Alegoris Kehidupan

0
236

BAB 4  BERMANDI HUJAN

 

Hari ini adalah hari pengambilan rapor SMP ku, aku datang bersama ibu tadi pagi menunggu cukup lama wali kelas memanggil namaku. Dan setelah 20 menit aku menunggu aku pun keluar kelas dengan penuh rasa syukur dan bahagia dengan menggandeng lengan ibu melewati lorong sempit nan ramai oleh murid-murid yang bersuka cita.

“Bu Aya lapar.” Kataku melewati gerbang sekolah.

“Aya ingin makan apa?” Tanya Ibu padaku.

“Tidak tahu, yang enak saja.”

“Iya sudah makan Pizza saja, mau?”

“MAU!” seruku.

Cukup 15 menit aku dan ibu sampai ditempat tujuan, memesan seloyang pizza besar, spaghetti ukuran sedang dan milkshake coklat serta banana split untuk makanan penutup.

“Teman mu yang tadi pakai kerudung baik ya, sopan. Siapa namanya?” Tanya Ibu seraya menuangkan saos cabai dipiringnya.

“Oh, Sari bu. Iya dia memang baik.” Jawabku―bohong.

“Dia teman dekat mu ya? ” Tanya Ibu yang ku balas dengan anggukan.

Sebenarnya aku berbohong tentang Sari yang berteman baik denganku,.Sari memang cukup dekat denganku mungkin karena dia duduk tepat didepan ku. Dia adalah salah satu teman dekat Tika, teman sebangku disaat aku masih duduk di tingkat dua. Dia sedikit lebih baik daripada Tika, terlihat lebih tulus kepadaku atau mungkin juga tidak entahlah kala itu aku tidak tahu hingga sampai wajah aslinya terlihat olehku.

Ketika itu dikelas Bahasa Indonesia Bu Rere meminta kami membentuk sebuah kelompok untuk menampilkan drama sebagai penilaian di ujian praktek. Aku hari itu seperti biasa, hanya menunggu sisa murid untuk membentuk kelompok walaupun aku sudah memiliki konsep dan naskah drama tetapi yang ku lakukan hanya diam dan menunggu ada seseorang yang terpaksa bergabung denganku. Hingga datanglah seorang teman ke arahku, seorang anak perempuan cerdas juga baik mengajakku untuk membentuk kelompok, ialah Sari.

Awalnya berjalan dengan baik, kami setiap hari latihan dengan penuh semangat. Menyiapkan segala properti untuk drama yang akan kami tampilkan seminggu lagi tetapi semangat itu runtuh ketika aku mengetahui dari seorang teman prihal Sari, kala itu dia bertanya padaku “Ay naskah drama dikelompok kalian Sari yang buat ya? Bagus banget! Gue baca sampai nangis, Sari memang pintar dalam segala hal ya Ay.”

Aku yang bingung akan pernyataan hanya menatapnya seakan balik bertanya ‘maksudnya apa?’ dia yang mengerti mimik wajahku menjelaskan lebih baik dari sebelumnya.

“Kemarin Sari bilang pada Bu Rere, dia bilang kalau dia nggak punya teman kelompok padahal dia sudah mempunyai konsep dan naskah untuk ujian praktek. Naskah drama itu Sari yang buat kan Ay?”

Kala itu aku seakan jatuh ke jurang terdalam.

Apa katanya? Konsep dan naskah itu adalah milik Sari? OMONG KOSONG! Jelas-jelas itu adalah karya ku! Milikku! Bagaimana mungkin dia mengatakan itu kepada guru? Seakan dia telah bersusah payah membuatnya?

Ah, Tuhan apa hidup ini adil?

Kekesalan ku ketika mendengar pernyataan itu berhasil membuatku sakit hati. Aku pun melakukan strategi agar guru serta teman-teman ku tahu kalau naskah drama itu adalah karya ku sehingga sebelum kelompok kami menampilkan drama, aku memperkenalkan bahwa naskah ini, drama ini adalah karya ku. Terlihat pucat pasi diwajah Sari kala itu dan aku tersenyum, menang.

Menang?

Tidak juga. Aku setelah mengetahui hasil nilai praktek drama kala itu mengerti bahwa hidup ini tidak selalu adil terlebih untuk seseorang sepertiku. Seseorang yang akan selalu dilihat sebelah mata tidak akan mungkin bisa menjadi seorang pemenang walau sejatinya memang ia layak untuk menang.

Ah, aku memang berhasil melewati masa-masa remaja ku dengan cukup baik. Tiga tahun aku melewati hari demi hari di sekolah yang penuh dengan kepedihan dan kesendirian. Aku sampai hari ini tidak pernah mengatakan kepada orang tua ku prihal tingkah laku guru-guru di sekolah  juga aku yang disana tanpa seorang teman. Untuk apa? Mereka tidak layak mengetahui rasa sakit yang aku terima atas pelakukan orang lain terhadapku terlebih aku masih bisa menanggung beban itu sendiri. Masih dapat ku pikul rasa sakit itu dipundak ku.

