Cinta itu Duka (bag 10)

0
103

Penutup ceramah Pak Beri menjadi klimaks dari tanda tanya di kepala. Bagai prajurit yang mendapat perintah komandan, aku tidak punya pilihan menolak. Siap laksanakan.

Empat lembar kertas disodorkan guru yang jago bela diri itu.

“Baca dulu, pilih salah satu.” Intruksi Pak Beri.

Kertas pertama aku baca.

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengar bicaramu

Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api, aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

Karya Chairil Anwar

Puisi yang pendek. Paling cepat dihapal. Andai Pak Beri tidak buat perintah untuk membaca semua lembar kertas, sudah pasti puisi ini pilihanku. Ujung mataku melirik ke arah Pak Wali kelas. Baru sedetik, sudah langsung aku tarik. Lirikanku beradu dengan tatap tajam mata pendekar. Nyaliku rontok, tangan langsung bergerak. Lembar kertas kedua pun tersibak.

AKU

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak Perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidka peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Karya Chairil Anwar

Lembaran kedua selesai aku baca. Masih tersisa dua lembar lagi. Mata pendekar masih mengamati. Saatnya membaca lembar ketiga.

KRAWANG – BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi

Tidak bisa teriak merdeka dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami

Terbayang kami maju dan berdegap hati

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda yang tinggal tulang diliputi debu

Kenang, kenanglah kami

Mendadak badanku gemetar. Bulu-bulu halus di sepanjang tangan berdiri tegak. Disusul yang di punggung dan leher. Seolah ada rasukan yang menjalari nadi. Aku terbawa dalam hening kematian. Di sana sebuah daerah yang baru saja aku baca namanya. Tidak pernah aku menyinggahinya. Tidak pernah aku melewatinya. Daerah itu seolah terbuka di hadapan mata. Krawang-Bekasi menganga. Hamparan mayat bagai bangkai binatang terbuang. Amis darah dan bau busuk daging menyengat lubang hidung. Jasad terkoyak, dilubangi timah panas. Tapi setiap wajah tidak menyisakan pedih pun sedih. Wajah-wajah yang sudah merenggang nyawa itu menengadah. Menitipkan harapan pada awan. Semoga akan datang hujan. Sehingga tidak ada sisa nestapa

Tinggalkan Komentar