Alegoris Kehidupan

0
163

BAB 6 – TOPENG YANG RETAK

 

“Kak Aya takut, Aya takut karena sudah mengecewakan ibu.” Kata ku menangis memeluk Kak Anit.

“Kamu nggak mengecewakan ibu Ay.” Kata Kak Anit membesarkan hatiku.

“Aya sudah mengecewakan Ibu Kak! Aya sudah mengecewakan ibu, hasil IPS Aya di semester kemarin turun drastis, IPK Aya juga turun. Aya.. Aya sudah mengecewakan ibu Kak.”

“Tidak Aya, itu tidak benar. Tidak perlu kamu pikirkan dengan mencuci nilai, IPK kamu pun nanti akan naik―”

“Tetapi Aya masih belum bisa membahagiakan ibu kak. Aya sudah mengecewakan ibu, Aya hanya membuat ibu malu dan kecewa karena Aya tidak bisa seperti Dewi. Aya tidak bisa menjadi yang ibu harapkan―”

“Itu tidak benar Aya, yang kamu sangkaan tidak benar―”

“Ibu sendiri Kak yang bilang, Kakak juga dengarkan? Ibu sendiri yang bilang, kalau Aya hanya membuat ibu kecewa kalau Aya―”

“Ay, semua yang ibu katakan tidak benar. Maksud kakak, yang ibu katakan bukan seperti yang kamu pikirkan, Ay apa yang ibu ucapkan kepadamu adalah caranya untuk membuat mu jauh lebih semangat dalam mengejar cita-cita mu, agar kamu memberikan seluruh tenaga yang kamu miliki untuk melakukan yang terbaik dalam menuntut ilmu dan juga meraih semua mimpi-mimpi mu bukan dengan pacaran atau bersenang-senang.”

“Tapi kak―” seru aku melepas pelukannya, membantah semua omong kosong Kak Anit kepadaku.

“Percaya sama kakak, setiap ucapan orang tua yang terkesan seperti merendahkan atau pernyataan bahwa mereka kecewa adalah sesungguhnya mereka sedang memotivasi untuk lebih bersemangat dalam melakukan sesuatu, mereka hanya ingin kita bersungguh-sungguh untuk melakukan yang kita yakini, mengingatkan kita bahwa mereka sedang menunggu hasil terbaik untuk kita berikan kepada mereka suatu saat nanti. Ingat, segala perkataan yang mungkin saja menyakiti mu adalah bentuk kasih sayang mereka terhadap mu― mereka tidak menginginkan kamu berputus asa.” Jelas Kak Anit tersenyum kepadaku.

Malam itu aku memeluk segala luka yang telah digoreskan oleh ibu, sebuah luka yang membuatku semakin mengerti tujuan hidupku. Sebuah luka yang akan mengubah hidupku hari ini dan juga nanti.

♥♥♥

 

Alarm ku berbunyi lebih nyaring dari suara ayam jantan didepan rumah. Sang surya datang lebih awal dari biasanya, mungkin ia sedang jatuh cinta? Entahlah. Pukul 05.00 pagi Ayah meneriaki ku untuk salat subuh dan menyuruh ku untuk bergegas kuliah. Hari ini aku lebih bahagia dari sebelumnya mungkin karena kejadian dua minggu yang lalu. Dua minggu yang lalu, tepatnya hari sabtu pukul 15.00 sore aku bertemu dengannya di taman kota dan  dia untuk sekian kali berhasil membuatku kembali lagi padanya.

Dia datang kepada ku dengan menangis seraya berjanji padaku untuk tidak menghilang lagi dikala aku membutuhkannya. Dia tahu bahwa tangisannya selalu saja dapat meluluhkan ku, hingga dia selalu menggunakan air matanya untuk membujukku. Sungguh bagiku hal tersulit adalah melihatnya menangis juga terluka, aku tidak bisa melihatnya berputus asa walaupun aku juga tidak dapat berdiri diatas kaki ku sendiri. Aku juga masih terluka karena kejadian waktu itu tetapi entah mengapa selalu ada alasan untuk ku kembali lagi bersamanya. Apakah itu yang di namakan cinta? Entahlah aku tidak mengerti hanya saja yang ku tahu jika dia tersakiti aku selalu merasa lebih terluka.

Seperti hari kemarin, dia mengatakan sesuatu yang membuat benciku sirna seketika, memberikan kekuatan untukku memulai lagi, membuatku memaafkannya sekali lagi. Hari itu di taman kota dia berkata, “Aku sungguh mencintaimu. Maaf aku telah pergi dikala kamu membutuhkan ku, dikala kamu kehilangan ibu mu. Maaf waktu itu aku hanya menjadi tamu di pemakaman tidak seperti yang kamu harapkan, menjadi seorang kekasih yang menghibur dan menenangkan mu disaat kamu membutuhkan tangan untuk melewati sesaknya hari tanpa seorang ibu. Maafkan aku dan aku sungguh sangat mencintai mu,  aku hanya ingin kamu.”

Suara klakson membuyarkan lamunan ku dengan senyum khasnya dia memberikan helm yang dia bawa untukku pakai dan menyuruhku segera duduk diatas motor biru kesayangannya. Dia datang menjemputku, Putra datang menjemputku seperti biasa.

“Kamu lamunin apa sih? Di panggil daritadi kok nggak dengar?” Tanya Putra kepadaku.

“Nggak lamunin apa-apa. Kamu sudah makan belum? Aku beli roti nih, kamu mau makan sendiri atau ku suapin?” Jawabku sambil memberikan sepotong roti kepadanya.

“Suapin lah aku kan lagi bawa motor susah tahu.”Dengan nada manja seperti biasa dan aku menyuapi dia.

Setelah kemarin kami mengulang kembali cinta yang sudah lama terjalin, dia mengajak ku pergi ke Kebun Binatang Kota─ ingin membuatku bahagia, katanya. Dengan motor kesayangannya kami pergi dengan suka cita, mengobrol banyak hal dengannya berhasil membuat ku bahagia. Bagiku dia adalah seorang kakak laki-laki untukku, sahabatku, dan juga musuhku. Aku selalu nyaman bersamanya walaupun dari awal kami menjalin cinta, orang tua ku selalu saja menentang ku untuk bersamanya tetapi aku masih percaya bahwa dia yang terbaik untuk ku.

Dari dulu hingga hari ini aku selalu mencuri waktu hanya untuk bersamanya dan tega berbohong kepada orang tua ku kala mereka bertanya. Seperti hari ini, aku harus berbohong pada ayah agar bisa pergi dengannya entahlah sudah berapa kali aku berbohong pada orang tua ku hanya untuk bersamanya.

“Akhirnya sampai juga.” Kata ku menghapus peluh dipelipis.

“Maaf ya sayang seandainya aku sudah bisa menyetir mobil  kamu nggak perlu panas-panasan dan nggak pegal seperti ini.” Jawab Putra memijat kepala ku.

“Nggak papa sayangku naik motor juga enak jadi nggak terjebak macet.”

“Iya sayang, ayo kita cari kamu.” Seru Putra merangkul ku memasuki Kebun Binatang Kota.

“Cari aku?” tanyaku heran.

“Iya cari kamu, gajah kan kaya kamu gendut.” Kata Putra seraya jail menyubit pipiku.

“Dih nyeselin tapi nggak papa kalau kamu anggap aku seperti gajah daripada kamu ku anggap seperti monyet.”

“Hahaha dasar mentang-mentang kamu cantik dan aku jelek akunya selalu dikatain mulu.”

“Aku berkata sesuai dengan kenyataan kalau aku bilang kamu ganteng berarti aku bohong. Memangnya kamu mau kalau aku bohong?” goda ku seraya tertawa.

Siang ini hanya berawan tidak panas juga tidak hujan pohon rindang semakin membuat siang ini terasa sejuk, kicauan burung pipit menemani kami yang sedang makan siang.

“Untung aku beli makanan dulu sebelum kesini. Tadi aku tanya harga nasi bungkus mahal banget dan nggak sesuai dengan porsi yang sangat sedikit.”

“Memangnya sebungkus berapa sayang?”

“Satu bungkus nasi pakai telor dadar saja lima belas ribu bagaimana pakai ayam goreng. Nggak yakin kalau kamu bisa kenyang.” Kata ku melahap  fried chicken yang tadi sempat kami beli di salah satu restauran fast food.

“Hahaha kamu kali yang nggak kenyang. Tapi kamu kan memang selalu begitu, menyiapkan segalanya dengan sangat baik. Memang calon istri aku yang terbaik.” Goda Putra kepadaku.

“Iyalah jangan buang-buang uang terus kita juga harus nabung buat modal nikah hahaha”

“Iya nanti kalau aku lulus kuliah dan kerja aku langsung nikahin kamu.”

“Hahaha memangnya kenapa langsung nikahin aku?”

“Wanita seperti kamu kan sudah jarang, nanti kalau nggak disegerakan kamu diambil orang.”

“Memangnya kenapa kalau diambil orang?”

“Kamu pakai nanya lagi, sudah habisi dulu makanannya setelah itu kita salat.”

“Iya sayang.”

Aku selalu menyukai dirinya yang penuh dengan kecemburuan karena dengan itu aku tahu bahwa dia mencintaiku. Tetapi entahlah dia mungkin tidak menyukai diriku yang penuh dengan kecemburuan mungkin sebab itu selama aku pacaran dengannya aku tidak pernah di perkenalkan ke teman-temannya, baik teman pria ataupun teman wanitanya, tidak seorang pun selama tiga tahun aku bersamanya. Tetapi bagiku tidak ada alasan untukku menutupi apapun darinya, aku selalu memperkenalkan semua teman-temanku baik teman wanita maupun teman pria kepadanya tidak peduli dia bertanya atau tidak aku selalu memberitahunya.

“Sudah salatnya sayang?” Tanya Putra melihat ku keluar dari mushola wanita.

“Sudah. Ayo kita  makan kue coklat, Kak Afifah kemarin bikin kue banyak banget sampai enggak habis-habis.”

“Iya sayang.”

“Kamu mau?” Aku menawari sepotong kue coklat padanya.

