Alegoris Kehidupan

0
263

BAB 5BIANGLALA DITAMAN HIBURAN

Bagian I

“Akhirnya sayangku bisa lancar juga kendarain motornya.” Kataku memecahkan keheningan.

“Hahaha iya semua ini karena kamu.” Jawab Putra padaku mengendarai motor dengan sangat hati-hati.

“Kok aku?”

“Iya kamu ingat kan dua minggu lalu aku ajak kamu bertemu dengan keluarga besar aku, Ibu bilang apa?”

“Ingat, Ibu kamu bilang ‘belajar motor dong dek kamu nggak kasihan sama Aya yang selalu naik angkot atau bajaj tiap kali kamu ajak jalan?’ gitu kan?” kataku menirukan cara bicara Ibu Putra dua minggu yang lalu.

“Iya setelah ketemu dengan kamu, besoknya aku langsung dipaksa belajar motor sama Ibu dan Bapak.”

“Hahaha bagus dong jadi kita nggak perlu naik angkot atau bajaj lagi dan uang untuk naik angkot bisa untuk jajan.”

“Hahaha iya sayang. Oh ya sayang bagaimana nilai rapot kamu?”

“Alhamdulillah cukup memuaskan yang meningkat jadi peringkat dua belas besar nih, kamu sendiri bagaiman rapotnya?”

“Alhamdulillah yang  aku juga memuaskan nilai rapotnya, walaupun nggak masuk peringkat sepuluh besar seperti SMP dulu hehe.”

“Nggak papa sayang yang terpenting kamu sudah berusaha, aku selalu bangga dengan kamu.”

“Makasih ya sayangku, aku juga bangga dengan kamu. Nanti kamu mau nonton apa?”

“Kembali kasih sayang. Hmm nonton apa ya? Horror aja deh yang, ada film horror yang ingin ku tonton dari kemarin.”

“Yakin? Nanti kamu takut, teriak-teriak bikin malu aku.” kata Putra menggodaku.

“Dih kamu tuh yang bikin aku malu” seruku mencubit pinggangnya.

“Aku bikin malu apa?”

“Kamu jelek jadi aku malu. Hahaha” godaku yang dibalas dengan wajah masam.

Aku sering menggodanya, bukan dengan artian yang sesungguhnya hanya ingin melihat wajah kesalnya yang sering kali buatku semakin gemas.

“Sayang kok tumben kamu bawa tas?” tanyaku seraya turun dari motor― sudah sampai.

“Sengaja.” Jawab Putra yang ku balas dengan wajah menyediki “Ini buat kamu sayang kado pertama dari aku. Semoga suka ya.” Kata Putra seraya mengeluarkan boneka anjing dengan topi berwarna coklat.

“Makasih ya sayang aku suka banget! Aku akan kasih nama Puya! ” kataku memeluknya.

“Kembali kasih sayang. Puya?” jawab Putra dengan wajah penuh tanda tanya.

“Iya Puya, singkatan dari Putra dan Aya. Lucu kan?”

“Hahaha iya lucu sama kaya kamu.” Kata Putra mencubiti pipiku.

Kami hari ini penuh dengan suka cita, menghabiskan waktu hanya berdua diakhir sisa libur sekolah, bercerita dan berbagi banyak hal seakan dunia milik berdua. Ah urusan jatuh cinta selalu seperti itu, bukan?

♥♥♥

 

“Eh? Tas Nara kemana?” Tanyaku bingung melihat tas yang berada disamping ku berbeda.

Pagi ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah sisa libur sekolah kemarin yang aku habiskan bersama Putra. Tadi pagi aku melihat mading yang tertuliskan nama ku beserta kelas yang menjadi kelas baru untuk ku di kelas tiga. Bergegas menaruh tas diatas kursi dengan Nara disampingku dan meninggalkanya sebentar untuk bertemu Dede di kelas lain.

“Tadi Nara minta tukeran tempat duduk sama gue.” kata seseorang yang tidak ku kenal menghampiriku.

“Oh, Nara minta pindah?” tanyaku yang memahami situasi.

“Iya. Gue Ayu, nama lo siapa?”

“Gue Aya.”

“Lo nggak marah kan karena gue jadi teman sebangku lo?”

“Hahaha enggak kok santai saja. Lo sendiri nggak papa?”

“Nggak papa, justru senang. Hahaha.”

“Eh?”

“Iya karena sebenarnya gue juga nggak nyaman sebangku dengan Wiwi.”

“Loh memang kenapa?”

“Nggak Papa. Oh iya lo mirip dengan seseorang deh Ay.”

“Mirip? Dengan Siapa?”

“Dengan Tyas, nah itu orangnya.” Seru Ayu seraya menunjuk seseorang tidak juga ku kenal.

“Oh itu ya yang namanya Tyas?”

“Lo kenal?”

“Enggak juga sih hanya saja respon guru-guru pertama kali gue pindah, mereka bilang gue mirip Tyas. Cuma gue nggak terlalu memperhatikan Tyas seperti apa orangnya, ini juga baru pertama kali gue lihat.”

“Lo jarang keluar kelas ya Ay?”

“Hehe iya bisa dibilang begitu sih.”

“Tapi sepertinya Tyas kenal lo deh.” Kata Ayu melihat seseorang yang dibicarakan menghampiri.

“Lo Aya ya? Murid pindahan yang kata orang-orang mirip gue?” Seru gadis berkerudung dengan tubuh gemuk dan berkulit putih memakai kacamata menghampiri ku― aku sekarang paham mengapa mereka mengatakan bahwa kami ini mirip.

“Eh? Iya gue Aya, lo Tyas ya?” kata ku menggulurkan tangan.

“Iya gue Tyas dan disana Angle, bidadari dikelas kita.” Seru Tyas tertawa yang dibalas dengan pukulan dari seorang lelaki teman sebangkunya.

“Angle?” tanyaku memastikan.

“Nggak usah bingung Ay, namanya memang bener Angle kok.” Kata Ayu disampingku.

“Yahh ketemu kekasih suju lagi.” Kata Tyas menggoda Ayu disampingku yang dibalas dengan cubitan.

Aku tersenyum.

“Tyas, Angle gak nyangka kita sekelas lagi.” Seru anak laki-laki keturunan Chinese menghampiri kami yang sedang asik berbincang.

“Kiki, makin subur saja lo.” Seru Tyas menepuk perutnya yang membuncit.

“Lo habis mangkal dimana Ki? Dompet makin tebel nih.” Kata Angle menepuk pundaknya.

“Sialan lo. Minggir ini tempat duduk gue.” Seru seseorang itu dan aku serta Ayu tertawa memperhatikan. “Eh, lo Aya ya? Gue Kiki. Sumpah ternyata memang benar gosipnya, lo mirip dengan Tyas walaupun sikapnya jauh berbeda.”

“Iya gue Aya. Berbeda bagaimana Ki?” Tanyaku membuka percakapan.

“Tyas mah otaknya rada sengklek, pecicilan beda sama lo.”

“Hahaha bisa aja Kiki.”

“Aya! Sekelas lagi kita Ay.” Seru seseorang yang ku kenal.

“Eh Darma. Iya nih.” Jawabku pada Darma teman sekelas ku dulu.

“Lo kenal Ay?” tanya Ayu kepadaku.

“Iya dia Darma teman sekelas gue.” Jawabku yang dibalas dengan anggukan.

“Disini kosong?” tanya Darma pada Kiki.

“Kosong.”

“Oke gue duduk sini.” Kata Darma yang dibalas dengan anggukan.