Suara ayam jantan membangunkan ku yang terlelap, semalam aku tidak bisa tidur, kepala ku penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan akan hari ini. Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baru, beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru sering kali buat ku gugup dan takut. Walaupun sebenarnya dalam hal ini tidak pertama untuk ku karena dulu pun aku pernah pindah sekolah, seperti hari ini, tetapi tetap saja aku selalu takut dihari pertamaku beradabtasidi sekolah baru. Aku hanya takut kejadian di SMP dulu terulang lagi juga kejadian setahun lalu terulang lagi padaku.

Setahun lalu, aku yang akhirnya lulus dengan nilai yang serba tanggung tidak diterima lagi di sekolah Negeri, ayah pun memberiku saran untuk masuk ke SMA Swasta di daerah Jakarta Pusat yang notabene masih cukup dekat dari rumahku― hanya perlu naik angkot sekali. Sebenarnya aku cukup menyukai sekolah itu, aku juga memiliki teman baik yang membuatku nyaman bersekolah tidak peduli ketika Tika dan Sari satu sekelas lagi dengan ku. Aku tidak merasa terbebani seperti waktu di SMP dulu, hanya saja guru-guru yang mengajar disana membuatku tidak nyaman sebab terkadang aku merasa terisolasi disekolah ku dulu.

Hal itu aku rasakan ketika seorang guru yang mengganggapku pembohong.

Pembohong?

Ya, seorang guru biologi mengungkapkan rasa berat hati prihalku yang tidak bisa mengikuti pelajaran saat itu. Aku memang sering kali izin untuk tidak masuk sekolah karena sakit, ayah juga telah memberi informasi prihal penyakit ku kepada pihak sekolah tepat ketika aku mendaftarkan diriku disekolah itu. Tetapi entah bagaimana guru itu menggangap aku menggunakan penyakitku sebagai alasan karena malas mengikuti kegiatan sekolah.

Aku mengetahui itu karena teman baik ku, Asifa bertanya padaku prihal aku yang tidak mengikuti kegiatan sekolah dua hari lamanya. Katanya, “Ay dua hari yang lalu lo nggak masuk sekolah karena sakit kan Ay?” dengan tatapan yang serius ia menatapku yang sedang menghabiskan sepotong roti ditangan.

“Iyalah, dua hari yang lalu penyakit gue kambuh makanya nggak bisa masuk sekolah. Kenapa memangnya? Lo nggak percaya gue sakit?” kataku sebal.

“Gue percaya lo sakit Ay, hanya saja Bu Diah nggak percaya lo beneran sakit. Dia bilang di depan kelas ‘Aya itu benar sakit atau hanya karena malas sih? Masa sakit-sakitan terus. Pantas saja nilainya paling rendah dikelas untuk datang ke sekolah saja malas apalagi untuk belajar, sepertinya tidak pernah.’ sumpah Ay gue kesal banget mendengar kata-kata Bu Diah kemarin, dia kan seorang guru biologi tetapi mengapa dia bisa meragukan riwayat penyakit yang lo miliki? Padahal lo punya segala bukti juga hasil ronsen prihal penyakit lo, masih saja dia nggak percaya. Dia juga harusnya lebih paham mengenai penyakit lo kan, dia pasti tahu kerja jantung orang normal dengan orang yang memiliki penyakit itu berbeda. Lalu mengapa dia bisa menghakimi lo dengan mudahnya?”Terlihat jelas wajah yang sedikit memerah itu menceritakan kejadian dua hari yang lalu.

Aku yang mendengar itu menangis tiada henti hingga memutuskan untuk bimbingan konseling dengan seorang guru dan menceritakan prihal masalah dua hari yang lalu.Tetapi harapan agar guru-guru paham atas penyakitku pun berakhir sia-sia. Setelah kejadian itu aku justru semakin terisolasi bukan hanya dengan guru biologi ku saja tetapi juga dengan semua guru termasuk dengan wali kelas ku. Pernah waktu itu aku sakit di sekolah hingga ayah harus menjemput ku yang izin setengah hari, masih segar dikepala ku senyumnya ketika aku pamit untuk pulang, senyum yang merendahkan.

Sungguh kala itu aku benar-benar marah, kesal. Hei bukankah seorang guru adalah orang tua disekolah? Lalu mengapa mereka yang mengatakan dirinya pengganti orang tua disekolah tidak memiliki tenggang rasa? Bagaimana bisa seorang pendidik memandang rendah siswa-siswinya? Bagaimana bisa seorang guru tidak memahami keadaan setiap siswa-siswinya? Sungguh aku tidak benar-benar mengerti akan mereka yang menyebutkan dirinya seorang pendidik tetapi tidak seperti seorang pendidik.