“Enggak ah gigi aku sakit makan coklat terus sama kamu. Kamu makan  kuenya duduk jangan berdiri.” Kata Putra  menarik lenganku untuk duduk disampingnya.

“Iya bawel.”

“Hahaha. Sayang kemarin ibu bilang gini sama aku ‘Aya sayang banget ya sama kamu, dia sampai bela-belain merayakan ulang tahun kamu dengan meriah pakai balon-balon, tulisan happy birthday dan donut sebagai kue dengan berbagai bentuk dino. Ibu heran kenapa Aya sayang banget sama kamu’ masa ibu heran kenapa kamu sayang sama aku padahal jelas-jelas karena aku ganteng ya makanya kamu sayang.”

“Hahaha ibu kamu saja heran apalagi aku?”

“Dih masa kamu juga bingung dengan perasaan kamu sendiri.”

“Hahaha serius aku bingung.”

“Sayang aku serius nih, memangnya kenapa kamu bisa sayang sama aku?”

“Iya aku sayang kamu karena itu kamu bukan orang lain.”

“Gitu saja?”

“Iya apalagi?”

“Kamu nggak romantis ah.” Kata Putra dengan wajah sedikit kecewa.

Aku tertawa.

“Sayang, liat deh disana ada gorila, itu disemak-semak kamu kelihatan nggak?”

“Mana nggak kelihatan.”

“Itu sayang sini lebih dekat kamunya.”

“Dimana sih?”

”Itu!” Seru ku dan seraya membuat wajahnya berlumuran kue coklat yang tidak habis ku makan.

Aku tertawa.

Hari itu tidak hujan hanya berawan. Hari itu pun tidak mewah hanya pergi ke tempat yang murah. Tetapi hari itu istimewa untuk kami yang sempat kehilangan satu sama lain, sempat merasa sedih sebab rindu tak berjumpa. Perpisahan mungkin sesuatu yang sering terjadi dihubungan kami tetapi tetap saja perpisahan berhasil membuat kami menangis.

Di hubungan kami selalu ada kata putus ketika kami lelah untuk berdebat, bukan dia yang memutuskan, hanya aku.

Aku adalah wanita yang memiliki tingkat kecemburuan yang tinggi dan dia bukanlah pria yang pandai memberikan penjelasan. Semua ini bermula saat hubungan kami berjalan tiga bulan, dia menghilang begitu saja tanpa kabar dan alasan. Ribuan kali aku telepon, mengirim pesan singkat dan Chatting pun tiada jawaban hingga dua minggu lamanya dia membalas pesan ku yang sudah aku kirim ribuan kali. Dia dengan gampangnya meminta maaf kepada ku karena sudah menghilang begitu saja tanpa perlu memberikan penjelasan kepadaku dan ketika aku bertanya alasannya dia menghardik ku, membuat ku bungkam dan enggan untuk bertanya lagi.

Tetapi Tuhan tidak pernah tidur, bukan? Ia selalu menunjukkan kuasaNya atas segala yang ada di langit maupun di bumi tiada yang luput dari pengawasannya. Jelang beberapa bulan setelah pertanyaan yang tidak ada jawaban darinya, akhirnya Tuhan memberikan langsung jawaban atas pertanyaan yang ingin aku dengar darinya. Kala itu aku yang tidak pernah mengecek akun sosialnya tanpa sengaja aku membuka akun sosialnya dan aku pun menemukan jawaban itu.  Sebuah kenyataan bahwa dia selama ini sedang dekat dengan teman SMA nya, Dinar.  Aku yang mengetahui itu memintanya untuk segera bertemu di Taman Kota.

Masih segar di ingatan ku wajahnya terkejut, malu dan kacau hanya mengatakan bahwa Dinar hanyalah seorang teman. Aku kala itu merasa dibohongi karena jika memang hanya seorang teman mengapa dia tidak memberi tahu apapun kepada ku? Kemarahan yang melanda diriku memaksaku menyuruhnya untuk menghapus pertemanan mereka di akun sosialnya dan seperti biasa dia menampakkan wajah sedih berjanji untuk melakukan yang aku pinta.

Tetapi Tuhan memang tidak pernah tidur, Dia menunjukkan kuasaNya sekali lagi, Dia menunjukkan bahwa seseorang yang aku percayai atas janji yang telah ia ucapkan yang kenyataannya hanya dibibir saja. Dia memang melakukan apa yang aku pinta, menghapus pertemanan mereka di akun sosial pribadinya tetapi setelah itu dia berteman kembali di akun lain miliknya.

Ah aku masih ingat mention mereka saat itu, dia bilang,“Dinar ini gue Putra, followback akun gue yang ini ya dan sorry gue unfollow twitter lo, itu cewek gue yang unfollow, kita lanjut chatting di akun ini saja ya.”

Aku kala itu merasa dicampakkan, merasa sakit untuk berkali-kali lipat. Sungguh sulit untuk mengungkapkan rasa sakit ku kepadanya hanya air mata yang dapat berbicara kala itu. Tetapi dia selalu bisa membuatku memaafkannya, membuatku luluh untuk sekian kali, membuat ku kembali dengannya lagi. Entahlah aku pun tidak mengerti, mungkin memang benar cinta itu buta.

Buta dan bodoh.

Tetapi kehidupan adalah sebab akibat, bukan?  Apa yang kita tanam maka itu yang akan kita tuai. Dua tahun kami menjalin hubungan aku tergoda oleh salah satu teman kursus ku, Ifan. Aku bertemu dengannya ketika aku sedang belajar di Pare – Kediri, kampung English. Awalnya sahabatku Nandya mengatakan kepadaku bahwa Ifan menyukaiku karena gelagat aneh setiap kali didepan ku dan Ifan sering tertangkap basah melihat ke arah ku, membuat Nandya mengambil kesimpulan seperti itu. Hingga suatu ketika Ifan meminta pin BBM ku kepada Nandya dengan alasan ingin mengenalku lebih dekat dan semenjak hari itu kami pun sering bertukar kabar dan saling menceritakan tentang diri masing-masing. Dua minggu aku dekat dengannya  kami akhirnya dipertemukan lagi sebagai panitia dalam acara gathering tempat kursus kami yang diadakan di kota Sentul – Bogor. Selepas acara gathering  kami para panitia mengadakan acara lain yaitu menginap dua hari satu malam di Villa daerah Puncak. Para panitia pun datang ke rumah kami─ Aku dan Nandya, meminta ijin kepada kedua orang tua kami untuk mengajak kami menginap di Villa dan orang tua kami pun mengizinkannya.

Disana Ifan semakin mendekatiku bahkan semua panitia menyangka bahwa kami telah berpacaran, Ifan yang lebih tua dari ku satu tahun sering memberiku nasihat, Ifan juga mengajari ku memasak, memberiku beberapa buku, sehelai kain dari kota kelahirannya dan juga jaket kesayangannya yang diberikan kepadaku. Aku masih ingat kala itu rembulan terbit lebih indah dari biasanya dan Ifan mengatakan sesuatu yang belum pernah aku dengar dari bibir seseorang yang aku cintai, Putra.

“Aya, kamu bersedia membantu ku?” Tanya Ifan kala itu

“Bantu apa kak?”

“Aku ingin keluar dari masa lalu yang kelam, aku ingin menjadi lebih baik lagi. Kamu mau membantu ku? Membantu ku untuk keluar dari masa lalu itu dan menemukan hidup ku yang baru. Aku ingin menikah dengan kamu, apa kamu bersedia?”

Aku kala itu masih berumur 18 tahun  sangat kaget mendengar perkataannya, aku memang sering berbincang prihal pernikahan dengan Putra tetapi hanya gurauan semata jikalau tidak ada topik lagi untuk kami berbincangkan. Dengan mendengar langsung dari bibir seseorang yang tidak aku cintai  membuat ku sulit menjawabnya hanya tatapan yang penuh keraguan menjadi jawaban tanpa jawaban. Kami masih sering bertukar kabar selepas acara gathering dan menginap,  Ifan juga cukup dekat dengan almarhumah ibuku yang hingga hari ini aku tidak tahu darimana ia mendapatkan pin BBM ibu ku,  yang ku tahu Ifan hanya sering berbincang dengan ibuku bahkan di lain kesempatan Ifan pernah meminta doa dari ibu sebelum ia melakukan tes penerbangan.

Namun sepandai-pandainya tupai melompat ia akan terjatuh juga. Mungkin pepatah itu menggambarkan ku saat itu, entah darimana Putra mendapatkan foto ku bersama Ifan saat kami menginap di Villa. Dia pun marah kepadaku banyak pertanyaan yang dia ajukan kepadaku dan hanya satu jawaban yang aku berikan, yaitu putus. Aku memilih putus dengannya bukan karena aku lebih memilih Ifan tetapi aku sadar kalau aku sudah salah mengambil keputusan. Keputusan untuk membuatnya merasakan rasa sakit yang aku terima dua tahun  lalu, rasa sakit ketika dia bersama Dinar dan mencoba menutupi kebersamaannya dariku, rasa sakit yang membuat ku melakukan kesalahan yang seperti dia lakukan kepadaku.

Dan malam itu aku menangis hingga pagi tiba di ufuk timur, tersadar akan rasa sakit yang aku berikan kepadanya, dan berfikir mengapa dulu dia bisa memberi ku rasa sakit seperti itu? Kalau kenyataanya hal itu sangat menyakitkan, menyakitkan jika kita telah menyakiti seseorang yang kita cintai. Lalu bagaimana bisa dia menyakiti ku?

Setelah aku putus dengan Putra aku juga menghilang dari kehidupan Ifan, aku hapus semua foto-foto kami dulu, aku hapus nomor dan pin BBM nya hingga almarhumah ibuku bertanya kepadaku, “Ay, Ifan bilang sama ibu kalau Aya  hapus kontak Ifan? Kenapa? Aya bertengkar dengan Ifan ya?” tanya ibu di pesan yang ibu kirimkan kepadaku.

“Nggak papa ibu Aya cuma mau fokus belajar saja. Terlebih Aya juga selama ini nggak pacaran dengan Ifan, hanya teman.”