Dan sepanjang hari tiada guru yang mengajar hanya wali kelas kami yang sempat menyapa kami yang diakhiri dengan menentukan pengurus kelas dan setelah itu beliau pun pamit─ kelas pun di bubarkan lebih awal. Sebenarnya aku sangat bersyukur karena Nara meminta pindah tempat duduk bukan karena aku benci hingga menjauhinyaseperti itu hanya saja aku masih canggung dengan Nara, sikapnya semakin hari semakin membuatku sulit untuk bersama dengannya lagi walaupun dalam beberapa bulan setelah aku dan Putra resmi pacaran Nara memilih untuk berpacaran dengan teman sekelas kami Yudha dan kembali bermain bersama ku lagi seperti biasa, tetapi tetap saja sikapnya sudah berubah tidak seperti Nara yang aku kenal dulu. Mungkin benar kata Bu Azizah bahwa gelas miliknya sudah pecah juga gelas milikku, kami tidak bisa bersama lagi seperti dulu. Entahlah.

“Gimana kelas barunya?” Tanya Putra yang menjemput ku.

“Lumayan.” Jawabku singkat.

“Loh kok lumayan?”

“Iya karena aku satu kelas lagi dengan Nara.”

“Nggak enak dong kalau begitu.”

“Enggak juga, karena Nara yang tadinya duduk sebangku denganku tiba-tiba bertukar tempat dengan orang lain yang ternyata lebih lebih baik darinya.”

“Hahaha bagus dong kalau begitu.”

“Kenapa bagus?”

“Karena kamu nggak perlu lagi duduk sebangku dengan Nara, aku nggak suka.”

“Nggak suka kenapa? Karena dia pernah nolak kamu? Hahaha.”

“Bukan begitu, aku hanya nggak suka karena dia sudah menyakiti kamu.”

“Jangan begitu, dia nggak jahat kok justru aku yang jahat sudah ngerebut kamu dari dia. Jangan benci dia mengatas nama kan aku.”

“Terserah kamu saja deh.” Jawab Putra singkat yang dapat ku lihat wajahnya yang sedikit memerah.

Sejujurnya aku memang senang mengetahui Putra sekarang membenci Nara  tetapi aku lebih merasa tidak nyaman jikalau dia membenci Nara terlebih jika alasan dia membencinya karena Nara telah memperlakukan ku dengan tidak baik. Aku hanya mencoba memahami rasa sakit yang Nara rasakan ketika aku menyakiti hatinya dan memahami kalau perlakukannya terhadapku tak lepas dari rasa kecewa yang dia terima karena diriku. Dan kalau Putra membencinya, itu hanya membuatku tambah merasa bersalah kepadanya.

“Kamu sendiri bagaimana kelas barunya?” tanyaku memecahkan suasana.

“Asik! Aku sekelas lagi dengan Nando. Oh iya juga dengan Ara, dia teman SD mu kan?”

“Oh Ara? Iya dia sahabat ku waktu SD, dia sekelas dengan mu?”

“Iya, awalnya aku sapa dia dan dijawab jutek tapi saat aku bilang kalau aku pacar kamu dia langsung heboh. Hahaha.”

“Hahaha dia memang begitu sifatnya, tapi nggak papa dia baik kok.” Kataku yang dibalas dengan anggukan.

Sesampai aku dirumah aku tertidur pulas hingga adzan magrib berkumandang, aku yang tidur dari siang hari kini akhirnya terbangun, bergegas untuk salat dan bersiap-siap menunggu Nek Nuha datang mengajariku melancarkan bacaan Al-Quran.

“Nak, Allah telah menciptakan pagi untuk hambahnya supaya mereka mencari sebagian karuniaNya yang terkadang terabaikan, agar kita lebih bersyukur atas segala yang telah Dia berikan dalam hidup. Untuk setiap nafas yang kamu hirup, setiap nikmat yang  kamu dapatkan serta cinta yang menyelimuti hati dan dirimu― cinta ibu dan ayah mu, saudara-saudara perempuan mu, sahabatmu dan tentu yang terpenting adalah cinta yang selama ini Allah berikan padamu.” Kata Nek Nuha kepada kami.

“Lalu Nek kenapa Allah menciptakan malam untuk hambanya?” tanya Alia polos.

“Iya agar kita bisa tidurlah Lia, memangnya kamu mau apa sekolah terus?” celetuk Naila yang dibalas dengan wajah masam Lia dan aku tertawa melihat mereka bertengkar.

“Hahaha yang dikatakan kakak mu benar Lia, Allah menciptakan malam supaya mereka, Nenek, Kak Aya, Kak Naila dan juga kamu Lia untuk beristirahat karena sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang adalah bentuk dari kebesaranNya. Begitu juga dengan kesedihan, jika Allah menimpakan kesedihan kepada hambanya maka Allah sedang mempersiapkan kebahagiaan untuk hambahnya. Roda kehidupan selalu berputar Nak, terkadang kita diberi kesulitan, kesedihan, kegagalan, kehilangan maka suatu saat nanti kita akan diberi kemudahan, kebahagian, kesuksesan dan juga pasti kita akan menemukan sesuatu yang kita cari, sesuatu yang pernah hilang yang mungkin akan dipertemukan dengan keadaan lebih baik atau akan dipertemukan dengan sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya. Selalu ada pelangi setelah hujan, selalu ada kebaikan setelah keburukan kita hanya cukup percaya bahwa Dia tidak akan pernah mengecewakan hambaNya―janjiNya adalah pasti.” Tutup Nek Nuha malam itu.

♥♥♥

 

“Assalamualaikum anak-anak.” Sapa seorang guru ekonomi kepada kami.

“Walaikumsalam Bu.” Jawab kami serentak.

“Perkenalkan nama Ibu adalah Dewi Sri Woro, panggil saja Bu Woro. Ibu adalah guru ekonomi baru kalian dan Ibu harap kalian bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Nah untuk hari ini materi yang akan diberikan adalah Akuntansi Perusahaan Dagang. Coba kalian buka buku halaman 15, kamu siapa namanya?” tanya Bu Woro pada Kiki yang duduk paling depan.

“Kiki Bu.” Jawab Kiki singkat.

“Iya Kiki coba kamu baca transaksi tanggal 1 dan coba kamu menjawabnya.”

“Pada tanggal 1 Agustus 2009 Pak Zein membuka toko alat tulis dengan menyetorkan uang tunai sebesar Rp 40.000.000 dan dua dus alat tulis sebesar Rp 15.000.000 perdus. Jawabannya adalah Kas bertambah Rp 40.000.000 Perlengkapan bertambah Rp 30.000.000 pada Modal bertambah Rp 70.000.000”

“Benar. Nah kamu siapa namanya?”

“Darma Bu.”

“Darma kamu baca dan jawab transaksi tanggal 3.”

“Pada tanggal 3 Agustus 2009 Pak Zein menjual barang dagangan kepada Panjul 2 dus pensil sebesar Rp. 3.000.000 dengan syarat 2/10, n/30. Jawabannya adalah Kas bertambah Rp 3.000.000 pada Pendapatan bertambah Rp 3.000.000.”

“Salah. Ada yang bisa memperbaiki?” tanya Bu Woro pada kami.

Aku menunjuk tangan.

“Iya kamu, siapa namanya?”

“Aya Bu.”

“Iya Aya jawaban yang benar bagaimana?”

“Piutang dagang bertambah sebesar Rp 3.000.000 pada Pendapatan bertambah sebesar Rp 3.000.000.”

“Benar, coba kamu Aya jawab transaksi transaksi tanggal 5.”

“Pada tanggal 5 Agustus 2009 Panjul membayar transaksi tanggal 3. Maka jawabannya adalah Kas bertambah sebesar  Rp 2.940.000 dan diskon penjualan sebesar Rp 60.000 pada Piutang dagang berkurang sebesar Rp 3.000.000.” kata ku menjawab pertanyaan.

“Tepat sekali Aya. Nah bisa kamu jelaskan maksud dari pernyataan  2/10 n 30 itu apa?”  tanya Bu Woro kepadaku.

