Mubalig, Mikrofon, dan Lisannya

0
314
chandra malik
chandra malik budayawan sufi

Jakarta – Mubalig atau penceramah bukanlah pekerjaan berpenghasilan tetap, namun pengabdian berpenghasilan tetap. Apa hasilnya? Bukan amplop berisi bisyarah yang seringkali disisipkan panitia ketika bersalaman sebelum mubalig pamitan. Melainkan, kebahagiaan hadirin setelah mendengar betapa Allah Maha Baik dan Rahmat-Nya mendahului Murka-Nya.

Keagungan Rahmat Allah ini termaktub dalam Hadits Qudsi. Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, ‘Sesungguhnya Rahmat-Ku lebih mengalahkan Kemurkaan-Ku’.” (HR. Bukhari No. 7404 dan Muslim No. 2751).

Kebahagiaan itu melampaui segala upah materi duniawi. Lagipula, dalam urusan dakwah, setiap mubalig niscaya paham betul tentang “ayat 86”. Ayat apa itu? Q.S Shaad ayat 86 menegaskan, “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta upah sedikit pun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.”

Tapi, poin perbincangan kali ini bukan soal upah. Sila saja kalau panitia yang merasa perlu berterima kasih dengan memberikan bisyarah. Yang terang, mengutip dari Q.S Hud ayat 29, “….upahku hanya dari Allah.” Dan, upah yang saya garis bawahi adalah perasaan bahagia sudah dipercaya untuk turut membahagiakan umat, setidaknya jamaah pengajian atau majelis lainnya.

Tugas utama mubalig bukan mencaci, memaki, mengumpat, mengolok, apalagi memfitnah orang lain, meski berseberang pendapat. Pun bukan mengkafirkan orang lain. Terlebih sampai berani menghakimi sesama makhluk-Nya sebagai calon ahli neraka, janganlah, ya. Sebaiknya jangan. Sebab, kita sama-sama tidak tahu kelak bagaimana mengembus napas terakhir. Semoga husnul khatimah. Amin. Saling mendoakan saja, itu lebih baik rasanya.

Kita juga telah sama-sama mengetahui betapa Allah Maha Pengampun. Andai dosa manusia pertama hingga manusia terakhir dikumpulkan dan dimohonkan ampunan kepada-Nya, saya haqqul yaqin Dia takkan pernah kehabisan ampunan. Mari bersama ber-istighfar kepada Allah.

Siapa pun muslim, terutama pendakwah, selaiknya menyeru manusia kepada jalan Tuhan dengan hikmah, pelajaran yang baik. Dan, jika pun harus berbantah maka bantahlah dengan cara yang baik pula. Sebab, sebagaimana Q.S An Nahl ayat 125, sesungguhnya Tuhan sajalah yang lebih tahu siapa yang tersesat dan siapa yang mendapat petunjuk. Kita tak tahu.

Syukur-syukur jika mubalig tidak cuma fasih mengutip dalil dan menyampaikan pesan Ilahiah, namun juga memberikan teladan. Nah, ini yang benar-benar berat dan tidak main-main. Sebab, amat besar kebencian Allah pada orang yang (berani) mengatakan sesuatu padahal tidak atau belum pernah mengerjakannya sendiri (Q.S 61:3). Dibenci Allah, trus, bagaimana, coba? Na’udzu bi ‘l-laahi min dzalik.

Semoga Allah mengampuni kesalahan dan dosa kita, serta berkenan membimbing kita untuk lebih mawas diri sebelum berani-beraninya mendakwahi orang lain. Dan, semoga pula Allah senantiasa memberi petunjuk, kekuatan, dan pertolongan, serta perlindungan kepada para ulama, khususnya para mubalig. Amin.

Berat sekali memang pegang mikrofon, apalagi setelah kabelnya dicolokkan ke listrik, saklar diaktifkan, dan pelantang suara itu didekatkan ke mulut. Godaan untuk berbicara sulit ditahan. Keinginan untuk mematut-matutkan diri sebagai figur yang lebih tahu, bahkan paling tahu, di antara orang-orang lain yang tidak pegang mikrofon, sering cepat muncul.

Kita tidak perlu menghitung kecepatan suara sampai ke telinga jamaah di baris paling belakang. Sebab, sesungguhnya sebelum lisan berbicara, hati sudah lebih dulu berkata, terutama tentang mana yang baik dan buruk. Kita saja yang harus terus-menerus belajar menahan diri, menimbang pikiran dan perasaan, serta memilih kata sebelum diucapkan.

Pernah di sejumlah kesempatan, saya diminta kiai-kiai saya untuk memberi mauidhah hasanah. Saya takut betul. Rikuh dan serba salah rasanya berdiri di depan para masyayikh. Saya membatin, “Duh, jelas langsung ketahuan betapa bodoh aku.” Tapi, muncul rasa tenang pula. “Andai salah kata atau baca dalil, semoga beliau-beliau mengoreksiku.”

Sebab, saya pun percaya bahwa majelis ilmu adalah majelis saling belajar. Tidak ada yang lebih tahu di antara kita. Yang ada, yang lebih dulu tahu. Boleh jadi, hari ini Anda belajar dari saya. Tapi, bisa jadi besok saya belajar dari Anda. Bukankah kewajiban belajar melekat setiap waktu sejak kita dilahirkan hingga diwafatkan? Kita ini selama-lamanya murid, kok.

Akhirnya, untuk mengawali ceramah atas dhawuh kiai tersebut, saya yang gemetar berusaha melempar pertanyaan. “Siapa yang ingin masuk surga?” Tentu, tak ada yang ingin masuk neraka. Semua orang mengacung. Lalu, saya tanya lagi, “Siapa yang mau berangkat sekarang?” Lho, kok tidak ada yang mengangkat tangan? Tak ada yang tidak tertawa pada saat itu.

Setelah suasana cair, saya lanjut bicara. “Semoga kita semua husnul khatimah. Mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW. Diampuni dosa-dosa kita. Ditempatkan Allah di surga-Nya. Amin. Nah, sekarang tugas kita mengajak keluarga, saudara, sanak kerabat, tetangga, teman, bahkan siapa pun untuk masuk surga. Jangan malah mendoakan orang masuk neraka.”

Candra Malik budayawan sufi

Summary
Mubalig, Mikrofon, dan Lisannya
Article Name
Mubalig, Mikrofon, dan Lisannya
Description
Mubalig atau penceramah bukanlah pekerjaan berpenghasilan tetap, namun pengabdian berpenghasilan tetap. Apa hasilnya? Bukan amplop berisi bisyarah yang seringkali disisipkan panitia ketika bersalaman sebelum mubalig pamitan. Melainkan, kebahagiaan hadirin setelah mendengar betapa Allah Maha Baik dan Rahmat-Nya mendahului Murka-Nya.
Author
Publisher Name
Candra Malik
Publisher Logo

Tinggalkan Komentar