“Kenapa nggak pacaran? Ibu pasti mengizinkan kalau Aya pacaran dengan Ifan, Ifan suka sama Aya bahkan Ifan juga telah meminta izin kepada Ibu untuk bersama kamu dan ibu setuju. Ifan anak yang baik, ngajinya bagus, bisa main gitar dan juga tampan. Tipe kamu banget kan? Masa depannya juga bagus, Ifan kemarin memberitahu Ibu kalau Ifan telah lulus uji pilot dan dia juga mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu atas doa yang ibu berikan. Tapi mengapa kamu menolaknya? Apa yang membuat kamu enggan bersama Ifan?”

Dan kala itu aku hanya diam membisu sebab semua yang ibu katakan adalah benar. Ifan adalah tipe lelaki ideal ku, apa yang kurang darinya?  Tidak ada. Hanya saja aku masih percaya Putra yang terbaik untukku tetapi  aku tidak bisa bersamanya saat itu, aku hanya ingin berusaha sembuh dari rasa sakit yang telah dia berikan kepadaku dulu. Hingga tujuh bulan kami berpisah kami pun bersatu kembali dengan hati yang lapang dan saling memaafkan tanpa dendam untuk membalas rasa sakit dulu.

Senja telah tiba di ufuk barat menunggu kami di ujung perjalanan. Dibalik kaca restauran pinggir jalan terselip siluet membelai wajah lelah dia yang tercinta, kami sejak pukul 16.00 telah pulang dari Kebun Binatang Kota. Diperjalanan hanya lenggang, aku sempat memejamkan mata beberapa menit di pundaknya, cukup lelah tetapi menyenangkan. Dan berhentilah kami di salah satu restauran untuk makan malam.

“Sayang kamu mau pesan apa?” Tanya ku kepadanya yang merebahkan kepalanya di meja makan.

“Aku apa saja, terserah kamu mau pesan apa aku pasti memakannya.” Jawab Putra menggiring tanganku dikepalanya memintaku untuk memijit kepalanya seperti biasa.

“Mbak saya pesan dua porsi bebek goreng keremes, dua porsi nasi uduk  dan dua es teh manisnya.” Kataku kepada seorang pelayan restauran.

“Baik mbak, mohon tunggu sebentar ya mbak.” Jawab seorang pelayan restauran seraya meninggalkan kami disudut ruang.

“Sayang capek ya?” Tanyaku memijat kepalanya.

“Iya capek, tapi senang.” Jawab Putra menyingkirkan tanganku dan kini menatap wajahku.

“Senang kenapa?”

“Senang lihat kamu tadi.”

“Gajah maksud mu?” Tanyaku mencubit lengannya.

“Hahaha aduh sakit tahu.”

“Biarin kamu nyeselin sih.” Jawabku dengan muka masam meminum es teh manis yang sudah tersedia di meja makan.

“Makasih ya sayang untuk hari ini, aku senang bisa bersama kamu sehari penuh.”

“Iya makasih kembali sayang sudah mengajak ku jalan-jalan hari ini.” Jawabku tersenyum.

“Permisi, dua porsi bebek goreng keremes, dua porsi nasi uduk  dan dua es teh manisnya. Selamat menikmati.” Seorang pelayan mengagetkan ku yang sedang tersipu malu mengantarkan pesanan kami.

“Makasih ya Mbak.” Jawab Putra kepada seorang pelayan seraya meninggalkan kami.

“Wih sayang bebek goreng keremesnya enak. Aku gagal diet lagi deh, kamu makan yang banyak loh aku nggak mau gendut sendirian.” Kataku menghabiskan sepotong bebek goreng keremes dengan sambal.

“Hahaha nggak papa kamu gendut, aku juga suka.”

Selepas makan kami bergegas pulang, jam malam ku hanya sampai pukul 19.00, sedaritadi ayah menelepon ku sengaja aku tidak mengangkatnya, sedang di motor. Pukul 19.15 aku sampai rumah dengan penuh suka cita. Tadi ditanya oleh ayah mengapa pulang terlambat dan aku menjawab “jujur” habis makan bersama teman.

Entahlah tak terhitung berapa kali aku membohongi kedua orang tua ku ketika aku ingin pergi bersamanya, aku hanya takut kalau mereka tidak mengizinkan ku untuk bertemu dengannya lagi. Terlebih dia juga takut bertemu dengan orang tua ku, selama tiga tahun aku menjalin hubungan dengannya dia hanya kerumah ku ketika aku merayakan sweet seventeen dan menjadi pelayat ketika ibu ku meninggal. Pernah aku bertanya kepadanya, mengapa dia enggan untuk bertemu dengan orang tua ku dan jawaban yang didapat “aku takut.” mungkin karena ayah memiliki wajah yang tegas dan sedikit menakutkan hingga dia tidak berani untuk bertemu dengan orang tua ku. Entahlah aku tidak paham.

Saat ini yang aku rasakan hanya kebahagiaan, bahagia karena aku bersama dengan seseorang yang aku cintai. Walau sejujurnya aku selalu mengatakan putus dan berpisah itu hanyalah emosi ku saja tidak benar-benar aku ingin pergi darinya. Memang benar kalau Putra jauh dari tipe ideal ku tetapi dimata ku dia sudah cukup untukku. Ketika aku bersamanya aku bisa seperti apapun diriku, aku selalu manja dengannya dan dia selalu memanjakanku, dia mengabulkan permintaan ku― walaupun tidak semuanya, tetapi untukku itu lebih dari cukup dan aku beruntung bersamanya.

♥♥♥

 

Malam ini berawan tanpa bintang dan rembulan, gerimis tadi sore meninggakan jejak di jalan aspal. Hari minggu yang sejuk untuk bertemu dan berbincang dengan keluarga juga sahabat. Aku sedaritadi menunggu sahabatku menjemputku Nandya dan Mulan, tadi siang di group chat kami, mereka mengajakku bertemu untuk menghabiskan waktu bersama. Nandya dan Mulan adalah kedua sahabatku sejak aku duduk di bangku Sekolah Dasar sama seperti Nara, Ira, Ara, Mei dan juga Yanti. Tetapi kami sempat berpisah dan berteman dengan teman-teman baru namun kami kembali dekat sejak dulu aku dan Nandya mengambil kursus yang sama di Pare – Kediri sedangkan dengan Mulan kami kembali dekat sejak kami selalu pergi bersama. Ah, kita tidak pernah tahu kapan persahabatann itu terjalin, bukan?

“Aya!” Teriak Nandya di atas motor memanggil ku untuk segera menaiki motornya.

“Buruan ndut, lama lo.”  Seru Mulan di atas motor lain.

“Yang lama itu lo ya gue daritadi sudah rapi menunggu kalian depan rumah macam jomblo tapi tak kunjung datang hahaha.” Jawabku menggerutu seraya menaiki motor dan Mulan tertawa.

“Makan di  fast food lagi nih kita?” tanyaku pada Nandya diatas motor.

“Iyalah yang murah kan cuma itu.” Jawab Nandya dan aku menjawab dengan anggukan.

Rembulan menatap kami dari kejauhan, sengaja tidak menampakkan diri dibalik awan hitam, gerimis membasahi jalan aspal yang kian mengering, pohon rindang menari bersama angin mendayu-dayu, pasangan muda mudi sibuk berlalu lalang menebar cinta, sekumpulan anak remaja sibuk sambil tertawa yang entah menertawakan apa dan siapa. Kami yang sudah sampai daritadi sedang sibuk menghabiskan makanan diatas meja.

“Aya lo balikkan lagi dengan Putra?” tanya Nandya memecahkan keheningan.

“Iya gue balikan lagi dengan Putra.” Jawabku sambil menghabiskan ice cream coklat.

“Seriusan lo balik lagi?” tanya Mulan memastikan.

“Iya gue balikan lagi dengan Putra.” jawabku jengkel karena harus mengulangi jawaban yang sama.

“Ay, apa lo nggak kasihan dengan almarhumah ibu lo?” tanya Nandya kepadaku yang ku balas dengan wajah penuh pertanyaan.

“Lo nggak kasihan dengan ibu lo di alam kubur? Gue tidak menyangkut pautkan prihal ini dengan agama karena keterbatasan pemahaman agama yang gue miliki tetapi cukup gue sangkut pautkan perihal ini dengan keinginan atau harapan ibu lo selama ibu lo masih hidup bahkan sampai akhir hayatnya.” Nandya terdiam, pun Mulan dan aku.

Aku tahu ini pasti akan dibahas olehnya, bukan karena Nandya membenci seseorang yang aku cintai hanya saja dia lebih dulu kehilangan orang tua dibandingkan aku. Iya ketika Nandya masih dibangku Sekolah Menengah Pertama Nandya  kehilangan Ayahnya yang disebabkan oleh suatu penyakit, aku yang kala itu satu kelas dengan Nandya hanya terpaku disaat adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar menjemput Nandya yang sedang menjalankan Ujian Tengah Semester dengan wajah diselimuti air mata Nandya bergegas keluar kelas dengan merangkul tas ransel miliknya dan juga memeluk rasa sakit atas kehilangan seorang yang amat dicintainya. Aku kini memahami perasaan itu, perasaan sakit teramat sangat.

“Ay, lo tahu gue sudah kehilangan orang tua gue sejak lama lebih dulu dibandingkan lo. Ay gue tahu sakitnya kehilangan, sakitnya melihat teman-teman kita masih memiliki orang tua yang lengkap tetapi tidak dengan kita. Iya kita sudah tidak memiliki orang tua lengkap seperti teman-teman kita terlebih dibalik itu kita memiliki tanggung jawab yang lebih besar selepas kehilangan. Iya tanggung jawab yang lebih selepas kehilangan salah satu dari mereka─” Aku tertegun pun Mulan disampingku merenung. Nandya membetulkan cara duduknya yang kurang nyaman, melanjutkan pembicaraan.