“Bisa Bu. Jika dalam suatu transaksi terdapat pernyataan  2/10 n 30 maksudnya adalah transaksi tersebut dilakukan secara kredit dan jika pembeli dapat melunasi utang dari transaksi sebelum jangka waktu 10 hari terhitung dari hari pembelian maka pembeli akan mendapatkan diskon pembelian sebesar 2% dan untuk jangka waktu pelunasan utang yaitu 30 hari. ” Jelasku.

“Pintar. Kalian harusnya mencontoh Aya! Tidak ada waktu untuk kalian bersantai-santai, walaupun minggu ini adalah minggu pertama kalian di kelas tiga tetapi tidak ada alasan untuk kalian libur belajar. Mengerti?”

“Mengerti Bu.” Jawab kami serentak.

Sejujurnya aku sudah mempelajari materi itu kemarin, tepat di hari pertama aku mengikuti les dengan Bu Azizah oleh sebab itu aku mengetahui dan memahami materi hari ini. Maka pagi itu dan seterusnya aku menjadi anak emas Bu Woro.

“Ay, bagaimana bisa lo menaklukan guru yang dari senior-senior saja sudah bilang kalau itu guru galak, ribet dan cerewet.” Tanya Darma kepadaku seraya menghabiskan gorengan yang dia beli di kantin belakang.

“Gue juga nggak tahu Dar, gue saja bingung kenapa dia baik banget sama gue.”

“Lo pasti sudah melakukan sesuatu yang buat dia baik sama lo Ay!” Timpal Kiki.

“Aduh, gue melakukan apa Ki? Gue juga bingung kenapa dia bisa baik sama gue.”

“Coba Ay lo ingat-ingat lagi apa yang telah lo lakukan kepadanya karena semua ini terasa sangat ganjil.” Kata Ayu yang kini ikut-ikutan menggodaku.

“Jangan-jangan lo dibaik-baikin sama Bu Woro karena lo mau di nikahin sama anaknya? Anak bungsunya kan lagi cari pasangan.” Kata Tyas yang berhasil membuat tawa teman-teman.

“Sialan lo Yas! Gue juga ogah punya Ibu mertua cerewet seperti Bu Woro nanti gue bangun kesiangan gue di caci maki.” Seru ku.

“Atau jangan-jangan Bu Woro mau angkat lo jadi anaknya?” seru Angle tertawa.

“Sialan, lo saja sana Ngle jadi anaknya! Nyokap gue jauh lebih baik.” Seru ku sebal.

“Hahaha jadi lo benar nih enggak melakukan apapun?” tanya Ayu kepadaku.

“Hmm sepertinya enggak Yu, cuma kemarin saat gue sedang menunggu Putra menjemput, Bu Woro disamping gue juga sedang menunggu ojek langganannya. Iya karena gue tahu itu guru Ekonomi kita gue salim dan basah-basi sedikit.” Jawabku.

“Nah mungkin karena itu Ay! Memangnya lo basa-basi bagaimana?” tanya Darma padaku.

“Iya saat ojeknya datang gue bilang sama tukang ojeknya, gue bilang ‘Pak hati-hati bawa motornya ya jangan ngebut-ngebut itu guru saya.’ Cuma itu kok.” Kataku menghabiskan nasi ulam pesananku.

“Aduh Ay, itu bukan cuma itu tapi itu lebih dari itu― termasuk bentuk perhatian.” Kata Kiki kepadaku.

“Ah masa sih? Menurut gue biasa saja nggak berarti apa-apa toh gue juga pasti melakukan hal yang sama dengan siapapun.” Jawabku yang tidak mau kalah.

“Bedalah Ay  Bu Woro kan sudah tua mungkin dengan mendengar lo bilang seperti itu beliau jadi merasa diperhatikan.” Kata Ayu.

“Dan jadilah lo calon mantu idaman Bu Woro.” Timpal Tyas

“Siap-siap Ay lulus sekolah lo gendong anak. Hahaha” Seru Angle kepadaku yang ku balas dengan wajah masam.

Bel tanda masuk pun berbunyi, setelah ini pelajaran yang selalu ku benci datang menghampiri dengan seorang guru yang ribet dan sedikit cerewet buat ku malas mengikuti pelajarannya sejak aku dipindahkan terlebih karena aku tidak terlalu pandai dalam Bahasa English jadilah aku yang semakin malas memperhatikan pelajaran.

“Nah yang ingin membaca paragraph enam siapa?” tanya bu Hera pada kami dan kami balas hanya diam.

Tadi yang membacakan kalimat dalam Bahasa English adalah teman-temanku ialah Kiki, Tyas, Angle, Darma dan Ayu hingga berhasil membuatku was-was akan sesuatu yang mungkin saja terjadi. Idea gila yang mungkin saja akan salah satu atau mereka lakukan.

“Aya saja Bu yang baca.” Seru Tyas yang memecahkan seisi ruang― tertawa.

“Aya? Disini siapa yang namanya Aya?” tanya Bu Hera pada kami yang dibalas dengan Tyas, Kiki dan Angle menunjukku yang pucat pasi.

“Saya Bu.” Jawabku gemetar.

“Oh iya kamu Aya coba baca paragraf enam.” Seru Bu Hera kepadaku.

“Bu saya nggak bisa Bu.” Jawabku mengutuk Tyas dalam hati.

“Bohong Bu Aya jago banget Bahasa English nya. Kiki saja kalah.” Seru Angle yang ku balas dengan wajah penuh murka.

“Benar Bu saya juga diajari oleh Aya bagaimana berbicara Bahasa English dengan baik dan benar.” Timpal Kiki yang ku balas dengan tendangan di kaki bangkunya.

“Bohong Bu saya enggak bisa, sungguh.” Kataku membenarkan semua kesalahpahaman ini.

“Belum dicoba kok sudah bilang nggak bisa? Baca saja Aya, nanti Ibu dan teman Bu Ayu yang membantu membenarkan.” Kata Bu Hera kepadaku.

Aku pun mengalah membaca keras-keras paragraph enam dengan terbatah-batah didepan ku terlihat jelas Tyas, Angle, Kiki, Darma dan juga Ayu tertawa terpingkal-pingkal melihatku yang keringat dingin membaca paragraf yang sesungguhnya banyak itu. Jadilah aku selepas pulang sekolah memarahi mereka, menyumpahi mereka yang hanya menambah erat jalin pertemanan, hingga aku abai akan pertemanan ku dengan Nara abai jikalau dia berada dalam kelas.

“Ay lo nggak di jemput?” tanya Ayu kepadaku yang bingung melihatku ingin pulang jalan kaki bersama Ayu, Kiki, Tyas, Angle, dan Darma.

“Nggak. Kan gue tadi bilangnya jemput sore tapi karena ada rapat kita jadi pulang siang.” Kataku yang dibalas dengan anggukan.

“Main ke rumah Tyas dulu yuk!” Seru Kiki menatap kami.

“Boleh?” tanyaku kepada Tyas.

“Kenapa nggak?” jawab Tyas.

Kami pun bersuka cita bermain di rumah Tyas hingga senja datang menjemput mereka yang rindu untuk pulang.

“Lo dijemput Ay?” tanya Ayu kepadaku.

“Iya.”

“Parah Ayu ditinggalin.” Kompor Darma.

“Pacar lebih penting daripada teman ya.” Timpal Kiki.

“Gue sih kalau jadi lo marah Yu nggak mau berteman dengan Aya lagi.” Tambah Angle.

“Seganteng apa sih cowo lo Ay? Sampai tega tinggalin Ayu sendirian.”  Seru Tyas seraya memeluk Ayu─ tertawa.

“Ayu maaf. Gue suruh dia pulang saja deh.” Kataku yang tidak enak hati meninggalkan Ayu pulang sendirian dan teman-teman pun tertawa terpingkal-pingkal.

“Hahaha nggak papa Ay, nggak perlu didengarkan perkatan mereka. Gue nggak marah kok.” Jawab Ayu tertawa.

“Serius?”

