Alegoris Kehidupan

0
39

BAB 8 – ALEGORIS KEHIDUPAN

 

Okestra malam telah lama di mulai, suara riuh kumpulan tikus loteng di plafon kamar dengan detak jantung jam dinding pengiring nada sumbang. Suara petir mendayu-dayu dengan rintik hujan pengantar rindu. Jalan aspal yang tadi mengering basah oleh tangisan langit. Bintang gemintang berterbaran dilangit malam, aku berdiri dibalik jendela menatap rembulan yang menampakkan diri malu-malu, setelah dengan asik mengusir senja pergi, sudah saatnya ia pamer pada dunia, katanya.

Senja sebelum pergi bilang padaku ‘selamat datang dan selamat terlahir kembali’. Tadi aku tidak banyak bercerita pada senja, kami lebih banyak berdiam saling menatap, waktunya habis. Ah, aku baru paham ucapan senja padaku kemarin ’aku indah karena langit membuat ku indah.’, bahwa sejatinya setiap orang yang hadir dalam hidup kita, tidak peduli mereka membawa sebungkus kebahagiaan atau pun sekantong penuh kesedihan, merka akan tetap membuat kita menjadi lebih indah. Sebab Tuhan mengizinkan mereka hadir dalam hidup kita untuk mewarnai setiap langkah yang kita lewati atau jika Tuhan memberikan kesempatan untuk kita mewarnai setiap langkah yang mereka jalani. Senja indah karena langit membiarkan dirinya diwarnai oleh senja, karena sejatinya langit hanya memiliki satu warna, biru, tetapi ia mengizinkan senja mewarnainya dengan berbagai warna hingga menghasilkan warna indah untuk para penikmatnya di bumi yang hampir punah.

Balkon depan kamar sepi, hanya seekor kucing liar meraung yang entah menginginkan apa. Jalan depan pun telah lama senyap, hanya segelintir orang yang masih berlalu lalang lupa bahwa hari sudah lewat tengah malam. Sang angin menghapus sebutir air mata yang memaksa keluar, menenangkan ku dengan sebuah pelukkan yang sedingin es batu di toko kelontong ujung gang.

Pukul 01.00 dini hari, aku dibalik jendela lagi hari ini, memikirkan banyak hal tentang hidup yang penuh dengan sebuah kiasan.

Alegoris kehidupan.

Bagaikan musafir yang hampir mati mencari sebuah oasis ditengah gunung sahara. Entah memang nyata atau hanya sebuah delusi saat roh dicabut dari raga. Mencari, cari, dan terus mencari. Tiada lelah diri mencari nikmat tanpa kepastian. Abai jikalau waktu tidak selamanya menanti, lupa jikalau maut akan terus mengikuti.

Alegoris kehidupan.

Bagaikan seorang yang dehidrasi menikmati sebongkah es dengan segelas jus jeruk di siang yang menusuk tubuh. Nikmat. Memenuhi dahaga yang sedari tadi telah mencekik kerongkongan. Terus menginginkannya lagi, lagi dan lagi. Abai jika tubuh tak selamanya menerima, lupa jikalau diri tak sejatinya berpijak.

Alegoris kehidupan.

Bagaikan seonggok daging yang dibakar diatas tumpukkan sampah. Lezat. Memuaskan perut yang telah lama kosong. Digigit dan dikunyah dengan nafsu yang menyelimuti diri. Menyantapnya lagi, lagi dan lagi tanpa tersisa. Abai jika daging telah teramat kotor untuk dimakan, lupa jikalau daging dibakar di atas tumpukkan sampah yang menjijikkan.

Alegoris kehidupan.

Bagaikan seorang yang menderita penyakit kulit. Sebuah penyakit yang menyelimuti setiap jengkal tubuhnya. Membuat jarinya terus, terus dan terus menggaruk tubuh yang penuh dengan luka. Nikmat. Puas. Abai jika kuku jari itu terus melukai tubuh tanpa ampun, lupa jikalau tubuh semakin penuh dengan luka dan darah.

Kini aku telah tahu kemana aku harus pulang. Sebuah perjalanan mengenang masa lalu kemarin malam berhasil membuatku tersadar akan makna dalam hidupku, menyadarkan ku atas tujuan Tuhan memberiku hidup hingga hari ini, memberikan ku kebahagiaan serta kesedihan di sepanjang perjalanan, dan sebuah tujuan mengambil banyak atas hidupku hingga malam ini.

