Makrifat Para Peajabat

0
583

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara di dunia yang dipenuhi dengan tangan-tangan suci. Dikatakan demikian lantaran sedikit-sedikit mencuci tangan dan sedikit-sedikit mengusap tangan. Maksud kata sudah tidak terhitung jumlahnya jikalau seandainya kita akan meghitung ada berapa tangan yang tidak bertanggungjawab setelah mengarungkan harta orang lain. Biasanya orang yang seperti ini identik dengan orang-orang yang mengendalikan kepemerintahan disuatu tempat, dimulai dari desa, kecamatan, kabupaten, daerah, hingga para pejabat yang mengurusi Indonesia secara keseluruhan.

            Terhitung sejak tahu 2000-sekarang saja, sudah ada berapa nama-nama yang terpantau oleh cicak-cikak di dinding, jalannya merayap namun sukanya memang ditempat yang pengap. Syukur alhamdulillah mereka dikaruniai kemampuan sedemikian, meskipun kecil tapi sukanya menusuk jantung pertahanan lawan. Lawan adalah mereka yang memiliki ambisi bereksistensi, sayangnya melupakan jati dirinya sebagai manusia.

            Kemudian hal demikian dipandang sangat hina oleh jagat raya. Mereka kecewa terhadap orang-orang yang dipercaya dapat dipercaya. Sayang mereka terlalu berlarut-larut dalam kekecewaan, sibuk menagih hutang yang katanya belum mereka tunaikan. Alwa’du dainun, kata mutiara ini selalu menemani mereka (masyarakat) bersama janji-janji yang dinanti meskipun belum pasti kapan terpenuhi. Mereka hanya meyakini kalau janji mereka (pemimpin) akan dipenuhi, janji mereka akan tiba pada saatnya.

            Memang aktivitas menunggu tidaklah melulu tentang penantian, mereka juga bergerak menjemput bola dengan cita-cita agar semua janji mereka akan segera ditunaikan. Akhirnya, banyaklah pergerakan seperti unjuk rasa, menuntut pemimpin agar sejatinya menjadi pemimpi seperti apa yang masyarakat inginkan. Dari sini kita tau bahwa yang mereka inginkan hanya sebatas menunaikan janji-janji yang telah mereka amini dengan cara memilihnya.

Tapi mengapa saya pribadi menertawakan narasi ini, bagi saya peristiwa ini bukan sandiwara, ini adalah kejadian yang sedang terjadi dan dialami di negeri ini. Indonesia. apa mungkin perasaan dan pengekspresian ini adalah suatu kekecewaan yang sudah sangat meluap. Hingga akhirnya aku luapkan kepada Tuhan.

Oohh Tuhan..

            Sekarang aku sadar bahwa mereka adalah pemimpinku, mereka adalah utusanmu, mereka adalah pewaris nabimu, namun apakah memang benar orang yang seperti itu yang kau sebut sebagai wali…?

            Setelah kekecewaanku semakin mendalam, aku berangan-angan menjadi seorang pemimpin yang duduk dikursi kemenangan. Disisi lain aku juga merenungi apa yang akan kulakukan nanti  dan alasan-alasan mengapa aku harus begini.

            Betapa nikmatnya jadi pemimpin, betapa, betapa, dan banyak betapa lagi. Namun setelah ada beberapa waktu yang kulalui untuk berangan, kemudian aku sadar kalau aku sedang dalam angan-angan.

            Dari sinilah kemudian, aku sadar dan mengambil kesimpulan.

            Para pemimpin memang orang-orang pilihan tuhan, mereka melalui jalan spiritualnya dengan angan-angan. Mereka mengalami maqamat kewalian untuk sampai kepada makrifat kebenaran.

Orang yang sedang ada dalam situasi seperti ini sering kali lupa diri, karena kefana’annya yang sedang bersandiwara bersama tuhan. Orang yang mengalami fana’ biasanya lupa terhadap segalanya, orang yang fana’ biasanya hanya mengenal tuhannya.

Fana’ adalah hal ihwal seorang pejuang yang sedang berusaha agar keinginannya  tercapai. Setelah mereka sadar, kemungkinan besar apa yang telah mereka kataka tidak akan terekam dalam ingatan.

Jadi jangan emosi ataupun marah kalau ada seorang pemimpin yang tidak menepati janji-janji yang telah dijanjikan semasa kampanye. Harap maklum, itu hanyalah perkataan yang tidak disengaja. Perkataan yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria janji yang harus ditepati. Lantaran pada saat itu, mereka sedang mengalami kefana’an, kemanunggalan bersama jabatan. Mereka itu sedang dalam tahap menuju tuhan yang disebut dengan fana’ ini. Jadi apa yang mereka ucapkan itu sebenarnya tidak ingin mereka sampaikan. Namun apalah daya, jikalau raga sedang tak genap, kehilangan jiwanya yang sedang menuju makrifat Tuhan. Tuhan mereka adalah jabatan yang menjanjikan ketentraman dunia dengan dalih mendapatkan surga dunia, yaitu uang.

Tinggalkan Komentar