“Iya. Nah cowo lo mana?” tanya Ayu kepadaku belum habis teman-teman tertawa seorang yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

“Itu dia cowo gue.” Jawabku menunjuk Putra yang sedang menunggu diluar pagar rumah Tyas.

“Kenalin dulu lah ke kita.” Seru Tyas.

“Betul! Gue mau tahu cowo lo seperti apa.” Timpal Kiki yang diikuti Darma, Angle dan Ayu keluar rumah.

“Sayang!” Panggilku kepada Putra seraya melepaskan helm biru miliknya. “Perkenalkan ini teman-teman ku Tyas, Ayu, Kiki, Angle dan Darma.” Kataku memperkenalkan  mereka satu persatu kepada Putra.

“Putra” kata Putra menyambut tangan teman-temanku.

“Sayang bisa tolong anterin Ayu sebentar? Kasihan dia pulang sendiri.” Pintaku kepada Putra.

“Boleh.”

“Ayu gih sana pulang duluan.” Kataku kepada Ayu.

“Nggak usah Ay gue jalan kaki saja.” Jawab Ayu.

“Bodoh lo Yu, sudah mau saja lumayan irit ongkos.” Kata Tyas.

“Daripada jalan kaki nanti kecantikan lo luntur.” Goda Darma.

“Benar Yu, kalau lo pulang sendirian nanti lo di godain om-om.” Kata Kiki.

“Itu mah lu Ki, di godain om-om.” Timpal Angle dan kami pun tertawa.

“Sudah Yu nggak papa gue tunggu dirumah Tyas, lagipula rumah lo nggak jauh dari sini Yu. Santai saja sama Putra mah.” Bujuk ku kepada Ayu.

“Nggak papa Yu gue anterin sebentar nanti gue balik lagi jemput Aya.” Kata Putra meyakinkan yang akhirnya Ayu pun menyetujui ajakan ku untuk pulang terlebih dahulu diantar oleh Putra.

“Lo sudah berapa lama dengan Putra?” Tanya Tyas memecahkan keheningan― Angle, Kiki dan Darma sudah lama pulang.

“Hampir setahun Yas.”

“Orang tua lo tahu lo pacaran dengan Putra?” tanya Tyas yang ku balas dengan gelengan. “Kenapa? Karena Putra jelek? Hahaha.” Goda Tyas tertawa yang ku balas dengan melemparkan bantal tepat ke wajahnya.

“Nggak tahu kenapa Yas, orang tua gue nggak setuju saja gue pacaran dengan Putra terlebih nyokap gue.” Kataku.

“Memang masih nggak boleh pacaran?”

“Iya memang sebenarnya nggak boleh pacaran sih hehe.”

“Terus Putra sudah pernah ketemu orang tua lo?”

“Belum, dia nggak berani tapi dia sudah gue kenal dengan kakak-kakak gue.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu mungkin karena bokap gue galak.”

“Segalak apapun bokap lo juga pasti nggak akan mungkin usir anak orang kan?”

“Iyalah Yas.”

“Berarti memang cowok lo yang nggak mau ke rumah lo, nggak mau kenal keluarga lo terlebih orang tua lo.” Kata Tyas padaku yang berhasil membuatku memikirkan banyak hal.

“Makanya Yas nanti acara sweet seventeen, gue akan suruh dia ke rumah.” Kataku yang dibalas dengan anggukan.

“Aya!” Seru seseorang yang sedaritadi ku tunggu.

“Iya sayang. Yas gue pulang dulu ya makasih mie ayamnya. Assalamualaikum.” Pamitku seraya menaiki motor― pulang.

“Sama-sama. Walaikumsalam.”

“Mereka adalah teman-teman ku yang kemarin aku ceritakan ke kamu.” Kataku memecahkan keheningan.

“Iya cowonya banyak juga ya.” Kata Putra dengan wajah masam.

“Kenapa? Cemburu?” kataku mencubit pipinya.

“Nggak tahu.”

“Hahaha sayang buat apa cemburu? Kamu lihat sendiri kan Angle dan Kiki bagaimana? Nggak mungkinlah mereka suka sama aku.”

“Mereka mah aku nggak masalah.”

“Terus siapa?”

“Darma.”

“Hahaha dia lagi PDKT dengan Tyas bentar lagi juga jadian.”

“Benar begitu?”

“Iya sayang.” Kataku merebahkan kepala ku dipundaknya yang dibalas dengan Putra membelai lembut kepalaku.

“Sayang sweet seventeen, kamu mau kado apa?” tanyaku.

“Mau kamu saja.”

“Hahaha kan sudah dapat.”

“Hahaha iya sudah aku nggak mau apa-apa lagi. Kalau kamu mau hadiah apa di sweet seventeen kamu?”

“Aku mau kamu kerumah aku. Cukup begitu saja.” Kata ku yang dibalas dengan diam beribu Bahasa. “Sayang? Mau kan kerumah aku?”

“Iya.” Jawab Putra setelah diam cukup lama.

Aku sampai rumah tepat setelah adzan magrib berkumandang, bergegas makan dan salat karena Nek Nuha akan segera datang dan memulai kelas mengaji seperti biasa.

“Nek Lia ingin bertanya Nek.” Seru Alia selepas kelas mengaji selesai.

“Boleh, Lia ingin bertanya apa?” Tanya Nek Nuha dengan penuh kelembutan.

“Kalau orang lain jahatin kita, kita boleh nggak balas menjahati mereka?”

“Bolehlah, kalau kita nggak salah jangan takut melawan!” seru Naila.

“Yeh enggak bolehlah, kalau mereka jahat nggak perlu kita balas kalau kita balas apa bedanya mereka dengan kita? Benar nggak Nek?” timpal ku.

“Kamu benar Aya, jika mereka menjahati kamu tidak perlu kamu balas Nak―”

“Tapi Nek kalau nggak dibalas nanti mereka jahati Lia terus.” Kata Alia.

“Lagipula ya Nek kalau mereka di diamkan nanti makin kurang ajar!” timpal Naila.

Aku tertegun―pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku enam tahun lalu.

“Nak, apa kamu tahu kehidupan itu adalah sebab-akibat?” tanya Nek Nuha pada kami.

“Tidak Nek.” Jawab Naila dan Alia serentak.

“Sebab akibat itu apa Nek maksudnya?” tanya Alia

“Sebab akibat itu adalah ketika kita melakukan kebaikan atau pun keburukan kepada orang lain maka cepat atau lambat kita akan merasakannya juga.” Jawab Nek Nuha

“Semacam karma ya Nek?” tanya Naila.

“Mungkin bisa dikatakan seperti itu walaupun sejatinya tidak seperti itu.”

“Maksudnya bagaimana Nek?” tanyaku

“Karena sejatinya kejadian yang telah menimpa kamu, apa yang telah kamu lalui dan juga seseorang yang kamu temui adalah suratan takdir. Yang telah, sedang dan akan terjadi sejatinya sudah tertulis di lauh mahfuz, mungkin hari ini kamu merasa sakit telah bertemu dengan seseorang atau mungkin hari ini kamu merasa bahagia bersama dengan seseorang itu. Tetapi percayalah Nak, apapun yang kamu rasakan hari ini baik sedih maupun senang percayalah suatu saat nanti kamu akan berterimakasih kepadanya sebab dia memberikan pelajaran baik untuk hidupmu dimasa depan tidak peduli dengan cara yang menyakitkan atau membahagiakan apapun bentuknya suatu saat nanti kamu akan bersyukur karena seizinNya lah kamu dipertemukan dengan seseorang itu. Nak, terkadang Allah menitipkan seseorang atau sesuatu agar kamu bisa memberikan warna dalam hidupnya atau dia memberikan warna dalam hidupmu, warna untuk menuntunnya atau menuntunmu untuk kembali pulang. Allah mengetahui segalanya sedang kamu tidak, cukup percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kamu dimasa depan.” Kata Nek Nuha seraya menutup kelas mengajiku hari ini  dan meninggalkan aku dengan sesak dihati.