“Ay, sekarang tanggung jawab yang kita miliki berat, kita sudah tidak bisa bersantai seperti biasa, kita sudah tidak bisa manja lagi dengan orang tua kita, karena kita harus tumbuh lebih dewasa dari diri kita yang dulu. Lo harus mengambil peran ibu yang kini sudah tiada karena lo masih punya kedua adik perempuan Naila dan Alia mereka masih butuh kasih sayang seorang ibu Ay! Mungkin yang ditampakkan mereka adalah wajah penuh kebahagiaan selepas beberapa bulan lalu mereka telah kehilangan seorang ibu seakan mereka baik-baik saja. Baik-baik saja?” Dengan tawa getir Nandya─ aku dapat melihat sebulir air mata yang hinggap diujung pelopak matanya.

“Bahkan kita sama-sama tahu bahwa kita juga tidak baik-baik saja, bukan? Lalu bagimana dengan mereka? Gue tahu itu Ay, gue pun telah dan masih melalui itu semua, gue tahu Atar dan Arha adik laki-laki dan adik perempuan gue dulu dan sekarang masih suka tertegun melihat sepotong kenangan papa gue. Dan kala itu gue sadar bukan gue saja yang membutuhkan perhatian dengan mencari seorang kekasih hanya sekedar untuk mendapatkan perhatian tetapi mereka juga lebih membutuhkannya Ay! Apa kita tega membuat mereka mencari perhatian dan kasih sayang dari seseorang yang mungkin saja hanya memanfaatkannya?  Ah kita tidak pernah tahu hati seseorang─ apakah dia baik ataukah dia jahat. Mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang lo Ay, lo juga harus mulai mengurangi beban ayah lo.” Seru Nandya dan Mulan merangkul ku yang menahan tangis.

“Ay, beban ayah lo berat harus menjadi ayah dan ibu dalam satu waktu juga harus bersikap lembut dan tegas kala kesalahan yang kalian perbuat, mengurus keperluan rumah tangga, mengurus uang masak, uang sekolah, uang jajan pun  keperluan lainnya. Dan lo dengan asiknya diluar sana bersenang-senang, menghabiskan uang yang ayah lo berikan. Iya mungkin tidak selalu dengan memakai uang orang tua lo tetapi lo memakai uang orang tua Putra, lalu apa bedanya? Oke,  jangan berbicara perihal uang yang mungkin kalian mendapatkannya dengan mengumpulkan uang jajan berminggu-minggu atau kerja sambilan tetapi bagaimana dengan menghabiskan waktu diluar rumah hanya bersama Putra padahal dirumah ayah dan kedua adik lo butuh lo untuk sekedar berbincang?”

Aku menangis bukan mendengar kata-kata yang menyakitkan keluar dari bibir sahabatku tetapi aku menangis karena aku melupakan wasiat ibu kala ulang tahunku.

“Ay, gue masih ingat cerita lo mengenai almarhumah ibu lo yang tidak setuju akan hubungan lo dengan Putra. Bukankah sudah sering ibu meminta lo untuk mengakhiri hubungan kalian? Ah, gue masih ingat kala almarhumah ibu lo yang bilang ke gue ‘Nan tolong nasihati Aya, suruh dia putus dengan Putra ibu tidak yakin Putra sungguh benar-benar sayang dengan Aya, berjanji tidak menyakitinya suatu saat nanti’. Maaf gue baru sampaikan ini ke lo Ay karena gue tahu lo masih ingin membuktikan kepada kedua orang tua lo kalau Putra sungguh mencintai lo, bahwa Putra tidak seperti yang ibu lo pikirkan bahwa Dia layak untuk lo di masa depan. Tetapi dengan kemarin gue tahu kalau Putra hanya menjadi tamu dipemakaman tidak menemani lo disaat lo butuh, sibuk dengan  futsal dan membiarkan lo seorang diri padahal Putra tahu betul kalau lo sedang kehilangan ibu lo tetapi dia tega membiarkan lo melalui semua ini sendirian. Semua itu cukup membuat gue yakin akan keyakinan almarhumah ibu lo kalau Putra tidak benar-benar mencintai lo Ay. Perasaan seorang ibu itu selalu benar Ay, kecemasan ibu lo mungkin saja benar. “

Aku tenggelam dalam pikiran ku yang penuh dengan pertanyaan. Masih tertegun atas percakapan yang masih belum selesai itu.

“Ay, lo masih belum bisa membahagiakan orang tua lo, belum bisa membahagiakan ibu lo bahkan sampai akhir hayatnya dan lo masih belum bisa memenuhi keinginan ibu lo yang sejatinya mungkin untuk kebaikan lo. Ibu ingin lo putus dengan Putra hanya inginkan lo mendapatkan seseorang yang bisa mencintai lo sepenuh hatinya, bisa membimbing lo kejalan-Nya yang mungkin Ibu tidak melihat semua itu di mata Putra. Ay, lo masih belum bisa membahagiakan orang tua lo dan jika memang belum mampu membahagiakan mereka, setidaknya jangan menambah beban mereka dengan tidak melakukan yang tidak mereka ridhoi, bukankah ridho orang tua adalah ridhoNya?”

♥♥♥

 

Setelah seminggu perbincangan ku dengan kedua sahabatku aku memikirkan banyak hal, memikirkan ibu, memikirkan ayah memikirkan hubungan ku dengan Putra. Sejujurnya yang sangat membebaniku adalah prihal ibu, sungguh aku sangat takut jika ibu disana terbebani atas diriku tetapi apakah aku salah bersama dengan seseorang yang aku cintai? Panasnya matahari tidak membuat tubuhku terasa hangat. Aku terbaring lemah dikamar tidurku, aku demam mungkin karena kemarin aku bermandi hujan dengan Putra.

Kami pergi sehari penuh kemarin, aku sengaja membolos  satu mata kuliah untuk bisa pegi nonton dengannya, aku selalu merindukannya. Kami menonton, bersenang senang di Jungle Zone  dan makan bersama hingga abai akan datangnya awan hitam yang menyelimuti kota dan kami diatas motor berdua dihujani saat kami pulang menuju rumah. Dia yang lupa membawa jas hujan (yang sebenarnya selalu lupa jika tidak diingatkan) membuat kami basah kuyup ditengah jalan dan motor yang mogok kehabisan bensin berhasil menambah daftar sial ku hari ini dan dia habis ku omeli.

Sebenarnya aku senang saja bermandi hujan dengannya atau menghabiskan waktu  lebih lama dengannya, tetapi algoji yang melingkar di lengan kiri ku menujukkan pukul 18.00 membuatku bergelut dengan waktu, batasanku untuk pergi sudah diujung waktu. Ayah yang sedari tadi meneleponku sengaja aku tidak  mengangkatnya ‘nanti saja jika sudah sampai rumah’ pikirku. Dan tibalah aku sampai rumah lewat dari jam malam ku dengan baju yang setengah kering dan wajah yang penuh lelah setelah mendorong motor cukup jauh.

“Sayang kamu sudah makan belum?” Tanya Putra yang mengirimku pesan singkat.

“Sudah sayang.” Kataku membalas pesan singkatnya.

“Sudah minum obatnya?”

“Sudah sayangku, kamu sudah makan belum? Sekarang lagi apa? Kamu nggak sakit kan?”

“Sudah makan juga sayang, sekarang lagi main sama anak-anak nih. Aku nggak sakit sayang kamu tuh yang sakit.” Kata Putra dengan memberikan emot sedih kepadaku.

“Alhamdulillah kalau kamu sehat, kamunya sehat terus ya sayangku. Dijaga kesehatannya jangan capek-capek.”

“Iya sayang. Maaf ya sayang karena aku kamu sakit.”

“Bukan karena kamu sayangku, jadwal kuliahku kan juga sudah mulai padat dan membuat aku semakin lelah. Lagi pula aku senang bisa bersama kamu terus, makasih ya sayang sudah buat aku senang. Aku sayang banget sama kamu.”

“Kembali kasih sayang, aku juga sayang banget sama kamu. Kamu solat asar gih setelah itu tidur siang. Lagi sakit banyakin istirahat sayang biar cepat sembuh kamunya.” Kata Putra dengan penuh keganjilan.

“Tapi kalau aku tidur, apa yang kamu lakukan?” tanya ku yang entah memiliki firasat yang tidak enak prihal pesan sebelumnya.

“Aku main dengan anak-anak sayang”  jawab Putra seraya mengirimkan foto kedua keponakannya yang dipeluknya seperti biasa.

“Dirumah saja kan?” tanyaku yang masih memastikan.

“Iya dirumah saja sayang.”

“Benar dirumah saja? Tidak kemana-mana?”

“Iya dirumah saja, janji aku akan dirumah saja sayangku.”

“Sumpah demi apa?” tanyaku yang sedikit bercanda.

“Demi Allah aku dirumah saja, istriku.” jawabnya dengan penuh keyakinan. Dan aku pun menuruti perintahnya untuk tidur sejenak agar flu ku semakin membaik.

Tetapi langit mungkin telah murka padanya, murka karena dia telah membawa namaNya dijalan yang tidak benar― sebuah kebohongan, hingga Tuhan menunjukkan kebenaran itu sekali lagi, seperti dua tahun lalu aku mengetahuinya berbohong padaku. Dia menunjukkan ku kebenarannya lebih awal dibandingkan saat itu.

Aku tertegun membaca pesan serta screen shoot yang Nandya berikan padaku tadi sore tetapi baru ku buka malam hari. Aku bergetar membaca screen shoot itu seraya mengingat sumpahnya tadi sore.

Pesannya singkat saja, Nandya hanya bertanya padaku satu pertanyaan dan menjawab dengan sejuta jawaban. Katanya, ‘Ay Putra ada dimana? Rumah atau pergi dengan lo?’ yang ku balas dengan jawab sesuai janji yang dikatakannya ‘hanya dirumah saja main dengan keponakannya’. Dan dibalas dengan screen shoot dari sosial media milik teman dekat Putra, Fajar yang bertuliskan ‘Kalah dengan skor yang 12 – 8 semua ini gara-gara Boyo yang kelelahan setelah bersenang-senang.’ Add Dwi Esa Putra dengan emot tertawa.

Sakit.

Seketika wajahku memanas bukan karena demam ku belum turun tetapi karena rasa sakit yang melebihi sakit fisikku saat ini. Aku setelah membaca pesan Nandya segera mengirim pesan pada Putra, bukan untuk bertanya kebenaran atas status itu hanya untuk sekedar mendengar akan kejujurannya.

