Alegoris Kehidupan

0
174

EPILOG

 

“Sudah! Jangan kamu pikirkan lagi laki-laki seperti itu! Jangan kamu tangisi lagi! Untuk apa? Lihat dia bahkan dengan rendahnya bikin status seperti itu untukmu, dan kamu masih bodoh meyakini bahwa dia yang terbaik untuk mu?” Murka Kak Fifah melihatku terus menangis. “Bahkan seseorang yang dulu kamu sebut sahabat sekarang ikut menghujat mu! Sudah cukup Aya! Nggak perlu lagi kamu mengingat Putra dalam otak mu dan nggak perlu lagi kamu menganggap Ara adalah sahabat di hidupmu! Jauhi dan jangan pernah kamu pikirkan mereka lagi! Untuk apa? Untuk melihat  wajah tanpa dosa Ara bilang ‘Gue sih males banget ya berteman dengan mantan. Nggak bakal mau gue ketemu mantan lagi. Ketemu? Hah langsung gue buang muka. Balikan? Ogah, kaya enggak ada manusia lain saja.’ Yang dibalas dengan Putra tertawa melihat sahabatmu menghina mu seperti itu. Hei bukankah Ara tahu bahwa kamu adalah mantannya Putra? Lalu mengapa dia justru mencemooh kamu seperti itu di media sosial? Kamu lihat dan dengar sendiri video yang sengaja Putra bikin untuk kamu! Sadar Ay, laki-laki yang baik tidak akan menjatuhkan orang lain terlebih seorang yang pernah dia cintai tetapi dengan begitu kamu bisa tahu betapa rendahnya laki-laki yang dulu pernah kamu banggakan di depan kakak, ayah dan almarhumah ibu, percaya sekali bahwa dia yang terbaik untuk kamu!” Seru Kak Afifah kepada ku yang menangis tepat di depannya.

“Tapi Aya nggak tahu kenapa Ara bisa melakukan seperti itu ke Aya padahal Ara dulu mendukung hubungan Aya dengan Putra. Tetapi kenapa sekarang Ara mengatakan hal yang menyakitkan itu ke Aya, Aya salah apa kak? Aya nggak mengerti, Aya nggak paham!” kataku yang terus menangis mendengar semua kenyataan pahit yang tidak pernah aku sangka.

“Kakak nggak tahu dan kita nggak akan pernah tahu alasan seseorang menyakiti kita. Tidak peduli dia sahabat ataupun kekasih. Kita tidak akan pernah tahu kebenaran hati seseorang bisa saja dia tersenyum memeluk kamu kala itu adalah sebuah kepalsuan― hanya topeng.”

Aku terdiam.

“Kakak tahu itu sangat menyakitkan, terlebih yang melakukan itu adalah sahabat mu dan orang yang pernah kamu cintai. Tidak salah kamu marah, murka dan membenci mereka tetapi dengarkan kakak sayang sudah cukup kamu memikirkan alasan mengapa mereka tega menyakiti kamu, sudah cukup kamu berharap dengan seorang laki-laki yang bahkan tidak layak untuk kamu harapkan dan sudah cukup kamu mengganggap Ara adalah sahabatmu, berharap dia kembali bermain dengan kamu seperti dulu. Semua sudah berubah, semua sudah berbeda, semua―” belum selesai Kak Afifah menasihatiku aku menanyakan sesuatu, pertanyaan yang selama ini membuatku berhenti dalam satu waktu, pertanyaan yang mengubah hidupku.

“Tetapi kenapa kak, kenapa Tuhan mempertemukan Aya dengan Ara?! mempertemukan Putra dalam kehidupan Aya?! Dan kenapa Ara dipertemukan dengan Putra?!  Semua yang telah Tuhan lakukan hanya membuat hati Aya sakit?! Katanya Tuhan sayang hambahnya tetapi kenapa Tuhan memberikan rasa sakit kepada hambahnya?! Kenapa Tuhan memberikan rasa sakit kepada Aya kak? Kenapa?” kataku dan terus menangis dihadapan Kak Afiifah.

Terlihat jelas Dila melihat ku dibalik pintu enggan untuk mengajak ku bermain― hanya memperhatikan.