♥♥♥

 

Bulan silih berganti hari dimana yang aku tunggu akhirnya datang menghampiri, ialah hari kelahiranku. Hari terpenting bagi setiap anak remaja yang beranjak dewasa.  Umur yang yang menjadi awal dari pencarian jati diri, pencarian akan sesuatu makna detik demi detik kehidupan, suatu awal yang baru untuk hidup yang penuh dengan kiasan.

Alegoris kehidupan.

“Bu, Aya minta uang tambahan dong Bu.” Rengek ku memeluk ibu yang sedang asik menonton tv.

“Untuk apa Aya?” tanya ibu yang matanya masih tertuju pada layar TV.

“Untuk beli kado teman Bu. Dua hari lagi teman Aya ulang tahun.”

“Oh ya sudah besok ibu kasih.”

“Asik! Makasih Ibu.” Kataku memeluk ibu lebih erat.

“Teman-teman mu nggak kerumah lagi?” tanya ibu yang kini menatapku─ sinetron ke kesukaannya sudah selesai.

“Iya nanti juga ke rumah lagi Bu.”

“Teman mu yang mirip kamu siapa namanya? Ibu lupa.”

“Tyas Bu.”

“Oh iya Tyas, kamu tahu Ay, ternyata mamanya Tyas senior Ibu di SMP.” Seru ibu.

“Eh masa sih Bu?” tanyaku tertarik.

“Iya, Ibu kemarin reuni akbar di SMP dan mamanya Tyas cerita ke Ibu kalau Tyas adalah anaknya―” dan sisa malam itu ku habiskan dengan mendengar cerita ibu dikala remaja.

Pagi menyapa sunyi, hujan membahasi jalan aspal yang telah lama mengering, dan sang angin menitipkan rindu.

“Ayu!” seru ku memanggil Ayu yang berjarak 5 meter didepan ku.

“Pagi Ay. Tumben lo datang sepagi ini?” tanya Ayu berhenti sejenak menungguku yang sedikit berlari menghampirinya.

“Hehe iya nih kepagian bangunnya.” Kataku dan kami pun beranjak ke kelas.

“Eh Ay PR Matematika lo sudah selesai?” tanya Angle menghampir tempat duduk ku― Tyas masih belum datang.

“Sudah Ngle, kenapa?” tanyaku.

“Ajarin gue yang no 5 dong Ay gue nggak paham.” Kata Ngle padaku.

“Boleh. Gue jelasin dari awal ya Ngle” kataku seraya membuka buku tugas ku “Jadi biaya marginal suatu perusahaan ditunjukkan oleh MC = 4Q2 – 3Q + 5, dengan Q = banyak unit dan biaya tetap k = 3, dan k adalah konstanta integral. Maka tentukan persamaan biaya total (C). Nah caranya begini Ngle, MC = dC / dQ atau dengan kata lain dC = MC × dQ. Maka C= ʃ MC × dQ = ʃ (4Q2 – 3Q + 5) × dQ maka persamaaan biaya total adalah  4/3 Q3 – 3/2 Q2 + 5Q + k. Paham kan Ngle? Yu?” kataku menjelaskan.

“Paham Ay.” Jawabnya serentak.

“Gila Ay pantas saja bu Mora senang sekali memanggil lo maju ke depan kelas, ternyata lo pinter juga ya Ay gak nyangka gue. Hahaha” goda Angle padaku.

“Hahaha Alhamdulillah sih gue sedikit mengerti.”

“Eh Bu Mora datang.” Seru Ayu mengagetkan Angle yang duduk didepan Ayu, terlihat Bu Mora dan teman-teman sekelas berbondong-bondong memasuki kelas termasuk Kiki, Tyas dan Darma.

“Makasih ya Ay.” Kata Angle kembali ke tempat duduknya.

“Sama-sama Ngle.” Jawabku.

“Selamat pagi anak-anak” sapa Bu Mora pada kami.

“Selamat pagi Bu.” Jawab kami serentak.

“Baik kita akan membahas PR yang dua hari lalu Ibu berikan pada kalian. Nah Aya coba kamu kerjakan soal nomor satu.” Perintah Bu Mora kepadaku.

“Baik bu.” Jawabku seraya bangkit menuju ke papan tulis.

Bel tanda istirahat pun berbunyi setelah mata pelajaran matematika dan sosiologi selesai, aku pun seperti biasa berbondong-bondong bersama teman-teman pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sedari tadi berbunyi.

“Eh kalian dicariin sama nyokap gue. Katanya, kalian kok enggak main lagi ke rumah.” Jawabku menghabiskan semangkuk mie goreng dengan telur rebus.

“Iya sudah setelah pulang sekolah kita ke rumah Aya yuk!” Seru Kiki memakan sepiring penuh nasi goreng.

“Boleh, kerumah saja.” Jawabku.

“Asik makan gratis lagi kita Ngle.” Timpa Darma.

“Dih malu-maluin Yas cowok lo.” Seru Angle berpura-pura jijik melihat Darma.

“Kamu yang jangan malu-maluin aku deh.” Kata Tyas.

“Kalian sudah resmi pacaran nih?’ tanya Ayu.

“Sudah.” Jawab Tyas dan Darma serentak.

“Syukur deh kasihan gue tuh lihat Darma yang jadi ekor lo tiap hari tanpa kepastian.” Goda ku.

“Eh lo kok nggak kasihan sama gue?” seru Tyas tidak terima atas pernyataanku yang ku balas dengan wajah bingung “Lo harusnya lebih kasihan ke gue yang selalu mencium bau ketiaknya Darma tiap hari.” Gurau Tyas.

“Sialan lo yang.” Seru Darma dan kami pun tertawa.

“Ay kata nyokap gue, dulu nyokap lo adik kelas nyokap gue loh.” Kata Tyas menaiki anak tangga― kami sudah selesai makan.

“Iya kemarin nyokap gue cerita.” Kataku dan yang lain mendengarkan.

“Tapi kalian tahu nggak? Kata nyokap gue, nyokapnya Aya tuh waktu SMP cantik banget tubuh langsing, kulit putih, rambut hitam legam dan hidung mancung pokoknya primadona banget deh beda sama Aya. Kalian tahu sendirilah ya kalau Aya bagaimana.” Goda Tyas kepadaku dan teman-teman pun tertawa terpingkal-pingkal.

“Sialan lo Yas.” Kataku mencubit tubuh Tyas.

“Masuk yuk nanti Bu Hera datang.” Kata Kiki memecahkan kegaduhan.

Terdengar bel tanda masuk kelas menggemakan telinga.

“Assalaamualaikum anak-anak.” Sapa Bu Hera kepada kami yang sudah duduk rapi dalam kelas.

“Walaikumsalam Bu.” Jawab kami serentak.

“Sekolah kita akan mmengikuti tes toefl di SMA Negeri favorit di Jakarta, maka setiap kelas akan Ibu pilih 6 siswa/siswi yang ikut berpastisipasi dalam tes tersebut. Tetapi sebelum Ibu memilih ada yang ingin mengajukan diri?” tanya Bu Hera yang dibalas dengan diam. “Baiklah memang harus Ibu yang memilih 6 dari kalian, dan nama yang Ibu panggil maju ke depan untuk menerima nomor bangku kalian masing-masing. Kiki, Tyas, Ayu, Nara, Rio dan Aya silahkan ambil nomor bangku kalian.” Kata Bu Hera yang di iringi Kiki, Tyas, Ayu, Nara dan Rio maju ke depan kelas.

“Bu saya enggak usah saja Bu.” Seru ku yang dipanggil untuk mengambil nomor bangku untuk sekian kali.

“Kenapa memangnya Aya?”

“Saya tidak bisa Bu.”

“Nggak papa sekalian belajar.”

