Garuda yang Kian Terkubur

2 tahun yang lalu | dibaca sebanyak : 2638 kali

Seperti biasa setiap akhir pekan saya habiskan untuk meninggalkan gubuk tercinta. Bukan karena ada suatu urusan yang penting yang saya harus lakukan, tapi untuk me- refresh kembali diri saya yang penuh dengan kepenatan.  Saya menuju tempat yang sekiranya membawa kesan dan memuaska saya. Tujuan kali ini adalah pondok saya tercinta, Ummul Quro Al- Islami.

Jarak yang saya tempuh cukup panjang Cileungsi- Leuwiliang walau satu kota (Bogor),  waktu yang ditempuh bisa sampai 3 jam, hehehe... lumayan bikin saya lepek di jalan. Dan persiapan yang diperlukan pun tidaklah berlebihan, hanya sehelai baju untuk ganti dan buku serta pena yang siap jadi saksi perjalan saya.. Going to Adventure..

Seperti biasa, menunggu bus adalah hal yang wajib saya lakukan, entah itu memakan waktu bermenit- menit atau sampai berjam- jam sekalipun. Karena dari situ saya dapat cerita walau kenyataannya memang membosankan. Tiga puluh menit akhir’a bis yang di tunggu sampai di depan mata. Miris memang, bus yang saya kendarai keadaannya memprihatinkan. Seperti tidak ada tindakan dari pihak pemilik bus atau dinas transportasi dan lalulintas untuk renovasi kendaraan umum demi kenyamanan para penumpang.

Kali ini saya harus kebagian tempat paling pojok bagian belakang bus.  walau penuh sesak, tapi perlu disyukuri saya masih bisa memandang ke arah kaca pemandangan yang akan saya lewati nanti. Pemandangan Desa Cileungsi.

Belum beberapa mil bus berjalan dan meninggalkan Cileungsi, saya sudah mendapatkan sesuatu yang menarik. Pemadangan yang memprihatinkan, saya mendapati  bangunan tua yang  besar sudah tak layak pakai, akan tetapi penuh misteri. Hotel Graha Garuda Tiara Indonesia  namanya. Dari namanya saja kita mulai penasaran, “Garuda”? Apakah gedung ini seperti garuda?

 

Ternyata memang, hotel tua ini berbentuk seekor burung garuda jika dilihat dari atas. Dan ternyata gedung tersebut adalah milik Indonesia. Penasaran bukan? Mari kita simak kelanjutannya.

 

 

GGTI (Graha Garuda Tiara Indonesia) dibangun pada tahun 1995 untuk penginapan atlet SEA Games XIX pada Oktober 1997. Tepatnya pada Agustus 1995 proyek itu macet karena kehabisan dana. Padahal bangunan sudah mencapai 70 %. Bangunan pun terbengkalai selama 15 bulan. Dan ditaksir sudah puluhan Milyar uang negara terpakai.

Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut sebagai komisaris utamanya mencari cara. Singkat cerita (kepanjangan kalau diceritain..hehe..) akhirnya Jamsostek menempatkan deposito Rp 75 miliar di BTN dengan bunga 8,5 %.

Namun pembangunan GGTI tidak selesai juga. Sampai akhir 1998 GGTI tidak mampu melunasi kreditnya, sehingga macet. Dan pada 31 Maret 1999, seluruh posisi kredit atas nama GGTI di BTN Cabang Kuningan Jakarta, diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Padahal dulu sih tempat itu biasanya di pakai Mbak Tutut buat berakhir pekan. Atau buat acara Kirab[1] Remaja. Gedung ini juga jadi gedung yayasan Kirab Remaja Nasional pada waktu itu. 

Tempat ini juga sempat jadi tempat persembunyian Ekspatriat Saat Rusuh Mei '98. Beberapa tamu luar negeri dari Jepang dan Korea, serta beberapa pegawai instansi pemerintah pernah menginap di GGTI karena takut ke Jakarta. Matinya kemewahan Garuda Tiara ini terjadi pada Agustus 1998. Pembayaran listrik Rp 36 juta nunggak, jadi semuanya di-stop. Sempat pakai genset tapi enggak tahan lama.

Kompleks Garuda Tiara ini terdiri atas wisma A, B, C, D, dan E, yang merupakan bagian sayap dan masing-masing terdiri dari 3 lantai dengan total 456 kamar. 1 Kamar bisa diisi 4 orang itu untuk yang D dan E. Kalau yang A,B, dan C 1 kamar bisa diisi 8 orang.

Bagian dada dan kepala Garuda terdapat lobi dan ruang konvensi yang mampu menampung 3 ribu orang. Sedang di bagian ekor diperuntukkan bagi hotel. Total ada 196 kamar.
Ada juga lapangan parkir yang luas hingga menampung 100 bus, dan landasan helipad. Tidak hanya itu saja, kompleks olahraga juga tersedia. Ada 2 lapangan tenis, 2 lapangan basket, dan 2 lapangan volly. Ada juga 2 kolam renang.
Namun kini semuanya jauh berbeda. Setelah 14 tahun berlalu, ilalang dan terik matahari merusak semuanya. Taman-taman dan bangunan megah seolah sirna.

Hingga kini akhirnya tidak dimanfaatkan. Tak ada sedikit pun kepedulian dari pemerintah Kota Bogor sendiri untuk melestarikan atau menggunakan sebagaimana mestinya. Apa mungkin kurang dana juga. Hehehe... Sayang banget gak sih?? Semoga aja pemerintah membangun kembali bangunan ini. Keren bangetkan? Mirip Pentagon di Amerika.. 

Footnote : [1] kirab : perjalanan bersama-sama atau beriring-iring secara teratur dan berurutan dr muka ke belakang dl suatu rangkaian upacara (adat, keagamaan, dsb); pawai

Sumber Photo : Mbah Google

Cileungsi, 19 November 2012

Reported By : Agung Hardiansyah


About the Author

Agung Hardiansyah, Betapa kata- kata memiliki kekuatan yang luar BIASA. Kalau kita mampu menyusun kata- kata itu dengan indah. Bukan saja karya- karya yang luar biasa yang bisa kita buat. Tapi kita mampu membuat orang lain tergetar dengan apa yang kalian tulis dan kita katakan. ( Julian Baliya, film sang pemimpi)


Leave a Comment


Cara Nampilin Artikel santrinulis.com di Blog atau website pribadi

Read More »