Cinta itu Duka (bag 11)

0
43

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa

Terdiam lagi aku dibawa lamunan. 4-5 ribu nyawa bukan bilangan sedikit. Nyawa-nyawa yang mengangkasa itu menitip asa. Kematian bukan akhir dari perjuangan. Kematian hanyalah jembatan penghubung sebuah harapan. Tentang kehidupan yang lebih indah. Hidup yang bebas dari penjajah. Karena keterjajahan selalu menyakitkan.

Mereka ingin dikenang. Mayat-mayat itu ingin diingat. Bahwa kematian mereka manjadi jembatan menuju kemerdekaan.

Sebuah rasa malu menjalari urat darahku. Aku sempat enggan ikut kegiatan peringatan kemerdekaan. Membaca puisi bukan barang tenar. Apalagi di kalangan anak laki-laki. Sering kali saat pelajaran Bahasa Indonesia, gerombolan anak laki-laki di belakang bergejolak. Terlebih saat pak guru meminta salah satu dari kami maju ke depan mendeklamasikan puisi. Riuh pasar pun tumpah di ruang kelas. Sorak norak menggema. Saat yang baca puisi anak perempuan apalagi. Beo-beo jahil, menggemakan setiap akhir kata yang terlontar.

Aku

Ku…ku…kuku…

Setelah itu, Pecah tawa.

Pak guru pun berdiri tegak. Matanya tajam menghujam. Kesemrawutan dapat ditenangkan. Begitu pak guru duduk lagi. Puisi kembali dibaca. Pasar pun kembali terbuka.

Siapapun yang maju ke depan pasti merinding dibuatnya. Merinding menahan kesal. Bahkan ada yang sampai menangis sesegukan.

Deklamasi puisi berakhir horror. Pak guru menyeret para pembuat onar. Beo-beo jahil didirikan di depan kelas. Baris satu shaf saling berdempetan. Tangan kanan menjewer kuping kiri temannya, terus terhubung dari sati kupin ke kuping yang lain. Kaki kiri diangkat. Pak guru menjewer anak paling kiri, serentak dia menjerit sambil menarik kuping temannya. Si anak yang kupingnya ditarik, reflek menarik kuping sebelahnya. Terus bersambung sampai anak paling kanan. Kuping-kuping pun memerah darah.

 

Kami tidak tahu, kami tidka bisa lagi berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Syharil

Kami sekarang mayat

Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Tinggalkan Komentar