“Serius Bu saya nggak paham grammar.”

“Nggak masalah Aya yang penting kamu berusaha. Ayo maju Aya ambil nomor bangku kamu.” Kata bu Hera memaksa ku, aku pun terpaksa mengambil nomor bangku untuk ujian yang akan diadakan empat hari lagi.

Selepas bel tanda pulang sekolah berbunyi, teman-teman menunggu ku datang di depan gerbang sekolah. Aku tadi keluar kelas lebih dulu karena ingin ke toilet dan aku pun bergegas menghampiri teman-teman, tetapi baru saja aku keluar dari toilet Nara memanggil namaku membuatku berhenti sejenak.

“Aya!” seru Nara dengan seorang teman yang ku kenal.

“Hei Nar, Ndra.” Sapa ku pada Nara dan Indra.

“Hai Aya.” Sapa Indra.

Indra adalah teman ku di kelas dua dia adalah laki-laki bertubuh besar berwajah imut yang memiliki otak cerdas, aku cukup dekat dengannya.

“Tyas dan yang lain kemana? Kok tumben sendirian?” tanya Nara kepadaku.

“Gue tadi ketoilet dan mereka lebih dulu turun kebawah.” Jawabku.

“Oh.” Kata Nara singkat.

“Ay gue dengar dari Nara lo ikut tes toefl ya?” tanya Indra kepadaku― mencoba mengubah suasana ganjil diantara kami.

“Iya nih Ndra, padahal gue sudah bilang nggak mau.” Jawabku dengan penuh wajah lesu membicarakan percakapan ini.

“Kenapa memangnya?” tanya Indra

“Gue kan nggak bisa Bahasa English Ndra lo tahu sendiri waktu dikelas dua gue selalu remedial. Masa sekarang gue harus ikut partisipasi tes toefl?” kataku.

“Iya lo bilang sajalah lo nggak mau ikut.” Seru Nara kepadaku.

“Sudah Nar, lo lihat sendiri kan dikelas. Bu Hera masih kekeuh gue ikut tes toefl.”

“Gini ya gue tegasin, lo kan nggak bisa apa-apa dalam Bahasa English kalau lo ikut tes toefl, lo akan buat malu satu sekolah dengan hasil nilai lo yang jelek.” Kata Nara dan aku terdiam “Iya gue sih memang heran kenapa orang kaya lo disuruh ikut tes toefl, kan masih ada orang lain yang bisa ikut tes toefl.” Kata Nara menutup perbincangan sore itu karena datangnya Yudha, kekasih Nara yang datang menjemputnya.

“Aya! Woi Aya!” Panggil Angle kepadaku yang terpaku memainkan mie ayam dimeja makan― kami baru sampai dirumah ku.

“Eh kenapa Ngle?” tanya ku terkejut.

“Kalau nggak mau makan jangan di mainkan mie ayamnya, lo bisa kasih gue dan Angle. Masih laper gue nih.” Seru Darma dan Angle menganggukan kepala terlihat mie ayam dimangkuk sudah habis dilahapnya.

“Oh kalian masih lapar? Iya sudah ini makan mie ayam gue.”

“Asik gitu dong Ay daripada cuma lo mainin lebih baik untuk kita, betul nggak Ngle?” kata Darma mengambil mie ayam ku yang masih utuh.

“Lo kenapa deh Ay? Daritadi gue perhatikan diam saja. Lo sakit Ay?” Tanya Ayu kepadaku yang masih berusaha menghabiskan semangkuk mie ayam.

“Yu kalau nggak habis buat gue saja.” Seru Darma

“Najis lo yang, berhenti malu-maluin gue kenapa sih. Tadi minta sama Aya sekarang minta sama Ayu, heran perut lo terbuat dari apa sih? Karet?” timpal Tyas dengan menyentil jidat lebar Darma― Darma pun mengadu.

“Iya Ay lo kenapa? Nggak seperti biasanya?” tanya Kiki memastikan.

“Nara bicara apa Ay sama lo?” tanya Tyas kepadaku diiringi wajah bingung teman-teman. “Gue tadi lihat setelah Aya keluar toilet Nara memanggil lo. Dia bicara apa sama lo?”  tanya Tyas memastikan.

Aku pun menceritakan percakapan yang terjadi satu jam yang lalu.

“Dia serius bilang begitu Ay?” Tanya Ayu dengan wajah penuh terkejut.

“Dengan wajah datar dan tanpa senyum apalagi tertawa. Menurut lo apa?” kata ku balik bertanya.

“Gila sih gue cuma nggak nyangka saja dia sejahat itu sama lo.” Jawab Ayu.

“Ya elah sepintar apa sih dia tuh sampai bisa ngomong begitu ke lo? Lebih pintar Kiki kali daripada dia.” Seru Angle.

Aku terdiam.

“Bukannya lo dulu bersahabat ya Ay dengan Nara? Kok dia tega sih berbicara seperti itu ke lo?” tanya Darma.

“Iya, Nara sahabat gue di Sekolah Dasar sampai kelas dua SMA pun gue masih bersahabat dengannya.”

“Terus kenapa sekarang tidak berteman lagi?” tanya Kiki

“Sebenarnya waktu SMP teman sebangku gue sempat bercerita ke gue kalau Nara sebenarnya nggak suka sama gue, benci malah. Cuma gue nggak percaya dengan omongannya dia, walaupun gue memang sering dicemooh olehnya―”

“Dicemooh bagaimana maksudnya?” tanya Ayu.

“Iya di cemooh gendut lah, anak babilah. Iya lo tahu sendiri kan wajah gue kalau kepanasan pasti merah.”

“Iyalah orang putih memang begitu, dia yang hitam nggak pernah ngerasain seperti itu jadinya dia  menghina lo. Lagi dia cantik juga enggak pakai menghina orang lain, dirumahnya nggak ada kaca apa? ” Seru Angle kesal.

“Terus lo enggak marah dihina seperti itu Ay?” tanya Tyas.

“Nggak karena gue berfikir dia bercanda Yas makanya gue nggak pernah marah.”

“Ay dengar ya mau dia bercanda atau tidak, mencemooh atau mengomentari fisik orang lain itu tindakkan yang tidak baik dan seharusnya tidak menjadi bahan candaan terlebih perkataannya itu sudah termasuk sebuah penghinaan.” Jelas Tyas.

“Gue setuju sama Tyas! Pantas saja lo semakin disudutkan Ay, lo nggak pernah tegas sama dia jadi lo di injak-injak. Maksud gue gini, kalau lo merasa itu tidak baik kenapa lo masih diam saja? Bilang saja lo tidak suka dikatakan seperti itu. Jangan diam Ay! Kalau lo diam berarti lo salah, salah karena sudah membiarkan teman lo berbuat salah.” Timpal Ayu.

“Gila gue nggak nyangka Ayu bisa ternyata bijak juga ya.” Seru Darma yang dibalas dengan kibasan rambut Ayu.

“Apaan sih Ayu jijik.” Timpal Angle dan Ayu balas memukul.

“Sudah Ay nggak perlu lo pikirkan perkataan Nara, lo justru harus membuktikan kalau lo pun bisa!” kata Kiki memecahkan kegaduhan.

“Iya Ay, lo main games saja seperti gue, gue dikit-dikit bisa Bahasa English juga karena main games.” Kata Darma.

“Bohong Ay, Darma bisa Bahasa English karena dia suka pergi sama tante-tante bule.” Timpal Angle dan kami pun tertawa.

“Sudah Ay, gue yakin suatu saat nanti lo pasti bisa. Dan ketika lo bisa, lihat dia pasti semakin iri dan benci sama lo.” Seru Tyas dan Ayu memukul lengannya memberi isyarat untuk memberikan saran yang baik “Eh? Benar dong kata gue? Semakin tinggi pohon semakin besar angin yang berhembus untuk menjatuhkan. Kalau dari dulu sudah benci iya benci saja nggak peduli mau kita sebaik apapun dengan orang itu, peduli dengan orang itu, dan nggak peduli seberapa banyak kita membantu, orang seperti itu akan terus membenci kita terlebih kalau kita sukses. Duh jangan heran kalau orang seperti itu barisan paling depan membenci kita.” Jelas Tyas.

