Cinta itu Duka (bag 15)

0
61

Surya baru saja tenggelam, sekelompok anak muda menatap bukit dihadapan.

“Kita segera, sebelum fajar terbit harus sudah berada di puncak” Pemuda kurus berkulit putih mengomandoi kawanannya.

Jum’at sore sudah tidak ada lagi kegiatan kampus. Perkuliahan selesai di hari kamis, meski makalah tetap ada seminggu penuh. Waktu yang tepat melepas penat. Terlebih ibukota sudah sedemikian kejam kepada rakyat kecil. Pembangunan selalu menguntungkan yang beruang, menyingkirkan kelompok besar yang jauh dari gelimang dunia. Kelompok besar terpinggirkan itu tambah tidak berdaya dengan peraturan yang mencekik leher mereka. Terlebih penegak peraturan yang bersikap kejam. Ongkos bus naik tidak wajar, dari Rp. 200 menjadi Rp.1.000. Sementara rakyat menderita, pejabat menikmati mobil negara. Padahal bensin yang diminumnya berasal dari pajak konsumsi rakyat.

Anak-anak muda itu bukan petarung yang kabur dari gelanggang. Mereka sudah berjuang melawan kesewenangan. Beradu urat leher dengan pejabat pembuat kebijakan, bergumul dalam panas terik dibawah sorot tajam barisan pembawa senapan, mereka meneriakan keadilan dari warung kopi sampai ke meja para petinggi. Mereka tidak putus asa, selama masih ada nyawa perjuangan masih terus membara. Adapun mereka pergi dari ibukota senja ini, sekedar melepas penat. Mencari energi alam untuk meremajakan kembali semangat. Alam selalu bersahabat kepada siapa saja yang menaruh cinta sesama sebagai obor hidupnya.

Di punggung kandang badak jalan bercagak menghadang. Rombongan berhenti sejenak. Setengah perjalanan sudah dilalui, tidak banyak yang terlihat. Gelap malam menyelimuti sebagian kehidupan. Mereka hanya merasakan getaran dahan-dahan pohon dihempas angin. Suara burung malam yang beradu dengan jangkrik hutan menularkan aroma kengerian. Tentu bagi yang bernyali teri. Bagi aktifis muda yang terbiasa ditodong senapan, nyanyian burung hantu bagai irama karindua. Kidung cinta yang nestapa. Berharap sebuah pertemuan, tapi hanya mendapat kehampaan. Mereka malah mengasihani si burung hantu. Berdoa semoga di punguk yang merindu bulan bisa sampai ke angkasa. Bercengkrama di singgasana nirwana, melepas semua beban di dada. Doa yang sebenarnya diperuntukan bagi mereka juga. Para penyintas yang sedang memperjuangkan sebuah utopia.

“Kita ambil jalan ke kanan” Komando diberikan pemimpin kelompok.

Semuanya mengangguk setuju. Meski jalan ke kanan lebih terjal, mereka tidak ciut nyali. Makin besar rintangan, makin indah perjalanan. Kelompok anak muda dari ibukota merayap naik. Menapaki jalan menanjak yang hanya memiliki lebar satu meter. Beberapa kali mereka harus meloncat. Batang-batang besar yang tumbang melintang jalan. Pohon itu sudah tidak sanggup menahan amuk angin. Terjungkal dan perlahan mati. Hidup memang keras. Siapa yang tidak kuat atau tidak cukup kuat bisa tumbang kapan saja. Terkadang mereka melintas sungai kecil. Airnya putih jernih. Sebuah kado istimewa dari Sang Pencipta untuk menghapus dahaga. Selepas puas meneguk air, giliran kantong air diisi. Perjalanan masih panjang, amunisi harus dipersiapkan.

Tinggalkan Komentar