Aku yang kala itu kesal menggunakan media sosial untuk mengeluarkan semua kekecewaan ku terhadap guru-guru disekolah dan saat itu terjadilah puncak dari masalahku. Tika dan Sari yang mengetahui status ku prihal kekecewaan terhadap guru-guru disekolah, memprovokasi semua teman-teman agar aku dijauhi dan dihina oleh mereka. Sebenarnya memang salahku yang membicarakan hal buruk prihal guru-guru― membuat buruk nama sekolah.

Tetapi apakah salah aku mengatakan hal yang sebenarnya? Terlebih mereka tidak tahu rasanya rasa sakit hati atas percakapan dan perilakunya yang ku terima selama ini? Ah terkadang manusia selalu melihat apa yang terlihat oleh mata hingga abai untuk menggunakan hati mereka―melihat sebuah kebenaran.

Dan setelah kejadian yang menyakitkan itu, aku semakin tidak menyukai seseorang yang mereka sebut guru.

♥♥♥

 

“Ay bagaimana disini lebih baik dari sekolah lo yang dulu kan?” tanya Nara yang mengetahui masalah itu mengampiriku yang sedang termangu di balkon kelas─ kami satu sekolah lagi.

“Eh, iya lebih baik daripada sekolah gue yang dulu.” jawabku tersenyum.

“Guru-gurunya juga baik kan?”

“Tidak tahu, semoga saja.”

“Hahaha iya.” Kata Nara merangkul pundakku yang ku balas dengan senyuman.

“Hei kalian sedang apa disini?” tanya Dede teman sebangku ku.

“Nggak sedang apa-apa.” jawabku.

“Aya sedang melihat-lihat saja De.” jawab Nara pada Dede.

“Oh, bagaimana Ay enak kan sekolah disini? ” tanya Dede padaku.

“Iya De, guru-gurunya baik dan teman-teman juga ramah.” jawabku tersenyum.

“Baguslah kalau begitu, kalau ada apa-apa bilang saja ya Ay sama gue.” kata Dede yang ku balas dengan anggukan kecil.

“Ayo jajan!” Ajak Nara pada kami.

“Ayo gue juga lapar nih. Oh ya Ay disini ada nasi ayam Bu Sur enak banget loh! Pokoknya lo harus makan apalagi sambalnya, juara!” kata Dede menarik lengan ku menuruni anak tangga.

“Aduh Dede pelan-pelan jalannya.” kata ku tertawa melihat wajah Dede yang sedang kelaparan.

“Duh kenapa sih kantinnya penuh banget.” keluh Dede yang abai akan perkataan ku.

“Namanya juga kantin De kalau lo mau sepi ke kuburan saja sana.” jawab Nara pada Dede yang dibalas dengan wajah masam.

Aku tertawa.

“Bu Sur beli tiga nasi ayam goreng ya Bu.” seru Dede memberikan tiga lembar uang sepuluh ribuan yang ia tukar dengan tiga nasi kotak berisi ayam goreng.

“Kita makan di kelas saja, di kantin ramai.” kata Nara beranjak meninggalkan kantin yang dibalas dengan anggukan oleh kami.

“Setelah ini pelajaran apa?” kataku menghabisi nasi dan sepotong ayam goreng.

“Enak nggak Ay?” tanya Dede padaku yang ku balas dengan dua jempol dan ia tersenyum lebar.

“Ekonomi Ay.” jawab Nara menghabiskan makan siangnya.

“Oh, gurunya baik?” tanyaku singkat.

“Baik banget Ay!” Seru Dede membuang kotak kosong ke tong sampah dekat pintu kelas―dia sudah menghabiskan makan siangnya.

Suara bel terdengar nyaring tanda melanjutkan mata pelajaran pun dimulai. Terlihat siswa-siswi sibuk berlarian masuk ke kelas masing-masing meninggalkan nasi kotak yang belum habis dimakan. Teman-teman sekelas sudah sepenuhnya masuk ke ruang kelas dengan gurat wajah bahagia selepas bertemu teman yang berbeda kelas atau bahagia sebab perut kosong yang sedari tadi berbunyi telah terisi penuh.

“Assalamualaikum anak-anak.” salam seorang guru ekonomi dengan suara lantang dan bersemangat.

“Walaikumsalam bu.” jawab kami serentak.

Dede yang duduk tepat disamping ku menepuk lenganku memberi isyarat agar aku memberitahukan padanya bahwa aku adalah murid pindahan dan aku pun memenuhinya.

“Bu permisi saya Aya Azzara Rumaisa murid pindahan.” kataku mendekatinya.