“Benar Ay yang dikatakan Tyas, orang yang memang membenci kita tidak akan memperdulikan kebaikan-kebaikan yang kita curahkan kepadanya. Dan tugas kita untuk tidak memperdulikan orang seperti itu, biarkan saja, tinggalkan. Kita berhak menghapus negative people dari kehidupan kita bukan karena kita benci hanya saja dalam hidup ini kita juag berhak bahagia tanpa adanya negative people itu, yang memang harus pergi biarkan mereka pergi dan biarkan Tuhan mengganti mereka dengan orang-orang yang lebih baik. Tidak perlu menjelaskan tentang kita kepada siapa pun, karena yang menyukai lo tidak akan butuh itu dan yang membenci lo tidak akan pernah percaya segala yang lo ucapkan walaupun kenyataannya semua dari ucapan itu adalah kebenaran.” Timpal Ayu.

Dan hari itu aku mengerti segala yang di katakana Nek Nuha adalah benar, selalu ada pelangi setelah hujan datang, seperti pagi yang digantikan malam, janji Tuhan adalah pasti. Sesuatu yang hilang akan ditemukan dengan yang lebih baik, sesuatu yang telah diambil olehNya akan digantikan dengan yang lebih kita butuhkan. Mungkin aku kehilangan seorang sahabat yang telah 12 tahun bersama tetapi kini aku diberikan teman terbaik yang senantiasa membantuku dalam meraih cita-cita, memberikan nasihat ketika aku salah dan memberiku semangat dikala sedih menyerang.

♥♥♥

 

Happy birthday to you, Happy sweet seventeen sayangku.” Kataku memberikan kue coklat kepada seseorang yang aku cintai, cinta pertama ku.

Terlihat jelas di wajahnya yang berbinar-binar menerima kue coklat yang ku beli kemarin sore. Kemarin sore selepas sekolah aku memesan kue coklat di mal Graha tempat dimana Putra merayakan sweet seventeen hari ini bersama keluarganya.

Bapak dan ibunya tersenyum melihatku, memasang kamera untuk merekam ku. Sebenarnya aku mengatakan pada Putra kalau aku tidak bisa ikut serta bersama keluarganya dengan alasan sudah memiliki janji menghadirkan acara sweet seventeen seorang teman, walaupun Putra sempat kesal kepadaku yang memilih teman daripada dirinya, tetapi dia tetap mengizinkan ku menghadirkan acara itu.

“Dek, senyum dong.” Kata Ibu Putra memperhatikan layar kamera yang dipegang  bapak untuk mengabadikan momen istimewanya.

“Lebih dekat lagi Dek biar bagus fotonya.” Seru Bapak Putra dan kami menurutinya.

Make a wish dulu dong Dek sebelum ditiup lilinnya.” Seru Mbak Tama pada Putra.

Happy sweet seventeen sayang.” Kataku seraya memberikan sebungkus kado dan kue coklat untuknya setelah padam lilin angka tujuh belas diatas kue coklat kesukaannya.

“Makasih sayang. Tadi kamu bilang nggak bisa ke sini? Tapi kok tiba-tiba―” tanya Putra kepadaku.

“Masa pacarnya ulang tahun, aku nggak datang?” kataku sengaja menggodanya.

“Hehe makasih ya sayangku.” Kata Putra memegang tanganku.

“Dek kamu mau makan apa?” tanya Mbak Tama kepadaku.

“Apa saja Mbak.” Jawabku.

“Makasih ya Ay sudah buat anak Ibu bahagia.” Kata ibu Putra kepadaku.

“Sama-sama bu, Aya bahagia kalau Putra juga bahagia.”

“Kamu ulang tahun kapan Ay?” tanya Bapak Putra kepadaku.

“Tiga hari lagi Pak hehe.”

“Beda tiga hari ya berarti.” Timpal suami Mbak Tama kepadaku.

“Hehe iya Mas.”

“Kakak Aya nanti kita main ya Kak.” Kata Desta mendekatiku.

“Iya Desta nanti kita main ya, memangnya Desta mau main apa?”

“Main Jungle Zone Kak yang di lantai 5.”

“Siap nanti kita main ya.”

Senja menyapa kami yang dihujani oleh sejuta cinta. Hari ini aku berhasil membuat seseorang yang aku cintai bahagia, senyumannya membayar semua lelahku yang mempersiapkan kado spesial untuknya. Sebuah rangkaian foto kebersamaan kami yang ku tempel dibingkai berwarna putih dan secarcik puisi untuknya yang ku masukan ke dalam sebuah botol.

“ Bagaimana Ay kemarin, sukses?” tanya Ayu kepadaku─ dia membantuku mempersiapkan kado untuk Puta.

“Sukses dong.” Seru ku.

“Terus besok lo ulang tahun dikasih apa sama Putra?” tanya Angle kepadaku.

“Nggak tahu deh─”

“Lo ngundang Putra ke rumah kan Ay?” tanya Tyas.

“Iyalah Yas, kalian juga datang ya. Ibuku sudah memesan nasi tumpeng dan bakso untuk kalian.” Kataku memberitahukan acara sweet seventeen ku yang akan diadakan besok sore.

“Gue kayanya nggak bisa deh Ay.” Kata Kiki.

“Sama gue juga nggak bisa, mau pergi sama nyokap gue.” Timpal Ayu.

“Gue dan Angle juga nggak bisa Ay, sudah ada janji dengan teman SMP gue.” Kata Tyas.

“Parah kalian nggak datang.” Kataku sebal, “Jangan bilang lo juga nggak bisa datang Dar?” tanyaku memastikan.

“Hahaha bisa kok, tenang pasti gue datang.” Jawab Darma kepadaku.

“Syukur deh kalau begitu.” Kataku.

“Nah sebagai gantinya hari ini traktirin kita makan ya.” Seru Tyas kepadaku.

“Gue setuju banget!” Timpal Angle.

“Kalau hari ini sih gue bisa, yuk!” kata Ayu.

“Sialan ya lo semua, ini namanya traktir dibayar dimuka. Ya sudah makan bakso dirumah gue saja yang murah meriah hahaha.” Kataku kepada teman-teman ku dan mereka pun sepakat.

Selepas sekolah Tyas, Ayu, Darma, Angle dan Kiki kerumah ku dengan membawa perut kosong mereka─ tertawa di ruang tamu melihatku membawa enam mangkok bakso dan es teh manis seorang diri.

“Woi bantuin dong. Gila ya ini anak mau makannya saja tapi nggak mau bantuin.” Seruku yang kesusahan membawa semua pesananya.

“Hahaha iya iya.” Kata Ayu menghampiriku.

“Woi Darma, Kiki bantuin jangan mojok saja lu berdua. Nonton apaan sih lo? Curiga gue.” Seru Tyas menimpuk Darma dengan bantal.

“Lagi liat review telepon genggam terbaru.” Kata Kiki seraya membantu ku.

“Kalian kalau masih lapar, bilang saja sama Aya nanti dipesani lagi.” Kata ibu kepada teman-temanku.

“Iya tante, pasti nanti saya bilang ke Aya kalau mau pesan lagi.” Seru Darma dan ditimpuk dengan bantal oleh Tyas sebagai balasan.

“Nggak tante segini juga sudah cukup, makasih ya Tan.” Kata Tyas.

“Oh ya Tyas mama kamu senior Tante di SMP loh.” Kata ibu yang mulai bercerita, “Eh kalian sambil makan saja, nggak papa.” seru ibu menyuruh kami melanjutkan untuk menghabisi semangkuk bakso.