“Sayang aku sudah bangun. Kamu lagi apa sayang?” Pukul 19.00 aku kirim pesan pertama padanya.

“Sayang ih kamu dimana? Pesan aku nggak dibales.” Pukul 19.30 aku kirim pesan kedua padanya.

“Kamu tidur ya sayang?” Pukul 20.00 aku kirim pesan ketiga padanya.

“Pasti kamu sudah tidur deh, ya sudah nanti kalau kamu kebangun balas pesan aku ya sayang. Aku sayang banget dengan kamu.” Pukul 20.30 aku kirim pesan keempat dan masih belum dibalas olehnya.

Sungguh saat ini yang aku inginkan adalah penjelasannya, aku ingin penjelasan darinya! Ya Tuhan bagaimana bisa dia membohongiku? Sedangkan aku selama ini selalu jujur padanya? Atau kenyataannya selama ini dia telah banyak membohongiku? Bagaimana bisa dia membohongiku dengan bersumpah atas nama Mu, Tuhan? Tidakkah dia tahu akibat yang akan ia tanggung suatu saat nanti?

Pikiran ku penuh dengan banyak pertanyaan dan banyak kemungkinan yang membuat rasa sakit ku semakin menusuk kalbu hingga akhirnya aku pun menangis.

Maaf aku sudah menangis karenanya, ibu.

Rembulan malam ini tidak menampakan wajahnya, entah mungkin ia enggan melihatku menangis. Bintang gemintang pun hilang di makan awan kehitaman membuat kota penuh dengan kegelapan.

Harap-harap cemas aku menunggu balasan, memikirkan strategi agar dia bisa jujur padaku. Apakah aku harus menanyakannya sekarang? Ataukah aku harus menunggu hingga esok hari dan bertemu langsung dengannya,  bertanya padanya dan memaksanya untuk mengakui segalanya?

Pertanyaan demi pertanyaan di kepala membuatku semakin sakit, hingga sebelum habis pertanyaan itu dia akhirnya membalas pesanku tepat pukul 21.30 malam hari.

“Sayang, maaf aku tadi ketiduran, capek bermain dengan anak-anak. Aku daritadi dirumah saja sayangku nggak kemana-mana.” Kata Putra membalas pesan-pesanku.

“Nggak papa sayang, tapi kamu benar tidak kemana-mana selama aku tidur?” tanyaku untuk memastikan.

“Iya sayang demi Allah aku nggak kemana-mana, seharian ini hanya dirumah dan bermain bersama anak-anak.”

Ya Tuhan dia bersumpah atas nama Mu sekian kali, sungguh dia melakukannya hanya demi seorang teman?

“Memangnya kenapa sayang?” tanya Putra kepadaku.

“Tidak apa-apa hanya ingin memastikan saja.” Jawabku─ berbohong.

“Dih nggak jelas kamunya. Hahaha”

“Biarin hehe. Kamu sudah makan sayang?”

Sakit.

Mengapa dia membohongiku Tuhan? Dan berlaga seolah dia tidak melakukan kesalahan?

“Sudah sayang, kamu sudah belum?”

“Belum nanti saja masih kenyang.”

“Ih lagi sakit juga kamunya harus banyak makan! Makan sekarang ya sayang.”

Tuhan, mengapa dia begitu mudah? Mudah melakukan ini tanpa merasa bersalah? Bersalah karena membohongiku, bersalah karena telah mengkhianati namaMu?

“Iya sayang nanti saja. Sayang besok kamu ke kampus nggak?”

“Ke kampus sayang cuma satu mata kuliah sih, kamu besok istirahat saja ya dirumah izin nggak kuliah dulu.”

“Besok nggak bisa bolos sayang, aku ada kuis.” Kataku berbohong.

Aku harus menanyakan kesalahpahaman ini.

“Yasudah sayang besok aku antar-jemput ya dan sekarang kamu jangan tidur malam-malam agar besok semakin membaik.”

“Iya sayang.”

Malam semakin larut setelah terakhir percakapan kami dia pamit untuk tidur lebih dulu dan aku mengiyakannya. Toh aku juga perlu waktu untuk sendiri sebab malam ini terlalu sesak, hingga aku sulit bernafas. Ah, bukan karena aku sedang jatuh sakit hanya saja kenyataan yang terlalu pahit ini membuat ku sulit bernafas seperti biasanya.

Malam ini berakhir panjang dan aku sulit tidur hanya tergugu dibawah selimut─ aku takut jikalau ayah melihat ku menangis.

Rembulan mengintip di balik jendela hanya ingin tahu apa aku masih terjaga, dia rindu katanya. Suara kumpulan tikus loteng sedang bermain kejar-kejaran membuat riuh seisi ruang. Hujan datang lagi malam ini tega membasahi bumi dengan menghantam ku oleh ribuan kenangan bersamanya. Petir merobek lagit menusuk ku hingga hancur dibagian terdalam. Mereka mengeroyoki ku sepanjang malam, menyakitkan.

Selama mata kuliah berlangsung aku hanya menatap kosong, memikirkan  banyak hal, memikirkan apa yang akan aku katakan nanti? Bagaimana aku harus mengatakannya? Keputusan apa yang harus aku ambil? Aku harus apa Tuhan?

“Sayang, maaf sudah menunggu lama ya?” Tanya Putra diatas motor, dia datang tepat ketika aku masih bingung apa yang harus aku lakukan nanti.

“Nggak kok sayang.” jawabku singkat seraya menaiki motor biru kesayangannya.

“Sayang kita jadi ke restauran fast food?”

“Eh, iya jadi sayang aku ingin beli milkshake coklat. Nggak apa kan sayang?”

Bohong, itu hanyalah alasanku saja.

Aku harus menyelesaikannya hari ini.

“Siap istriku.” Jawab Putra mencium punggung telapak tanganku yang dipegang erat-erat.

Tuhan, mengapa dia lakukan ini padaku? Bukankah, bukankah dia terlihat sangat mencintaiku? Lihatlah Tuhan, dia menggenggam tanganku begitu erat, mengapa bisa dia melakukan itu kepadaku? Apakah dia tidak mencintaiku? Tetapi, bukankah segala yang telah dia lakukan dan dia berikan kepadaku selama ini adalah nyata? Sungguh Tuhan, aku mencintainya.

Cinta petamaku.

Aku menatap sepanjang jalan, melihat kendaraan berlalu-lalang. Langit mulai mengeluarkan awan hitam.

Tunggulah, jangan hujan dulu aku tidak ingin mengenang kebahagian itu bersamanya kala aku ingin melupakannya.

Langit mulai menangis.

Aku mohon jangan menangis dan membiarkan ku bermandi dengan sejuta kenangan yang sungguh ingin aku tinggalkan.

“Sayang. Sayang!” Panggil Putra yang berhasil membuyarkan lamunan ku.

“Eh?” aku menoleh kepadanya dan dia duduk didepan ku.

“Kamu sedang apa sih? Mikirin apa? Daritadi aku panggil nggak dengar. Ini milkshake coklatnya.”

“Bukan apa-apa. Terimakasih sayang”

“Sama-sama sayang” jawab Putra mengusap keringat dipelipis ku dengan sehelai tissu.

Aku tersenyum parau.

“Sayang, aku mau tanya sesuatu tapi kamu jawab jujur ya?” tanyaku meminta kejujuran.

“Tanya apa sayang?” Tanya Putra lagi kepadaku.

“Ada, tapi kamu harus jawab jujur pertanyaan ku nanti.”

“Iya sayang.”

“Kemarin kamu dimana?”

Tuhan aku sungguh gemetar menanyakannya.

“Eh?  Kan aku sudah bilang, aku dirumah saja main dengan anak-anak.” Jawab Putra─ berbohong.

“Aku tanya sekali lagi, kamu kemarin kemana? Kamu kemana disaat aku tidur siang?” tanya ku sekali lagi.

Aku mohon jangan berbohong lagi.

“Aku enggak kemana-mana sayang. Demi Allah kemarin sehari penuh aku cuma dirumah saja.” Jawab Putra dengan wajah cemas, takut, entahlah aku tidak tahu.

“Baik, bisa kamu jelaskan status Fajar ini kepadaku?” Kataku dengan memberikan bukti kebohongannya.

“Tadi kamu bilang apa? Dirumah? Main dengan anak-anak? Omong kosong!”

Tuhan aku membentaknya, sungguh aku membentak seseorang yang aku cintai.

 Dia menatap ku kosong, membisu.

“Bagaimana kamu bisa bersumpah atas nama Tuhan hanya demi untuk bersama teman-teman mu? Kamu bagaimana bisa membohongiku? Bagaimana bisa?” Seru ku memaki dirinya.

Aku menangis sungguh aku tidak kuat menahan beban itu Tuhan. Dan lihatlah ia hanya menatapku dengan penuh amarah.

“Apa salahku Put? Bukankah kamu tahu aku banyak melarangmu itu juga karena ibu mu yang meminta padaku. Ibu mu meminta padaku agar kamu tidak selalu main diluar rumah, ibu mu yang menyuruhku Putra. Tapi mengapa kamu tega membohongi ku? Apa salahku? Aku hanya─” belum habis aku mengatakan segala yang ingin ku katakan dia meleparkan tissu kotor tepat ke wajahku dan menarik lengan ku untuk pulang.

Dia menarik ku dengan paksa, menyuruhku mengikutinya keluar restauran fast food, dan melepaskan genggamannya seraya mengambil motornya─ memaksa ku pulang.

“Aku pulang naik bajaj saja.” kataku yang menahan tangis dan sakit.

“Nggak kamu pulang sama aku, sekarang!” kata Putra menarik lenganku lagi yang ingin menghentikan bajaj melintas di depanku.

“Aku nggak mau! Aku mau naik bajaj saja!” Kata ku gemetar.

“PULANG DENGAN KU SEKARANG!” Bentak Putra menarik lenganku untuk naik ke atas motor.

Sungguh aku yang takut melihat wajahnya saat ini.