“Oh kamu murid pindahan ya? Siapa tadi namanya?” tanya seorang guru dengan penuh kehangatan.

“Iya Bu, nama saya Aya Azzara Rumaisa panggil saja Aya Bu.” jawabku mengulangi perkataan.

“Oke, sudah ibu tulis nama mu di buku absen.” katanya tersenyum hangat yang ku balas dengan anggukan kecil― kembali ke kursi ku.

“Baik anak-anak karena ada anak baru ibu akan memperkenalkan diri lagi, nama ibu Siti Nur Azizah mengajar Ekonomi dan ibu adalah seorang guru honorer doakan saja agar segera menjadi PNS.” Kata bu Azizah dan kami mengaminkan. “ Nah karena minggu pertama ibu tidak memberikan materi, hari ini ibu akan memberikan materi untuk pelajaran Ekonomi – Akuntansi jadi ibu harap kalian sudah makan siang karena kalian akan disuguhkan dengan banyak angka yang membutuhkan konsentrasi penuh. Nah Ari nasi kotakmu sudah habis belum?” seru Bu Azizah melihat Ari dipojok kelas sedang asik menghabiskan nasi kotaknya.

“Eh? Sudah Bu ini suapan yang terakhir.” Jawab Ari polos dan berhasil membuat kami tertawa.

“Bagus, buang kotaknya di tong sampah dan lanjut fokus untuk belajar.” Kata Bu Azizah pada Ari.

“Baik Bu.” Jawab Ari dengan belari kecil membuang kotak nasi yang telah kosong dan segera kembali ke dalam kelas.

“Disini ada yang tahu Akuntansi itu apa?” tanya bu Azizah pada kami yang kami balas dengan diam sebagai jawaban ‘tidak tahu.

“Baik sebelum ibu jelaskan pengertian akuntansi ibu ingin bertanya seorang dari kalian. Ari ibu ingin bertanya, kamu diberikan uang jajan oleh kedua orang tua mu setiap hari atau perbulan?” tanya Bu azizah pada Ari yang sedang meminum es teh manis dengan nikmatnya.

“Perbulan bu.” Jawab Ari terbatah-batah karena tersendak buat kami tertawa lagi.

“Makanya Ari kalau minum es tuh bagi-bagi, jangan minum sendirian.”  Goda Bu Azizah seraya memberikan segelas air mineral yang ia miliki kepada Ari.

“Makasih Bu.” Jawab Ari meminum air mineral agar batuknya meredah.

“Nah Ari kalau kamu diberikan uang jajan perbulan oleh orang tua mu, bagaimana kamu bisa mengatur keuangan kamu agar uang kamu tidak cepat habis sebelum akhir bulan?”

“Saya akan mencatat kebutuhan apa saja yang akan saya perlukan selama sebulan bu dan saya juga akan mencatat uang yang telah saya gunakan.”

“Cerdas, tapi tujuan kamu mencatat seluruh uang yang telah kamu gunakan itu apa sih Ri?”

“Iya agar saya tahu Bu berapa sisa uang yang masih saya miliki.”

“Pintar Ari!  Seperti yang dikatakan oleh Ari pengertian  Akuntansi itu adalah proses pengindentifikasi, pengukuran, pencatatan, pelaporan atas informasi keuangan yang ada di dalam perusahaan guna untuk mengetahui kondisi real keuangan perusahaan. Ibu yakin sejatinya kalian pun sudah mengetahui pengertian dan tujuan Akuntansi tetapi kalian tidak tahu apakah itu adalah sebuah jawaban pun kalian tidak yakin apakah jawaban yang ada dibenak kalian adalah jawaban yang benar. Seperti kehidupan ini anak-anak terkadang kita mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hidup―‘apa hidup ini adil?’ atau ‘apakah aku anak yang pintar?’  ketidakyakinan kita yang membuat jawaban itu tidak terlihat oleh kita. Kita hanya tidak yakin akan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hidup kita―sudah benar atau justru salah, hingga kita mencari semua jawaban dari mulut orang lain. mencari jawaban yang ingin kita dengar bukan jawaban yang memang sejatinya benar. Nak, kita hanya harus mengakui jawaban yang telah kita temukan didepan mata, jangan dibantah, jangan dihindari tidak peduli jika jawaban itu tidak ingin kita dengar pun tidak ingin kita jalani kita hanya perlu menerima jawaban itu dengan lapang dada serta memperbaiki jika salah dan berubah menjadi lebih baik lagi pun jika memang kita sudah berada dijalan yang benar tugas kita ialah untuk terus belajar dan jangan pernah berhenti.” kata Bu Azizah dengan mata berbinar-binar.