“Iya Tante kemarin ibu Tyas juga cerita, katanya Tante dulu cantik banget beda sama Aya.” Seru Tyas yang berhasil membuat kami tertawa─ aku tidak.

“Enak saja gue juga cantik!” Seru ku.

“Cantik masa pacarnya begitu ya Tan.” Goda Tyas menahan tawa.

“Kalian sudah lihat pacarnya Aya?” tanya ibu ku pada teman-teman kami.

Aku melototi Tyas memberi isyarat─ jangan berbicara aneh-aneh!

“Sudah Tan, kita sering ketemu juga. Memangnya Tante dan Om belum pernah ketemu?” tanya Ayu yang kini ikut menggodaku.

“Belum, cuma adik-adik Aya dan Kakak-kakaknya sering menggodanya─”

“Tenang saja Tan, besok pangerannya Aya datang kok.” Seru Tyas.

“Benarkah? Tapi Tante nggak setuju Tyas dengan laki-laki itu.”

“Kenapa memangnya Tan?” tanya Darma.

“Tidak tahu, perasaan Tante tidak setuju saja kalau Aya memiliki hubungan dengannya─”

“Karena jelek ya Tan?” tanya Tyas dan ku balas dengan menimpuk bantal.

“Hahaha bukan karena itu kok. Jelek nggak masalah kalau bertanggung jawab.”

“Berarti menurut Tante dia nggak bertanggung jawab?” tanya Ayu.

“Iya hati Tante yang mengatakan semua itu.”

“Tapi kan anak Tante sudah jatuh cinta dengan laki-laki itu Tan.” Kata Tyas.

“Nah iya Tan nanti Aya sakit kalau harus putus dengan dia.” Seru Darma.

“Justru karena itu, Tante takut Aya disakiti karena bersama laki-laki seperti itu.”

“Memangnya harus laki-laki seperti apa yang layak bersama Aya, Tan?” tanya Ayu.

“Yang jelas bertanggung jawab, cinta dan sayang sama Aya dan tidak menyakiti hati Aya. Duh, Aya saja setiap ujian pasti sakit bahkan pingsan. Apalagi disakiti hatinya? Tante takut Aya kenapa-kenapa.”

“Eh Aya setiap ujian pasti sakit Tan?” tanya Kiki.

“Iya─”

“Sampai pingsan Tan?” tanya Angle.

“Iya sampai pingsan karena itu untuk pasangan Aya nanti Tante akan lebih selektif memilih, Tante takut.”

“Tuh Ay dengar kata Ibu lo, bukannya nggak mengizinkan lo bersama dengan laki-laki yang lo cintai. Tetapi Ibu lo, takut lo disakiti dengan laki-laki yang mungkin salah lo pilih.” Seru Tyas.

Aku pun terdiam.

♥♥♥

 

“Assalamualaikum Aya pulang bu.” Kata ku memasuki rumah.

“Walaikumsalam Aya. Ini kado untuk kamu, selamat ulang tahun ya Nak.” Kata ibu memberikan sebuah kotak yang sudah terbungkus rapi.

“Kapan ibu beli?” tanyaku membuka kotak yang terbungkus rapi itu.

“Tadi, nggak lama kamu pulang Ibu juga baru saja pulang.” Kata ibu, “Ibu tadi setelah masak langsung pergi ke mall untuk beli kado ini,  Ibu tahu kalau kamu lagi butuh─”

“Aya enggak suka! Arlojinya jelek! Norak! Modelnya juga murahan! Aya nggak suka! Kasih saja ke yang lain!” Bentakku membuang arloji berwarna silver tepat diwajah ibu.

“Ini bagus Ay, Ibu sendiri yang memilihkan. Kamu nggak suka kenapa─” tanya ibu menahan tangis memungut algoji yang telah ku buang.

“POKOKNYA AYA NGGAK SUKA IBU! AYA NGGAK MAU PAKAI!” bentak ku seraya membanting pintu dihadapan ibu.

“Ya Allah Nak! Ibu sudah susah payah  membeli kado untukmu, bahkan Ibu menjual gelang emas kesukaan Ibu demi membeli algoji ini─” kata ibu lirih.

“Aya nggak pernah suruh Ibu untuk menjual gelang emas Ibu! Sudahlah kasih saja ke yang lain, pokoknya Aya enggak mau pakai!” Seru ku.

“Tapi Nak─”

“Aya mau siap-siap sedikit lagi teman-teman Aya akan datang. Ibu telepon Bu Ana saja sana, suruh dia datang lebih awal. Jangan sampai teman Aya datang nggak ada makanan.” Suruhku meningalkan ibu yang menahan tangis.

Pukul 17.00 sore hari, beberapa teman datang menghampiriku. Memberikan ucapan dan pelukkan hangat dengan sebungkus kado digenggamannya. Yang datang hanya sedikit, sengaja aku tidak mengundang banyak teman ke rumahku. Untuk apa? Mereka hanya sekedar teman yang hanya tersenyum didepan ku dan mendengus sebal dibelakang ku. Semua yang datang adalah teman ku dikelas 11. Dede, Laras, Maryam, Darma, Nara dan juga Yudha. Berbincang seraya menunggu tamu istimewaku datang yang tidak lain adalah Putra.

Adzan magrib terdengar merdu, aku akhirnya membiarkan teman-teman menikmati lebih dulu makanan yang telah dihidangkan sedari tadi. Makanan yang daritadi memanggil untuk dimakan.

“Ay, Putra kemana? Kok belum datang?” tanya Nara kepadaku.

“Nggak tahu Nar, gue chat, sms dan telepon pun nggak di angkat-angkat. Nggak tahu kemana─”

“Halo kamu dimana?” tanyaku kepada seseorang dibalik telepon― untuk pertama kalinya dia mengangkat teleponku.

“Ini di depan rumah kamu, kamu keluar dong. Aku malu.” Kata Putra.

“Masuk saja, banyak teman-teman ku ini─”

“Aku sama Fajar nih.”

“Iya nggak papa, ajak saja Fajar ke rumah toh dia juga teman ku.” Kataku yang akhirnya Putra menuruti perintahku.

“Assalamualaikum Om.”  Salam Putra kepada Ayah yang sedang berbincang dengan suami Bu Ana di depan rumah.

“Walaikumsalam. Temannya Aya ya? Kok baru datang? Teman-teman sudah lama menunggu, kamu masuk gih, makan.” Kata Ayah kepada Putra dan Fajar.

“Iya Om, permisi.” Kata Putra seraya masuk ke rumah ku.

“Selama ulang tahun Ay.” Kata Fajar mengulurkan tangannya.

“Makasih Fajar.”

“Selamat ulang tahun ya Ay.” Kata Putra seraya memberikan kado dengan bungkusan besar kepadaku.

“Makasih sayang, ini apa? Boleh ku buka?” tanyaku dengan mata berbinar-binar.

“Buka saja sayang.”

“STITCH! Ah makasih sayang aku suka banget kadonya!” Seru ku memeluk boneka kedua yang dia berikan kepadaku dan dibalas dengan senyuman.

“Ay, ajak temanmu makan dulu.” Kata Ibu kepadaku.

“EH iya yuk makan dulu kamu Put, Jar.” Ajakku.

“Wah pacarnya Aya yang pakai jaket abu-abu ya?” Goda Teh Wati seraya memberikan piring bersih kepada Putra.

“Apaan sih Teh.” Kataku mengelak.

“Bu itu calon mantunya Bu.” Goda TehWati semakin menjadi.

“Ush! Calon mantu apanya, masih pada sekolah─”

“Iya nggak papa Bu lulus sekolah langsung nikah.” Jawab Teh Wati.

“Nggak, memangnya jaman dulu nikah muda. Kalian temanan saja ya, jangan pacar-pacaran.” Kata ibu kepada ku dan Putra yang kami balas dengan diam beribu bahasa.

♥♥♥

Tinggalkan Komentar