Cinta itu Duka (bag 14)

0
187

Riuh tawa remaja seragam merah putih memaksa Pangrango buka mata. Tapi dia masih belum mau mengibas selimut kabut. Dibiarkan kakinya terselubung, tapi nalarnya mulai terhubung. Pembawaan gunung ini kalem, cenderung pendiam. Tidak seperti saudaranya yang suka buat gaduh. Meski pangrango termasuk gunung berapi aktif, tidak pernah memuntahkan lahar panas. Gunung ini masih mempertahankan keperawanan kuncupnya. Puncak pangrango masih utuh, seperti kerucut. Padahal saudaranya, Gubung Gede yang letaknya berdampingan sudah berulang kali Meletus.

Wujud Pangrango persis raksasa tertidur. Kakinya menjulur ke arah terbit matahari, badannya rebah, kepalanya menengadah. Ujung puncak pangrango yang mengerucut lebih tinggi beberapa puluh meter dari tetangganya. Tinggi Gede mencapai 2.958 mdpl, sedangkan pangrango mencapai angka 3.019 mdpl. Di tataran pasundan, Pangrango berada di peringkat kedua gunung tertinggi setelah Ciremai. Gunung ini menjadi tempat bersemayam ratusan fauna khas Jawa Barat. Salah satunya si Kumbang, kucing besar yang bernama latin Panthera Pardus. Hutan tropis yang mengelilingi lereng Pangrango dan Gede membuat si kumbang nyaman. Kucing besar yang suka hidup menyendiri dan sangat tertutup itu merasa terlindungi kebisuan Pangrango. Tapi waktu merubah segala begitu cepat. Hutan lebat sudah banyak dibabat. Habitat asli fauna semakin sempit. Perkembangan pun terhambat. Kalah oleh perkembangan manusia yang rajin beranak pinak. Ditambah lagi tabiat asli manusia yang suka merusak. Lengkap sudah penderitaan penghuni asli Pangrango.

Pangrango menyimpan banyak kisah. Serial drama yang dia abadikan dalam kebisuan. Gunung ini cerminan penjaga rahasia kelas utama. Tidak seperti ibu-ibu kampungan yang suka mengumbar gossip. Padahal belum tentu yang dibicarakan itu benar. Dan belum tentu yang disebar itu bermanfaat. Pangrango menjaga betul kerahasiaan. Baginya diam menjadi pilihan. Tapi bila perlu dibicarakan, dia tidak segan bertutur.

Pangrango sangat tersanjung saat seorang anak muda mengunjunginya. Pemuda gagah yang penuh gairah. Kepalanya penuh terisi ideologi tentang kemakmuran, kesejahteraan, keadilan, kesamaan hak dan kebebasan berpendapat. Sayang kenyataan hidup tidak seperti teori yang dia baca dari ragam reverensi. Banyak penyelewengan terjadi. Kekuasaan yang seharusnya menjadi lahan untuk kesejahteraan masyarakat, malah dijadikan alat membesarkan diri. Kesewenangan pun menjadi kawan karib kekuasaan. Siapa yang berkuasa berhak berbuat seenaknya. Siapapun yang berseberangan dibumi hanguskan. Para penjilat mendapat panggung terhormat. Dada anak muda itu sesak. Dia sudah sering berteriak. Lewat mimbar tepi jalan, lewat tulisan yang dimuat koran, lewat goresan mural. Tapi hanya gombalan dia dapat.

Anak muda itu mencari bahu tempat bersandar. Dia mendambakan telinga yang sanggup mendengar. Dia butuh tubuh yang siap mendekap saat tersekat penat. Terlebih dia menanti hati yang terbuka menerima cinta. Pangrango menyediakan diri untuk anak muda itu. Berdua mereka merajut kasih yang aneh. Kasih yang terjalin lewat keheningan.

Tinggalkan Komentar