“NAIK!” Bentak Putra sekali lagi yang ku balas dengan diam.

Putra menarik paksa agar aku menurutinya menaiki motor itu dan dengan tubuh yang gemetar aku memenuhinya. Dia pun membawaku pulang dengan kecepatan penuh.

Sungguh Tuhan aku takut.

Tiga hari setelah kejadian yang menakutkan itu Putra tidak menelepon ku atau mengirimku pesan, bahkan pesan yang aku kirimkan dia abaikan. Entahlah siapa yang salah atau siapa yang benar aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Hubungan kami? Apa benar berakhir? Aku hanya meminta kejujuran padanya tetapi hanya diam yang ku dapatkan. Aku hanya ingin Putra mengerti bahwa yang dia lakukan adalah salah. Bagaimana bisa kita menggadaikan sumpah atas nama Tuhan untuk sebuah kebohongan?

Aku yang tidak bisa berdiam diri akan keadaaan yang serba ganjil ini mengambil keputusan untuk kerumahnya, aku tahu dia ada disana.

“Assalamualaikum.” salamku kepada ibu putra.

“Eh Aya kok datangnya sendiri kenapa nggak minta Putra jemput?” Tanya Ibu Putra seraya melirik anaknya yang duduk tepat di sampingnya, “kalian bertengkar lagi?” tanya ibunya pada kami.

“Iya bu Putra nggak balas dan angkat telepon dari Aya.” jawabku atas pertanyaannya.

“Loh memang kenapa?” kata ibu pada Putra seraya memberikan segelas air padaku, yang ditanya hanya diam.

“Kemarin Putra ketahuan berbohong padaku bu, dia bilang kalau dia seharian dirumah nggak kemana-mana tapi nyatanya dia pergi dengan teman-temannya. Padahal dia sudah bersumpah atas nama Allah.” Jelasku kepada ibunya yang dibalas hanya terdiam. “Aya nggak masalah kalau pun Putra mau pergi, selama dia jujur juga bisa menjelaskannya dengan baik dan yang terpenting kalau ibu mengizinkannya pergi Aya akan mengizinkannya pergi. Tetapi dengan dia bersumpah atas nama Tuhan, bagaimana bisa Aya hanya tinggal diam?”

“Iya itu memang tidak benar untuk dilakukan.” jawab ibunya setelah beberapa menit hanya berdiam diri. “Cepat minta maaf dengan Aya dan berbaikanlah.” Kata Ibunya menyuruh Putra yang mematung disampingnya.

Kami pun bersama lagi.

Untuk kesekian kali aku mencoba untuk mempercayainya lagi, mencoba untuk mengerti dirinya dan mencoba menjadi yang terbaik untuknya. Sesungguhnya setelah kejadian itu aku banyak berfikir, mungkin dia melakukan kesalahan─ berbohong kepadaku karena aku terlalu menggenggamnya dengan erat hingga dia memutuskan untuk pergi dan aku mengerti atas kesalahan yang telah ia perbuat disebabkan juga karena diriku.

Dan aku memahami itu.

Walaupun kenyataannya, memulai lagi dari awal adalah hal yang sulit bagiku, rasa kecewa ku telah melampaui batas diriku tetapi aku ingin bersamanya dan mimpiku bersamanya lebih besar daripada rasa kecewa ku atas dirinya. Aku juga telah mengenal baik keluarganya. Perasaan terlalu dalam yang aku berikan kepadanya, keluarganya dan harapan yang ku titipkan kepadanya membuat ku terus ingin bersamanya, selamanya.

♥♥♥

 

Hari ini adalah hari minggu, sudah dua minggu setelah aku dan ayah pulang dari perjalanan spritual. Aku disana mendapatkan banyak pelajaran hidup, hidayah dan juga seorang teman. Teman? Entahlah aku berfikir demikian tetapi sepertinya dia tidak. Awalnya aku tahu akan dirinya ketika dia meminjamkan sepasang sendal untuk ayah yang lupa meninggalkan sendalnya di koper yang telah dibawa ke hotel tempat kami menginap nanti dan dia berbaik hati memberikan sendal yang ia pakai untuk ayah gunakan. Awalnya aku tidak memperdulikannya hanya membatin dalam hati ‘dia pria yang baik’ selebihnya aku tidak memperhatikannya toh aku sudah memiliki seseorang untuk aplagi aku memikirkan yang lain? Dan dia adalah anak ustad yang menjadi memadu perjalanan kami ke Tanah Suci.

Dia adalah Sidiq seorang mahasiswa jurusan Sastra Bahasa Arab disalah satu Universitas Tinggi Swasta di Palangkaraya (aku tahu itu karena ayah yang memberitahuku) usianya selisih setahun denganku, Sidiq setahun lebih muda dariku karena itu aku dipanggil ‘kakak’ olehnya. Kami jarang bertemu terlebih berbincang, hanya sesekali bertemu ketika sarapan karena disana aku selalu menghabiskan waktu bersama dengan ayah. Saat disana aku pernah dipaksa foto bersamanya oleh salah satu orang tua dari rombongan travel, ialah orang tua Yasar yang meminta aku ikut berfoto bersama mungkin karena hanya aku, Sidiq dan Yasar rombongan termuda saat itu, membuat kami menjadi sedikit diperhatikan.

Aku masih ingat, malam terakhir aku di Madinah Sidiq mengajakku untuk makan malam bersama tetapi aku tidak menjawab dengan pasti, aku hanya tidak ingin pergi dengan seorang pria selain kekasihku, Putra terlebih dia tidak mengizinkan ku pergi dengannya (aku selalu memberitahukan apapun kepadanya, seperti ajakan makan malam bersama Sidiq saat itu).

Setelah aku yang putus asah menolak ajakknya, aku pun akhirnya menyuruh Siddiq untuk meminta izin kepada ayah yang kala itu aku sangat yakin kalau ayah akan menolaknya mentah-mentah, ini sudah hampir tengah malam dan aku diajaknya pergi ke luar? Itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Namun diluar dugaanku, entah bagaimana caranya Sidiq memohon kepada ayah untuk mengizinkan ku pergi bersamanya― sampai hari ini aku juga tidak tahu, bagaimana mungkin seorang yang tegas dengan aturan lemah hanya dengan sekali memohon padanya. Ayah mengizinkan Sidiq mengajak ku untuk makan malam bersama― setelah Sidiq memberanikan diri bertemu ayah, meminta izin untuk mengajakku makan malam bersama, tentu tidak hanya berdua saja Yasar juga ikut.

Malam indah penuh bintang dan sepotong rembulan di Madinah sungguh sungkar jika dilewatkan, Masjid Nabawi yang terkenal dengan keindahannya membuatku berterimakasih pada Siddiq sebab berkat dirinya aku bisa melihat malam yang indah untuk pertama kalinya. Kami (dia) membeli fried chiken disalah satu fast food dan mengajak kami untuk duduk bersantai dipinggir Masjid Nabawi.

Kala itu dibawah rembulan yang bersinar indah dia bertanya sesuatu yang cukup ganjil kepadaku, “Kak, kakak sudah siap nikah belum?” tanya Siddiq seraya memakan sepotong ayam dan sebungkus kentang goreng

“Hah? Nikah? Nikah muda maksudnya?” Jawabku sambil menyantap sepotong paha ayam dan sebungkus kentang goreng.

“Iya nikah muda kak, kakak sudah siap belum?” tanya Sidiq memastikan sekali lagi tanpa ku ketahui Yasar yang duduk disampingnya menahan tawa.

“Hmm. Kurang tahu juga sih ya, bingung juga mau jawab apa. Pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab hahaha. Memangnya kenapa? Kamu ingin nikah muda?” tanyaku kepadanya.

“Iya kak aku mau─”

“Kenapa memangnya? Sudah tidak kuat hidup sendiri?” tanya ku dan kami pun tertawa─ Sidiq tidak.

Membuatku salah tingkah dan membenarkan pertanyaan yang telah aku ajukan.

“Memangnya kamu sudah yakin ingin menikah muda? Maksudku dengan umur kamu yang masih muda ini kamu yakin bisa dewasa ketika istri kamu marah? Nikah itu kan tidak seperti pacaran kalau sudah bosan atau terlalu banyak perbedaan kamu bisa putus dan cari yang baru. Apakah kamu sudah bisa menahan emosi kamu yang labil itu? Memang apa alasan kamu untuk menikah muda?”

“Kak, usia bukan alasan kita untuk mengundur pernikahan yang sejatinya sudah bisa kita laksanakan, nikah itu ibadahkan kak? Lalu pacaran itu apa? Maksiat. Pacaran bisa berakhir menyedihkan kak, lebih banyak ruginya untuk wanita sedangkan pria? Seperti yang kakak bilang tadi, kalau kita sudah bosan pacaran dengannya kita bisa minta putus dan cari yang baru, tapi bukankah pihak yang sangat dirugikan itu adalah pihak wanita? Memangnya kakak mau seperti itu?” pertanyaan Siddiq kala itu justru membungkamkan aku.

“Memang kakak sudah pacaran dengan pacar kakak berapa lama?” Tanya Yasar yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.

“Eh, tiga tahun Yar.” Jawabku dengan menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Lama ya kak, nyicil motor sudah kelar kali kak.” Jawab Yasar yang justru semakin membuat ku salah tingkah.

“Kak, pria yang baik tidak akan membuat kakak menunggu terlalu lama, pacaran bukan suatu kepastian hanya pernikahan bentuk hakiki dari sebuah kepastian─”

“Tapi kan kami masih kuliah Sid, dia masih kuliah uang dari mana untuk menikahi ku?” Pertanyaanku memotong penjelasannya.

“Sidiq tahu, kakak dan juga dia masih kuliah dan belum punya penghasilan, tetapi itu bukan sebuah alasan untuk tidak memberikan kepastian untuk kakak. Kepastian akan kakak yang di nikahkannya atau tidak. Apa pacar kakak pernah bertemu dengan ayah kakak untuk sekedar meminta izin untuk bersama kakak?”

“Belum, dia bahkan belum pernah bertemu dan berbincang dengan ayah secara khusus.”