“Istighfar Ay! Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui! Kamu tanya kenapa Tuhan mempertemukan kamu lebih dulu dengan Ara? Bermain bersama hingga menjadi sahabat tetapi akhirnya kamu tersakiti olehnya. Kamu tanya kenapa? Karena Tuhan ingin kamu belajar, bahwa bahkan seseorang yang kamu anggap sahabat belum tentu baik di hadapan kamu pun belum tentu baik dibelakang kamu. Segalanya tidak memberikan jaminan mereka yang baik dihadapan kamu akan baik dibelakang mu, ini nasihat bukan menyuruhmu untuk berfikir negatif kepada setiap orang. Bukan, bukan itu maksud nasihat ini Ay, tetapi nasihat ini mengajarkan bahwa kamu harus belajar untuk terus berhati-hati dan menjaga agar tidak memberitahukan isi perut kamu kepada orang yang kamu percayai terlebih kalau persahabatan kamu itu tidak melibatkan Allah, tidak membantu kamu ke jalan yang benar hanya memikirkan dunia saja tidak saling membantu prihal akhirat. Ay sahabat yang baik pasti akan menjadikan mu pribadi lebih baik dan menasihatimu ketika berbuat salah. Persahabatan yang melibatkan Allah akan selalu saling menasihati dengan cara yang bijak. Ah jangan lihat seseorang dari masa lalunya, bahkan seseorang yang pernah memerangi Allah pun di akhir hidupnya menjadi pedangnya Allah? Jadi jaga selalu isi perut mu agar suatu saat nanti kamu tidak akan menyesal untuk kesekian kali.” jawab Kak Afifah membenarkan duduknya.

Aku membisu.

“Kenapa kamu bertemu dengan Putra? Ah prihal ini sangat menarik untuk dibahas, sudah sangat lama kakak-kakak mu meminta kakak untuk menasihati kamu, bukan hanya kami sebagai kakakmu saja bahkan ibu juga pernah meminta kakak menasihati kamu Aya. Ay, apa kamu sadar semenjak kamu dengan Putra kamu semakin jauh dari segalanya? Jauh dari orang tua, saudara perempuan kamu bahkan jauh dari Tuhan kamu, kamu telah telalu jauh dari Allah Ay. Ah bukan semenjak kamu dengan Putra saja kok, semenjak kamu masuk SMA hingga kuliah kamu terlalu jauh dengan Tuhan dan orang-orang yang mencintai kamu entah apa pasalnya tetapi memang demikian yang kami rasakan― kamu lebih sering bermain dan bersenang-senang dengan teman-teman mu juga dengan Putra. Tidak, tidak salah hanya saja kamu terlalu melebih-lebihkan porsi itu. Nah Aya kenapa Tuhan mempertemukan kamu dengan Putra jikalau akhirnya perpisahan yang Dia pilih? Tuhan memisahkan kamu dengan Putra karena Putra adalah seseorang yang Allah titipkan dalam perjalanan hidupmu untuk membuat mu kembali, kembali pulang ke jalan yang selama ini kamu tinggalkan, kembali pulang ke jalan yang telah diperintahkan, Tuhan memakainya untuk menyadarkan mu agar segera pulang. Lalu kenapa Tuhan mempertemukan kamu dengan Putra jikalau perpisahan adalah akhirnya? Karena Allah ingin kamu merasakan pahitnya mencintai seseorang yang belum layak kamu cintai, menjalin hubungan bersama seseorang yang tanpa ada Allah di hubungan itu. Bukankah itu sangat menyakitkan? Berharap kepada manusia, sangat menyakitkan, bukan?” Jelas Kak Afifah yang emosinya semakin setabil.

Aku tertegun.

“Dan terakhir kenapa Tuhan mempertemukan Ara dengan Putra? Perihal ini kakak tidak bisa menjawab bukan karena malas untuk menjawab itu tetapi sesungguhnya hanya Allah yang mengetahui mengapa mereka dipertemukan. Kedua orang yang pernah hadir dalam hidup mu di masa silam dipertemukan begitu saja, bagaimana kakak akan mengetahui  semua itu jikalau sejatinya rahasia Allah itu sangatlah luas, otak kita memiliki keterbatasan untuk mengukur RahmatNya. Mungkin saja dengan cara mengenal mu lebih dulu dan lalu kemudian mereka bertemu adalah cara Tuhan menjodohkan mereka berdua, siapa tahu?”

Aku tercekik.