Sungguh mata ku tidak berhenti menatap mata yang berminar-binar itu, mata dengan penuh kelembutan dan kehangatan, mata yang selama ini aku rindukan, mata yang penuh keyakinan akan janji kehidupan, sepasang bola mata dari seorang guru yang selama ini aku cari.

♥♥♥

 

Hari ini hari pertama aku mengikuti les tambahan yang diadakan oleh bu Azizah, sejujurnya dari dulu aku tidak menyukai hal yang menyangkut dengan perhitungan dan ketelitian karena aku adalah seorang yang kurang teliti tetapi entah sejak kapan aku menyukai Akuntansi, mungkin setelah empat hari yang lalu untuk pertama kalinya aku merasa dididik oleh seorang guru. Seorang guru yang selama ini aku cari, seorang guru yang mendidik murid-muridnya dengan penuh kasih sayang tanpa harus membedakan.

“Seperti yang tadi ibu beritahu bahwa persamaan Akuntansi adalah suatu persamaan yang menyatakan bahwa hasil pencatatan dalam aktiva sebesar dengan hasil pencatatan dalam pasiva atau dapat dinyataan Harta = Utang + Modal. Sehingga jawaban dari transaksi pada tanggal 2 Januari 2007  ialah kas di aktiva bertambah Rp 25.000.000 dan modal di pasiva bertambah Rp 25.000.000. Sejauh ini apa ada pertanyaan?” jelas Bu Azizah pada kami.

“Untuk transaksi ke 5 Bu, pada tanggal 6 Januari telah diselesaikan dekorasi dan jasa sebesar Rp 6.500.000 yang dibayarkan sebesar Rp 3.000.000 sisanya kemudian. Berarti untuk Rp 3.500.000 dicatat sebagai piutang usaha kan Bu?” tanya ku pada bu Azizah.

“Benar Aya, jadi jurnal yang benar bagaimana?” tanya bu Azizah padaku.

“Kas bertambah sebesar Rp 3.000.000 dan Piutang usaha bertambah sebesar Rp3.500.00 di aktiva pada Modal bertambah sebesar Rp 6.500.000 di pasiva.” kata ku menjawab pertanyaan transaksi no 5.

“Tepat! Jawaban yang Aya berikan benar. Nah dari lima transaksi ada kesulitan?” tanya bu Azizah pada kami.

“Tidak bu.” jawab kami.

“Aya sudah jam berapa?” tanya bu Azizah padaku.

“Sudah jam setengah lima Bu.” jawabku.

“Untuk pertemuan selanjutnya kerjakan soal-soal yang telah ibu berikan dengan baik karena akan ibu periksa dipertemuan selanjutnya dan kalau ada soal yang tidak dimengerti tidak perlu dikerjakan agar besok ibu bahas bersama-sama.”

“Baik bu.” seru kami merapikan alat tulis serta buku diatas meja ke tas masing-masing dan segera pamit untuk pulang.

Sore semakin meninggi meninggalkan lelah siang hari. Selepas solat magrib guru mengaji sejak kecil datang ke rumah untuk membantu ku melancarkan bacaan kitab suci serta untuk mengajari kedua adik ku membaca Iqro. Nek Nuha adalah sesepuh di lingkungan rumah ku, beliau kerap kali menjadi guru ngaji untuk anak-anak di lingkungan rumah, sebenarnya Nek Nuha tidak terlalu tua umurnya pun masih 50 tahun masih terlihat segar walau jalan sedikit membungkuk. Sejak aku duduk di sekolah dasar Nek Nuha setia mengajariku membaca Iqro serta mengajariku untuk salat, sabar jika aku enggan untuk mengaji walau beliau telah datang ke rumah, aku kala itu sering berpura-pura  tidur hingga akhirnya beliau pulang ke rumahnya yang hanya berjarak satu rumah dari rumahku.

“Kamu tau Nak Tuhan sayang dengan orang-orang yang bersabar, sabar ketika diberi ujian pun sabar ketika diberi kesedihan. Tak mengapa kalau kita berbeda seperti kebanyakan orang, selama kita berada dijalan yang telah Dia tetapkan dan selama Tuhan meridhoi maka biarkan mereka yang menentang, menghina, mencibir biarkan mereka bermain dengan dunia yang serba fanah ini.” Kata Nek Nuha pada ku dan aku takjub mendengarkan. “Dunia ini hanya sementara, hanya sebagai tempat kita mengumpulkan bekal untuk pulang, surga itu mahal Nak dan beruntunglah orang-orang yang mendapatkannya.”

Satu jam aku belajar mengaji dengannya (sebenarnya aku yang meminta waktu mengajiku diselesaikan lebih cepat, aku ngantuk.) aku tertidur selagi menonton tv bersama ibu serta adik dan kakak ku, ayah selepas pulang kerja seperti biasa duduk di ruang tamu mengobrol dengan tetangga sekitar seraya menghabiskan kopi pahit dan sedikit pisang goreng yang dibeli oleh Teh Wati tadi sore.