“Sidiq tidak akan menggucilkan pacar kakak itu, karena Sidiq yakin kakak sudah dewasa untuk menanggapi semua itu tetapi Sidiq harap kakak jangan sepenuhnya percaya kepadanya dan bisa menjaga diri serta hati kakak,  jatuh cinta itu gampang tapi bangkit dari putus cinta itu sulit kak. Sulit dan berat.”

Hening.

Aku masih tergugu atas ucapan yang mungkin saja benar.

“Oh ya kakak tadi tanya mengapa aku ingin menikah, bukan? Aku ingin menikah muda karena aku ingin beranjak dewasa bersama pasangan hidupku nanti, bersama-sama memperbaiki diri hingga dapat sesurga dengannya.” Jelas Sidiq akan pertanyaan ku yang belum sempat ia jawab dan melanjutkan pertanyaan ganjil itu lagi. “Kak kalau kakak punya suami yang punya travel, umbroh misalnya, kakak mau tidak?  Karena kan sering ditinggal pergi, apakah kakak akan marah?”

“Mau saja. Aku tidak munafik kalau aku bilang aku enggak marah tapi mungkin aku marah hanya beberapa kali tetapi selama dia tidak macam-macam diluar sana kenapa harus marah? Aku mungkin butuh dirinya disampingku tetapi jika dia memberikan ku bukti dan penjelasan yang jelas, aku mungkin bisa memakluminya.” jawabku yang abai akan ke ganjilan itu.

“Kalau diajak menetap di Arab Saudi kakak mau?” pertanyaan ganjil itu diberikan kepadaku lagi.

“Maulah. Kan jadi bisa umbroh dan lihat Kabah terus.”

Malam itu, malam terkahir di Kota Madinah dengan rembulan bersinar indah yang menatap ku dengan penuh kehangatan. Kala itu aku tidak mengerti tujuan pertanyaan-pertanyaan ganjil itu hingga langit berbaik hati untuk menjelaskannya.

“Ay jadi gimana?” Tanya Icha yang merusak lamunan ku. Kami sedang makan di salah satu restauran dekat rumahku. Icha adalah salah satu teman baikku di Sekolah Tingkat Pertama juga Sekolah Tingkat Menengah sebelum aku memutuskan untuk pindah tetapi kami masih berteman baik hingga hari ini.

“Gimana apanya?” Tanyaku balik seraya menghabiskan milkshake coklat yang tinggal setengah.

“Duh lo daritadi dengar nggak sih pertanyaan gue? Anak ustad itu sekarang bagaimana? Kalian masih berkomunikasi?” Tanya Icha yang sebal karena aku tidak menjawab pertanyaannya malah asik menghabiskan steak daging diatas meja.

“Sudah enggak Cha, setelah dua hari yang lalu dia meminta izin untuk datang ke rumah dan memberitahukan tujuannya.”

“Lalu apa tujuannya Ay? Dia ingin menikahi lo?” Tanya Icha penuh antusias yang aku jawab hanya dengan sekali anggukan. “Dia bilang apa Ay? Apa yang dia bilang ke lo?” tanya Icha kepadaku sekali lagi

“Dia bilang ‘kak mungkin aku baru kenal kakak tetapi hati aku sudah yakin dengan kakak, aku ingin menikah dengan kakak.’ hanya itu.” Kataku menatap jendela.

“Hanya itu? Ya Tuhan Ay, itu bukan sekedar hanya itu Aya Azzara Rumaisha. Ya ampun.” Seru Icha penuh histeris “Lalu lo jawab apa Ay?”

“Iya gue bilang enggaklah Icha. Lo tahu kan gue masih sama Putra sudah lama juga gue bersamanya masa gue tinggalin dia dan memilih menikah dengan laki-laki yang baru gue kenal?” Jawabku kesal karena dia seharusnya lebih tahu jawabanya.

“Aya, dengerin ya kata-kata gue. Lo memang sudah lama pacaran dengan Putra tetapi tidak menutup kemungkinan lo bakalan nikah dengan Putra―” kata Icha kepadaku.

Aku balas dengan tatapan tajam kepadanya memberi isyarat― kurang ajar lo doain gue putus?!

 “Bukan gitu maksud gue Ay, dengar penjelasan gue dulu. Lo mungkin sudah lama bersama Putra, sudah sangat mengenalnya tetapi bukan berarti dia yang terbaik untuk lo, begitu juga dengan Sidiq lo mungkin baru mengenalnya tetapi bukan berarti dia buruk untuk lo Ay. Seharusnya lo memberikan kesempatan untuknya bertemu dengan bokap lo dan biar bokap lo yang menentukan. Karena gue yakin bokap lo juga ingin lo bersama dengan pria yang baik Ay.” Jelas Icha dan berhasil membuatku berfikir banyak hal.

“Iya gue bilang pada Siddiq kalau gue masih percaya dengan Putra dan masih ingin mempertahankan hubungan gue dengan Putra. Dia pun akhirnya berlapang dada atas keputusan gue.”

“Iyalah, lagi pula ya pria mana yang mau menikahi wanita yang masih mempercayai pacarnya?” Seru Icha mengusap pelipis yang berkeringat yang aku balas dengan anggukan dan ia bertanya lagi “Lalu kalian masih berkomuniasi lagi?”

“Sudah tidak Icha astaga kan sudah gue jawab tadi, lagipula Putra melarang gue untuk berkomunikasi dengannya, sosial media Sidiq pun semuanya sudah di blok oleh Putra jadi gue sudah lost contact dengan Sidiq.” Jawabku yang kesal akan pertanyaan yang sama berulang-kali.

“Jangan bilang lo cerita dengan Putra kalau Sidiq ingin datang ke rumah lo untuk melamar lo?” Tanya Icha yang penuh emosi.

“Iya enggaklah Cha cuma Putra tahu kalau saat gue di Madinah gue sempat jalan dengannya.”  Kataku yang dan dia hanya membalas dengan anggukan.

♥♥♥

 

Bulan silih berganti menjadi hitungan tahun yang mengumpulkan banyak kenangan manis maupun pahit, lika-liku sebuah hubungan percintaan─perkelahian kecil-pengkhianatan kecil-kebohongan kecil yang menumpuk menjadi besar dan mematikan. Tetapi kami cukup bisa melaluinya; marah-putus-balikan siklus yang sama seperti dua tahun silam kala kami masih beranjak dewasa. Usia ku kini 21 tahun masih ada 6 bulan lagi menjelang 22 tahun dia pun sama― kami hanya selisih tiga hari  dan hubungan kami sudah terjalin selama empat tahun.

Tetapi tepat awal usia ku 22 tahun aku mendapatkan kekecewaan yang amat besar dari sebelumnya, kekecewaan yang tidak pernah terbesit dipikiranku.

“Terus bagaimana Ay cerita dari mimpi lo?” tanya Ayu di sampingku.

Ialah Ayu teman baik ku sewaktu Sekolah Menengah Atas, saat aku duduk di kelas tiga― Ayu adalah teman sebangku ku. Dulu aku hanya menganggap Ayu hanya seorang teman bagiku tetapi waktu silih berganti dan berbaik hati menunjukkan kualitasnya, Ayu yang juga satu tempat kursus dengan ku dan juga Nandya menjadikan kami semkain dekat─ walaupun selama kursus kami hanya berteman. Tetapi bukankah tidak ada awal mula untuk menjadi seorang sahabat?

“Iya Yu sejujurnya gue mimpi ini sudah sangat lama dan terus berulang setiap hari. Gue mimpi almarhumah ibu datang kedalam mimpi gue dengan wajah memerah menahan marah ibu bilang ‘Aya sudah berapa kali ibu bilang, ibu tidak pernah ridho kalau kamu bersama dengan Putra’ gue didalam mimpi marah Yu, memang kenapa kalau gue dengan Putra? Putra pria yang baik, dia mencintai gue, apa yang kurang darinya? Di mimpi gue balas bertanya, ‘Memangnya kenapa dengan Putra? Aya cinta dengannya ibu. Dia baik, dia sungguh pria yang baik untuk Aya!’ tapi lo tau apa yang ibu gue bilang? Dia bilang, ‘Putra bukan pria yang baik untuk kamu sayang, sungguh dia bukan pria yang baik’ dan gue balas dengan menghardiknya, ‘bagaimana ibu bisa tahu kalau dia bukan yang terbaik untuk Aya?’ dan ibu bilang, ‘Allah. Ibu tahu karena Allah yang memberitahu ibu bahwa Putra bukan pria yang baik untuk kamu.  Dan mimpi itu terus menerus datang disetiap malam Yu.”

Aku menangis terseduh-seduh di atas pasir tepi pantai. Hari ini sengaja aku pergi ke pantai kota hanya untuk bercerita dengan Ayu, aku hanya tidak paham arti sebuah mimpi akhir-akhir ini dan aku butuh Ayu untuk membantuku berfikir jernih. Hubunganku dengan Putra sejauh ini cukup baik-baik saja tetapi karena mimpiku akhir-akhir ini berhasil membuat aku sedikit menjauhinya. Tidak ingin dijemput, membalas pesan dengan singkat, dan seperti kali ini aku bilang padanya aku ingin pergi dengan Ayu untuk bercerita bebanku selama ini tanpa perlu menceritakan beban itu terlebih dulu kepadanya─ aku tidak ingin menceritakan mimpi itu padanya, setidaknya untuk saat ini.

“Sungguh lo mimpi itu Ay?” Tanya Ayu yang tidak percaya akan ceritaku.

“Iya Yu sungguh, sehari setelah mimpi itu gue mimpi ganjil lagi Yu. Gue mimpi gue duduk disebuah ruangan serba putih dan didepan gue ada sosok pria tinggi berbadan besar memakai jubah berwarna hitam dengan wajah yang tidak dapat gue lihat, dia bilang ‘Aya, kamu sebenarnya wanita baik-baik tetapi sayang kamu memilih dan bersama dengan pria yang tidak baik.’ Dan lo tahu Yu ketika itu dilangit gue melihat ada lahfaz Allah. Mimpi yang sama selama berhari-hari dan waktu terbangun selalu sama pukul 03.00 pagi.”