“Hahaha tidak ada yang salah dari cinta Aya, dia bisa saja tumbuh dengan cepat atau lambat kepada siapa saja dan kapan saja. Jadi jangan menyalahkan salah seorang dari mereka jika salah seorang dari mereka― Putra atau Ara pun mungkin keduanya, suatu saat nanti pada akhirnya mereka jatuh cinta. Karena mereka juga tidak akan bisa menghindari semua itu, pun sama seperti dirimu di masa lalu. Bukankah dulu kamu juga demikian, tidak bisa menghindari perasaan cinta mu terhadap Putra? Tidak bisa, tak peduli Putra adalah  seseorang yang dulu sempat dicintai Nara, perasaan itu― cinta itu terus tumbuh dan semakin lama semakin mekar hingga sulit untuk di musnahkan, karena cinta adalah fitrah yang diberikan Tuhan pada setiap hati manusia.” Jelas Kak Afifah setelah melihat wajah terkejut ku.

“Lalu siapa Kak yang salah? Siapa yang harusnya disalahan dalam perihal ini? Aya hanya tidak menyangka seorang yang Aya anggap sebagai sahabat melukai Aya seperti itu.” Kata ku menangis.

“Kamu dan juga Ara yang salah. Kamu salah karena kamu selama ini menganggap jika manusia tidak akan pernah mungkin melakukan kesalahan sehingga ketika kamu tersakiti oleh seseorang, kamu merasa seperti seseorang yang paling menderita. Juga dengan Ara, dia salah karena telah melakukan itu kepadamu― menghina mu, dan dia juga terlalu ikut campur akan permasalahan mu dengan Putra― terlalu jauh dia masuk kedalam percintaan kalian.”

Aku diam, Kak Afifah benar.

“Atau mungkin bisa jadi pembalasan atas rasa sakit yang Putra berikan kepada kamu dan juga Nara akan Putra terima melalui pertemuannya dengan Ara, siapa tahu? Sungguh tidak ada yang tahu rahasia langit untuk kamu, untuk kita. Tetapi terlepas dari semua itu, untuk apa kamu mencari tahu? Biarkan, biarkan saja Tuhan sendiri yang menjelaskan semuanya, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan itu untuk mu, kamu hanya perlu percaya kepadaNya bahwa selalu ada alasan mengapa Tuhan mempertemukan dan memisahkan seseorang dalam hidup kita, selalu ada hadiah dibalik kesedihan dan ada rahasia dibalik tangismu hari ini. Selalu ada pelangi setelah hujan walau ketika senja sekali pun.” Jelas Kak Afifah seraya meninggalkan ku dipojok kamar, membiarkan ku memikirkan banyak hal seorang diri.

Aku menangis memeluk lutut mencoba untuk membesarkan hati yang terluka oleh cinta yang semu.

Cinta pertama ku.

Ah mungkin hari ini aku masih tertatih melewati jalan setapak di masa lalu, rasa sakit itu masih basah dan segalanya tentang dia pun masih tertinggal disana. Pecahan kaca, tumpukkan paku dan sebilah pisau tajam telah dia tanamkan ketika dia pergi keluar dari kenangan, sengaja dia tinggalkan segala luka dan sisa penghianatan agar aku tak mampu melewatinya. Tetapi sungguh tak mengapa, aku tidak menyalahkan dia pun aku tidak membenci kehadiran sahabatku bersama dia yang entah sejak kapan mereka bersama. Sebab Kak Afifah benar, Tuhan menitipkan dia atas hadirnya di hidupku entah untuk mewarnai jejak ku atau untuk ku warnai jejaknya. Pun Kak Afifah benar, bahwa Tuhan mempertemukan ku dengannya atau Tuhan mempertemukan dia dengan sahabatku karena sebuah alasan.

Jikalau aku masih belum bisa melewati masa lalu yang menyakitkan itu hari ini maka akan ku lompati masa lalu itu walau dengan air mata di pipiku. Bukan untuk menghindari rasa sakit itu, aku hanya membiarkan Tuhan yang mengobati rasa sakit itu untukku dan aku akan mempercayaiNya, bahwa Tuhan telah menuliskan takdir terbaik untuk hidupku.Dan setidaknya kepercayaan ku terhadapNya menenangkan ku hari ini, untuk memaafkan dia cinta pertama ku dan teruntuk dia sahabat pertama ku.

Karena sungguh hidup ini bagaikan bianglala di taman hiburan, rasa sakit ini akan ku begitu saja walau nanti akan mengusik ku disetiap malam tetapi biarlah. Biarlah Tuhan yang akan membantuku melewati itu semua itu dengan baik hingga aku dapat tersenyum melihat mereka sekali lagi dengan hati yang lapang.

Melihat mereka, cinta pertama ku yang kini bersama dengan sahabat pertama ku.

♥♥♥

Tinggalkan Komentar