Revival.

Hidupku seolah terulang kembali, hidup setelah mati dalam artian yang berbeda―terlahir kambali. Semua itu yang aku rasakan setelah aku bersekolah di SMA baruku dan setelah aku bertemu dengan seorang guru yang memberiku harapan untuk hidup serta mimpi untuk diraih, seorang guru yang selama ini aku cari.

Setelah empat bulan aku pindah, aku telah memiliki banyak teman dan sudah bisa beradaptasi dengan baik. Aku juga semakin dekat dengan Bu Azizah, aku selalu banyak bertanya kepadanya― baik prihal pelajaran pun prihal kehidupan aku selalu bertanya dan mendengarkan banyak hal darinya.

Bu Azizah benar, ditemani Sang Surya janji kehidupan akan selalu datang membawa harapan, ia selalu setia datang tak pernah teringkari walau sesenti dia akan selalu tepat waktu menghampiri tidak peduli jika bumi melangkah pergi juga jikalau kita membenci, janji itu akan selalu datang. Pun Bu Azizah benar, tidak peduli kita memiliki masa lalu yang buruk selalu akan ada jalan untuk  pulang, kita mungkin memiliki masa lalu yang buruk tetapi kita mempunyai sekepal tangan untuk memperbaiki.

“Anak-anak ibu harus pergi sebentar karena ada keperluan mendesak yang harus dipenuhi tetapi karena hari ini hari terakhir semester ganjil dan besok adalah ujian tengah semester ibu akan tetap memberikan materi terakhir neraca lajur yang akan diajarkan lebih dulu oleh Aya.” Kata Bu Azizah kepada kami, “Aya maju kedepan.” Panggil Bu Azizah padaku yang sedang berbincang bersama Dede─ menggosipkan artis indonsia.

Terkejut.

“Kenapa Bu?” tanyaku yang akhirnya menghampiri bu Azizah setelah kedua kalinya memanggil namaku.

“Ibu ada urusan sebentar kamu tolong ajari teman-teman mu tentang materi neraca lajur yang kemarin baru ibu jelaskan.”

“EH? Saya Bu? Saya enggak bisa Bu.”  kataku terkejut.

“Iya, kamu, mau siapa lagi? Nggak bisa apanya? Setiap hari kamu dapat nilai sempurna, tes lisan senin kemarin pun kamu dapat poin tertinggi, masa masih bilang nggak bisa? Sudah, ibu yakin kamu bisa mengajarkan teman-teman mu dengan baik. Nah ibu percayakan kepada kamu Aya, anak-anak tolong dengarkan Aya mengajar ya kalau ada yang masih bingung tanyakan saja pada Aya dan kalau Aya masih tidak bisa menjawab kalian simpan pertanyaan itu setelah ibu kembali nani. Mengerti?” kata Bu Azizah.

“Mengerti Bu.” Jawab kami yang dibalas dengan senyuman Bu Azizah yang seraya meninggalkan kelas.

♥♥♥

 

Hari ini hari pertama semester genap, waktu tiada terasa walau tugas semakin menumpuk dari setiap guru yang mengajar. Les tambahan Akuntansi pun masih aku jalani seperti biasa walaupun di semester genap ini materi yang diberikan bukan lagi Akuntansi melainkan Ekonomi tetapi aku tidak peduli, aku masih menyukainya selama Bu Azizah yang mengajar. Hasil semester ganjil enam bulan lalu sangat memuaskan ku karena untuk pertama kalinya aku mendapatkan nilai hampir sempurna dalam pelajaran yang ku sukai dan aku juga masuk dalam peringkat lima belas besar di kelas. Pencapaian yang tidak pernah aku berani untuk berandai-andai.

“Aya hari sabtu  temani gue pergi yuk.” ajak Nara padaku.

“Pergi kemana?” tanyaku yang sedaritadi mengaduk-aduk bekal nasi, aku yang setiap hari selama enam bulan hanya memakan nasi kotak yang sama akhirnya memutuskan membawa bekal ke sekolah.

“Lo tahu Putra? Teman satu SMP kita?”

“Enggak, Putra siapa?”

“Dwi Esa Putra anak futsal di SMP kita, masa lo nggak ingat?”

“Enggak, kenal juga enggak orangnya yang mana.” jawabku malas.

“Ini loh orangnya, masa nggak kenal?” tanya Nara seraya menunjukkan foto profil media sosialnya.

“Enggak Nara. Ya ampun gue mana kenal anak laki di SMP kita terlebih kalau dia bukan teman kelas gue, tidak mungkin gue tahu.” kataku menghabiskan sesuap sendok terakhir.