Ayu hanya mematung menatap punggungku, mungkin mencoba merangkai kata untuk ku.

“Yu sungguh wajah ibu ketika marah dalam mimpi memang membuatku takut, tetapi ada yang membuatku lebih takut dan merasa bersalah Yu. Ketika kemarin ibu datang menghampiriku dengan menangis dia bilang ‘dengarkan ibu sayang, putuslah dengannya ini demi kebaikan mu dan ibu disini.’ Yu gue takut kalau ibu dimintai pertanggung jawaban atas gue yang lalai akan perintahNya, lo tahu sendiri kan dalam agama kita pun memang sejatinya pacaran itu tidak dibenarkan. Yu gue juga banyak berfikir, gue masih belum bisa membahagiakannya, membahagiakan ibu dan ayah. Lalu mengapa gue dengan enakknya justru selalu membohongi mereka hanya untuk bersama pria yang belum tentu jodoh gue? Tega membuat mereka susah didunia  maupun diakhirat. Gue dari kecil selalu membuat mereka susah Yu, gue sakit-sakitan selalu buang-buang uang untuk hal yang nggak berguna; belanja, pergi kesana-kemari, menghambur-hamburkan uang sedangkan ayah gue membanting tulang mencari uang. Sungguh gue malu Yu, gue malu karena sampai detik ini gue masih belum bisa membahagiakan orang tua gue.” .

Aku menangis, menunduk. Ayu hanya terdiam, mengelus punggungku.

“Yu, gue mungkin tidak bisa memberikan mereka piagam dan pialang di dunia tetapi sungguh gue ingin memberikan mereka kemuliaan di sisiNya dengan taat akan perintahNya. Apa itu salah Yu?” tanyaku menatap wajah Ayu yang diam seribu bahasa.

“Tidak ada yang salah jika lo berniat dijalan Tuhan Ay.” Kata Ayu kepadaku.

Aku terdiam.

“Dan menjauhi larangNya adalah cara kita untuk taat kepadaNya.” Kata Ayu yang kini memelukku.

Aku menangis.

“Lo ingin putus dengan Putra?” tanya Ayu dengan lemah lembut.

“Tidak, kalau ada pilihan lain gue tidak ingin putus dengannya Yu.”

“Jika kalian saling mencintai, menikahlah, tidak perlu mewah setidaknya Tuhan tidak murka akan hubungan kalian.”

“Ayu bagaimana mau menikah? Putra selama empat tahun saja tidak pernah kerumah untuk memperkenalkan dirinya secara khusus. Memperkenalkan dirinya bahwa dia adalah kekasih gue terlepas dari itu semua, kita masih kuliah dan dia juga belum ada pekerjaan lalu bagaimana bisa menikahi dan menghidupkan gue? Bagaimana bisa dia menghidupkan gue nanti?”

“Itu lo tahu jawabannya Ay” kata Ayu kepadaku yang ku balas dengan wajah bingung, “Ay lo sudah tahu kalau dia tidak serius dengan lo, mana ada pria yang serius dengan membiarkan wanitanya menunggu? Tidak perlu memikirkan pernikahan, kerumah saja hanya beberapa kali kan? Itu juga hanya ketika sweet seventeen, menjadi tamu dipemakaman ibu lo dan untuk pertama kalinya dia datang kerumah lo di lebaran tahun kemarin. Ah seorang teman juga biasa melakukan itu, bukan? Datang kerumah teman lainnya untuk lebaran. Tetapi bukan itu yang lo butuhkan Ay, bukan itu.”

Aku terdiam.

“Yang lo butuhkan adalah dia memperkenalkan dirinya secara khusus bahwa dia adalah kekasih lo, setidaknya agar ayah lo tahu siapa yang dicintai anaknya, pria mana yang telah meluluhkan anaknya, pria mana yang sanggup menggantikan posisinya suatu saat nanti.”

Ya Tuhan semua yang dikatakan Ayu adalah benar.

“Ay percaya sama gue, perkataan orang tua selalu benar. Dari awal kalian pacaran juga ibu lo nggak pernah setuju kan? Dan sampai ibu lo tiada pun ibu lo tidak pernah mengatakan setuju akan hubungan kalian hingga akhirnya Tuhan sendiri yang menunjukkan kalau dia mungkin memang bukan yang terbaik untuk lo. Apa lo masih ingat waktu pertama kali kalian pacaran dia tanpa sepengetahuan lo dia dekat dengan teman SMA nya, kedua ketika ibu lo meninggal dia justru tinggalin lo sendirian padahal dia tahu benar kalau lo sedang butuh dia tapi dia lebih memilih pergi futsal dengan teman-temannya, dan ketiga lo dibohongi LAGI bahkan lebih parah dia sudah berani bersumpah atas nama Allah, atas nama Tuhan! Ay Tuhan aja dipermaikan APALAGI LO!”  Seru Ayu kepadaku

Aku menangis, mengenang luka lama adalah hal yang menyakitkan.

“Dan menurut gue mimpi lo selama ini adalah cara ibu lo untuk mengatakan bahwa memang bukan dia yang terbaik buat lo terlebih ibu lo sudah tiada Ay, mungkin benar Tuhan sendiri yang memberitahukannya bahwa Putra bukan yang terbaik untuk lo. Tuhan ingin lo kembali pulang.”

♥♥♥

 

Petang semakin meninggi di lingkupi awan hitam yang tak kunjung hujan. Setelah nasihat Ayu sebulan yang lalu membuat ku semakin yakin untuk melepaskannya. Aku tadi siang memintanya datang ke taman kota dan aku memberitahukan beban yang selama ini aku tutupi darinya serta menjelaskan tujuanku memanggilnya. Siang itu aku menceritakan segalanya kepada Putra, seperti yang aku ceritakan kepada Ayu sebulan lalu.

Aku menberikan dua pilihan kepadanya dan membiarkannya mengambil keputusan untuk dirinya, diriku dan untuk kami.

“Sayang aku sudah telalu sering mengambil keputusan seorang diri tanpa perlu melibatkan kamu maka siang ini biarkan aku melibatkan kamu untuk mengambil keputusan dalam urusan ini, aku memberikan dua pilihan kepadamu dan ku ingin kamu ikut andil dalam mengambil keputusan ini, yang aku lakukan demi kita.” Kataku kepadanya.

Dia diam seribu bahasa, setelah aku menceritakan segala beban yang selama ini ku tanggung seorang diri.

“Jika memang kamu serius dengan ku, dengan hubungan kita aku mohon datanglah ke rumah bertemu Ayah dan beritahukan kepadanya bahwa kamu mencintaiku. Tenang saja aku tidak akan meminta mu untuk segera menikahkan ku hanya saja aku ingin kamu lebih menunjukkan keseriusan mu atas diriku dan hubungan yang telah terjalin selama empat tahun ini― serius untuk bertemu dengan ayah. Put, aku akan mempertahankan hubungan ini sampai tetes darah penghabisan jika kamu juga terlibat di dalamnya tidak hanya aku, aku sudah mengenal baik dengan orang tua mu dan juga keluarga besarmu sekarang saatnya kamu yang mengenal orang tua ku. Putra, aku hanya memiliki satu orang tua yaitu ayah, aku hanya ingin kamu lebih peduli kepadanya─ menghargainya sebagai orang tua ku. Sayang jangan sampai kamu ketemu Ayah ku dihari terakhirnya didunia karena sungguh itu tidak berarti lagi untuk ku.” Jelasku.

“Bukan begitu Ay, aku hanya─” lirih Putra.

“Hanya takut? Apa harus ayahku tiada dulu baru kamu berani ke rumah ku?” Seruku kepada Putra yang duduk diam di sampingku. “Jika kamu memang masih belum yakin akan hubungan ini, belum yakin kalau aku adalah seorang wanita yang selama ini kamu cari untuk kamu jadikan ku istrimu. Kamu tahu apa yang terbaik untukku, untukmu, dan juga untuk kita tetapi jika memang kamu tidak bisa melihatku menderita akan ketidakpastian kamu, ketegasan kamu, keseriusan kamu untuk bertemu ayah. Aku  yakin kamu tahu keputusan apa yang harus kamu ambil untuk kita, keputusan yang terbaik untuk kita.”

“Aku sungguh menginginkan kamu, aku sungguh ingin kamu menjadi istriku tetapi maaf aku masih belum bisa datang kerumah mu untuk bertemu dengan ayah mu─ aku masih belum layak bertemu dengannya. Tetapi cukup kamu tahu bahwa aku sungguh benar mencintai mu, aku serius dengan mu walaupun tidak untuk sekarang. Aku akan ikhlas melepaskan mu dan berdoa yang terbaik untuk hidupmu.” Kata Putra setelah lama berdiam diri dan aku memahami maksud dari pernyataannya.

Kami putus.

Aku sungguh tidak membenci sikapnya terhadapku selama ini, bukankah manusia itu tidak sempurna? Lalu mengapa kita sebagai manusia justru meminta kesempurnaan pada manusia lain? Akankah itu sebuah keadilan? Terlebih aku juga tidak sempurna sehingga aku juga tidak selamanya layak mendapatkan perlakukan baik setiap saat. Pun bukan berarti aku tidak mencintainya, dengan segala pengorbanan ku; menentang dan berbohong kepada orang tua ku hanya untuk bersamanya atau segala yang aku berikan; cinta, kasih sayang,  kejujuran, waktu, juga tenaga apakah segala itu tidak bisa dikatakan bahwa aku sangat mencintainya?

Apakah aku salah mengambil keputusan? Apa aku akan menyesal melepaskannya?  Apakah dia benar mencintaiku?

Sang angin memeluk tubuhku yang menatap senja dibalik jendela. Burung pipit menyanyikan lagu belasungkawa dan senja berkata,  ‘Tenang saja, waktu akan berbaik hati menjawab semuanya, segala pertanyaan-pertanyaan yang menyesakkan dada mu hari ini cepat atau lambat Dia akan menjawab semuanya dan luka itu juga akan disembuhkan olehNya. Percayalah, percayalah bahwa janji Tuhan adalah pasti.

♥♥♥

Tinggalkan Komentar