Cinta itu Duka (bag 1)

0
317

Halim. Itu namaku, tanpa tambahan. Sederhana memang, tapi di balik itu ada cerita yang rumit. Ayahku yang tahu. Saat itu aku belum juga bisa melihat apalagi mendengar. Aku baru berupa sosok tubuh yang hanya bisa menangis. Menurut cerita ayahku, ibu sedang memasak di dapur saat perutnya seperti diikat tali. Melilit sangat kuat.  Ibu bingung dia segera beranjak ke kamar mandi. Tapi nenek mencegah. Sebagai wanita yang telah mengeluarkan belasan kepala, beliau mengerti pertanda.

Segera ayah memberesi pakaian. Sebuah tas besar penuh padat siap dijinjing. Nenek sekejap mata sudah menempelkan bedak di seluruh wajahnya. Ibu hanya pasrah. Ini perdana. Bertiga menembus gelap, sebuah lampu senter menjadi petunjuk jalan.

Rumah nenek di lereng gunung. Jalan raya berjarak 2 km. Tidak ada mobil dan motor. Perjalanan sejauh itu harus ditempuh dengan jalan kaki. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan seorang ibu hamil tua yang sudah didesak jabang bayinya.

Ibu meringis, ayah dengan tabah mendekapnya. Nenek terus saja berjalan. Wanita yang sudah lewat setengah abad itu seolah tidak mau tertinggal kereta. Dia berjalan gagah, langkahnya panjang. Ayah dan ibu terseok mengikuti di belakang.

“Aduh, mulas sekali” ibu meringis.

“Tahan sayang, sebentar lagi sampai di jalan raya.” Ayah coba menenangkan, padahal perjalanan belum juga setengahnya.

Tidak ada yang pernah membayangkan melahirkan di tengah jalan. Apalagi jalan yang masih perawan. Di kiri dan kanan belum banyak pemukiman. Sepanjang 2 kilo perjalanan hanya ada dua sampai lima rumah nampak. Sisanya belukar dan pohon-pohon besar. Di belokan ke lima sebelum jalan raya, ada sekumpulan pohon bambu. Batangnya condong ke jalan. Daun-daun berjuntaian seolah ribuan tangan melambai. Semua penduduk kampung tahu di belakang deretan bambu ada kuburan umum. Angin berhembus, suara aneh pun terdengar.

Srekk..

Srekk..

Ibu menahan suara. Mulutnya dikunci rapat. Ayah merapalkan banyak doa. Segala bacaan yang pernah didapat saat muda berhamburan dari mulutnya. Ayat kursi sudah habis 11 kali. Qulhu entah sudah terulang berapa. Setelahnya an-naas dan al falaq pun dideras. Angin tak mau kalah. Semakin deras bacaan keluar dari mulut ayah, semakin kencang pula angin berhembus. Bulu-bulu halus di sepanjang tangan ayah mulai berdiri. Ibu sudah kehilangan darah di wajah.

Bayangan ngawur mulai melintas di kepala ayah. Tidak ada jalan keluar selain pasrah. Tapi logikanya mendebat. Mengapa harus pasrah, kalau masih ingin melihat matahari esok. Terlebih ada masa depan di dalam perut istri.

“Ker naon jang, peting-peting?[1]

Seseorang menyentuh pundak ayah.

Bersambung..

[1] Sedang apa dik, malam-malam?

Tinggalkan Komentar