“Eh? Iya sih dia  bukan teman sekelas lo tapi teman sekelas gue.” tawa Nara yang ku balas dengan dengusan, sebal.

“Memangnya mau kemana?” tanyaku mencairkan suasana.

“Bioskop dan setelah itu pulang.”

“Ya sudah kalian sajalah yang pergi, ngapain juga ngajak gue? .” kataku semakin sebal.

“Dia juga ajak temannya Ay, Nando teman sekelas kami juga. Jadi lo ikut ya temani gue.” Bujuk Nara.

“Malas ah nanti gue di diamkan.” kataku.

“Ah Aya lo kan sahabat gue, please temani gue ya Ay , janji nggak akan gue diamkan.” Bujuk Nara memeluk tubuhku.

“Iya, iya gue ikut.” jawabku yang akhirnya memenuhi permintaan Nara.

“Asik terimakasih Aya lo memang sahabat terbaik gue! Ketemuan di persimpangan jalan baru ya gue dan yang lainnya akan tunggu lo disana.” kata Nara padaku yang ku balas dengan anggukan.

Dia adalah Nara, sahabatku yang aku kenal sejak aku masih duduk di Sekolah Dasar. Dia cantik, pintar dan berwawasan apapun yang aku tanyakan padanya dia pasti bisa menjawabnya. Dari dulu aku memang lebih dekat dengannya dibandingkan dengan Ira, Ara, Nandya, Mulan, Mei maupun dengan Yanti orang-orang disekitar kami selalu tahu dimana ada Nara pasti ada aku pun dimana ada aku pasti ada Nara, aku sering menghabiskan waktu bersamanya, kami sering menginap bukan hanya Nara saja sahabatku yang lain juga  tetapi kami lebih sering melakukan bersama, melakukan segala kegiatan hanya berdua.

Aku sering menginap dirumah Nara, orang tua Nara bahkan saudara-saudaranya pun kenal denganku begitu pula dirinya. Setiap Nara ulang tahun aku selalu memberikan hadiah, aku masih ingat dulu aku membelikan boneka anjing untuknya, aku hanya ingin buat dia bahagia. Aku lebih dekat dengannya dibandikan dengan ketiga kakakku, aku lebih memilih menghabiskan waktu bersamanya walau hanya sekedar makan dipinggir jalan, nonton di bioskop atau hanya sekedar menemaninya berbelanja, bagiku dia sama pentingnya dengan keluargaku. Dan aku bahagia memiliki sahabat sepertinya, melupakan masalah saat kami di SMP dulu, ketika dia menjauhiku tanpa alasan pun walau Tika dulu mengatakan padaku kalau dia tidak menyukaiku, aku masih menganggap dia adalah sahabat terbaikku hingga hari ini.

Hari berlalu lebih cepat. Siang yang tidak panas seakan mendukung kami untuk pergi. Hari ini adalah hari sabtu, hari dimana aku terpaksa menemani Nara pergi bersama teman laki-lakinya walaupun mereka juga adalah teman SMP ku tetapi bagiku mereka tetaplah orang asing. Ah semua teman SMP ku adalah orang asing bagiku, aku selalu beranggapan bahwa aku tidak pernah bersekolah menengah pertama langsung begitu saja masuk Sekolah Menengah Atas mungkin karena rasa sakit yang aku terima dulu hingga aku ingin dan selalu menghindari segala tentang SMP ku, menghindari teman maupun guru-guru ku.

“Aya!” teriak Nara melambaikan tangan dan terlihat dua laki-laki yang tidak begitu aku kenal.

“Hei maaf ya lama.” Kataku.

“Enggak kok santai saja.” jawab Nando padaku.

“Oh ya ini Aya anak pindahan di SMP kita dulu, kenal?” tanya Nara.

“Kenal.” jawab mereka serentak yang  entah memang benar atau tidak aku tidak peduli mengulurkan tangan, tersenyum.

“Eh itu ada Taxi.” seru Nara yang di susul dengan teriakan memanggil taxi oleh Putra.

Selama diperjalanan aku sedikit risih akan posisi duduk ku karena aku yang seharunya duduk diposisi dekat jendela malah duduk diantara Nara dan Putra. Menatap tajam ke arah Nara seakan mengeluh ‘Nar lo kan yang sedang PDKT dengan Putra kenapa justru gue yang duduk dekat Putra?’ yang dibalas dengan senyuman tanpa dosa.

“Jadi kita temani mereka yang sedang PDKT  nih?” bisiku pada Nando, kami baru saja sampai Mall.

“Hahaha iya, mau bagaimana lagi Putra masih canggung jalan berdua.” Jawab Nando.

“Canggung bagaimana? Di sosial media mereka dekat banget tuh, gue juga sering iseng ikut komentar di percakapan mereka.”

“Iya gue juga nggak paham dengan mereka. Lo diajak Nara ikut Ay?”

