatuh ke dalam pelukkanku.’ Ujar Vincent dalam hati. Penuh keyakinan dan percaya diri.

Poor Audy. Bahkan ia tak tahu hal apalagi yang akan terjadi nanti.

Percayalah! Rencana Vincent tak akan mudah ditebak dan tak akan mungkin mengalami kegagalan. Apapun yang ia inginkan harus didapatkan, termasuk gadis itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

Tinggalkan Komentar