Pukul 02.00 dini hari aku masih dibalik jendela termangu mencari rembulan yang tertutup awan dan hanya ditemani detak jantung jam dinding yang semakin riuh menyuruhku tertidur lebih awal.

Aku percaya setiap manusia pasti selalu ingin pulang kepadaNya, taat akan perintahNya, percaya akan janji-janjiNya, mencintaiNya lebih dulu daripada mencintai makhlukNya dan juga lebih peduli akan hidup setelah mati― mengumpulkan bekal perjalanan. Tetapi hanya saja kita sebagai manusia sering kali merasa takut untuk mengambil keputusan itu, takut kalau kita akan merasa asing dan terasingkan, takut kalau teman-teman yang dulu bersama memutuskan untuk menjauhkan, takut kalau mereka disekitar kita menghakimi atas keputusan yang berbeda dari sebuah buku pedoman hidup mereka.

Iya terkadang kita takut mengambil keputusan untuk kembali pulang hanya karena ingin berada dijalan yang sama seperti orang kebanyakan. Sebuah jalan yang mungkin terlihat indah sejauh mata memandang, sebuah jalan yang menggiurkan untuk di nikmati bersama teman-teman, sebuah jalan yang penuh kenikmatan semu, sebuah jalan yang penuh dengan kebohongan dan kebodohan.

Alegoris kehidupan.

Aku menangis dipojok kamar dengan gorden terbuka lebar. Nyanyian sang hujan menyadarkan ku akan satu hal, suatu alasan yang menjadikan ku untuk terus tetap melanjutkan hidup, terus berjalan tak peduli seberapa panjang perjalanan atau seberapa banyak rintangan yang menghadang pun seberapa sering aku terjatuh dan terluka nanti, aku akan terus berjalan dengan meninggalkan jejak baik untuk masa depan hingga sampai di ujung waktu aku dapat bertemu dengan seseorang yang aku rindukan dan memberikan piagam dan pialang untuknya. Teruntuk dia, untuk ibuku tersayang.

Aku semakin erat memeluk lutut, seketika mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.

Apakah aku membenci Ara atas rasa sakit yang telah dia diberikan? Membenci Putra atas segala pengkhianatannya kepadaku selama ini?

Penghinaan? Kebohongan?

Ah sungguh aku tidak membenci perlakuan Ara terhadapku, bukankah aku dulu juga sama dengannya? Jadi jika aku membenci dirinya atas perlakuannya terhadap ku, itu berarti aku membenci diriku sendiri, bukan? Entahlah sungguh sulit untuk ku jelaskan bagaimana perasaanku saat ini. Apakah aku marah? Tentu! Munafik sekali jika aku tidak marah terhadap mereka yang tega menyakitiku hanya saja aku tahu bahwa semua yang terjadi dalam hidupku hari ini tidak lain atas seizinNya sehingga aku kini telah bisa memaafkan mereka.

Aku juga berhak untuk bahagia, bukan? Terlebih ada rasa lega yang aku dapatkan atas masalah yang menimpa ku ini― rasa sakit ini membuatku lebih tenang menjalani hidup ku yang baru.

Tenang?

Iya setidaknya Tuhan membalas kesalahan yang telah ku perbuat dulu kepada sahabatku di dunia, sungguh tidak terbayang bagiku jika aku mendapatkannya di akhirat. Akan seberapa sakitkah aku nanti?

Ah hidup ini adalah sebab-akibat bukan? Seperti lima tahun lalu aku menyakiti Nara dengan merebut  Putra darinya hingga akhirnya hari ini Tuhan memberikan ku kesempatan agar aku dapat merasakan perasaan Nara lima tahun silam, rasa sakit dikhianati oleh seorang sahabat.

Sang angin mengetuk kaca kamar tidurku, menyuruhku untuk segera tertidur dan beristirahat.

Sebuah perjalanan mengenang masa lalu telah sampai diujung waktu.

“Sebentar lagi, aku ingin mengulang semua itu sekali lagi. Sebuah alasan mengapa Tuhan mempertemukan ku dengan dia, cinta pertama ku. Semua itu Tuhan lakukan hanya untuk membuatku  sadar bahwa sudah saatnya aku untuk pulang.” Kataku menatap rembulan yang kini menemani sisa perjalananku.

Sebuah perjalanan mengenang masa lalu yang sudah diujung waktu.

♥♥♥

Tinggalkan Komentar