“Iya.” jawabku singkat yang dibalas dengan anggukan seakan bilang ‘sama’.

“Ay mau nonton apa?” tanya Nara padaku.

“Lah lo yang mau nonton Nar gue ikut kalian saja.” jawabku.

“Ih lo Ay! Kalau Nando mau nonton apa?” tanya Nara kali ini pada Nando.

“Bebas Nar.”

“Ya sudah nonton film horror saja deh.” Kata Nara seraya membeli tiket nonton untuk kami.

“Kita masuk bioskop lima belas menit lagi.” kata Putra mendekati aku dan Nando yang sudah duduk di ruang tunggu.

“Iya.” jawab kami.

“Put jadi bagimana? Sudah ada kemajuan belum?” tanyaku yang dibalas dengan cubitan Nara.

“Tahu lo Put, anak orang di dekati terus nggak diberi kepastian.” seru Nando tertawa dan aku tertawa mendengarnya.

“Apaan sih kalian.” Kata Putra malu dan Nara pun tersipu.

“Perhatian-perhatian teater 2 telah dibuka. Bagi penonton yang telah memiliki karsis harap segera masuk.” terdengar rekaman suara memanggil kami para penonton untuk segera memasuki ruang teater.

“Kita teater berapa Put?” tanya Nara

“Teater 2 Nar. Mau masuk sekarang?”

“Ayo.” jawab kami serentak.

Setelah 120 menit film pun selesai di putar menyisakan kengerian di wajah masing masing─ filmnya seram.

“Ay cari apa?” tanya Nara padaku.

“Tempat kacamata.” jawabku singkat lanjut mencari tempat kacamata yang jatuh entah kemana.

“Lo tadi taruh dimana?” tanya Nara membantuku mencari.

“Tadi gue taruh diatas kursi.”

“Jatuh mungkin.” timpal Nando.

“Iya sepertinya gitu, ya sudahlah nggak papa. Ayo kita cari makan.” Ajakku seraya menuruni anak tangga meninggalkan ruang teater.

“Ini Ay.” Seru Putra memberikan tempat kacamata yang daritadi ku cari.

“Eh? Makasih Put, ketemu dimana?” tanyaku menaruh tempat kacamata ke dalam tas.

“Sama-sama. Ketemu dibawah kursi depan kita.”  Jawab Putra menujuk kursi tepat didepan ku.

“Maaf ya jadi merepotkan. ”

“Enggak kok, santai saja.”

“Wah Putra bisa menemukan barang Aya yang hilang, mungkinkah ini bertanda bahwa kalian berjodoh?” Gurau Nando pada kami.

“Hahaha jadi kalau yang nemu Kang OB berarti dia juga jodoh gue dong?” kataku mengahlikan pembicaraan.

“Eh?” terlihat wajah bingung Nando untuk membalas perkataan ku yang disusul oleh Putra memiting kepala sahabatnya.

“Ayo kita makan.” ajak Nara menarik lenganku, menjauh.

Senja datang di ufuk barat semakin meninggi dengan warna orange kemerah-merahan. Jalan depan rumah semakin ramai, para muda-mudi meninggalkan rumah untuk bertemu teman, kekasih atau pergi bersama keluarga. Aku baru saja sampai rumah, tepat waktu sebelum adzan magrib berkumandang.

“Assalamualaikum, Aya pulang.” seruku seraya memasuki ruang keluarga.

“Walaikumsalam, habis dari mana?” tanya ibu yang asik menonton sinetron kesukaannya.

“Dari Mall Geraha.” jawabku mencium punggung tangan ibu.

“Sudah makan belum? Makan dulu sana ibu sudah masak ayam goreng kesukaan kamu.” perintah ibu padaku.

“Masih kenyang Bu tapi nanti Aya akan makan lagi kok.” kataku yang dibalas dengan anggukan kecil.

Aku yang lelah berbaring diatas kasur tanpa perlu membuka hijab. Ketika aku ingin memejamkan kedua mata telepon genggam ku berbunyi terdapat pin dan nama yang aku kenal meminta pertemanan padaku dan aku pun menerima pertemanan darinya.

“Aya, ini gue Putra.” pesan pertama setelah aku menerima pertemanan.

“Eh? Iya Put kenapa?” tanyaku membalas pesannya.

“Gue lupa kita belum berteman di BBM ya.” Jawab Putra membalas pesanku.

“Hahaha memang belum.” kataku.

“Hahaha iya gue minta pin lo sama Nara, biar bisa tanya-tanya tentang Nara.”

“Iya tanya apapun saja ke gue pasti gue jawab kok.”

“Siap. Makasih ya Ay.”

“Sama-sama Put.” balasku mengakhiri percakapan.

♥♥♥

 

“Bagaimana kelanjutan hubungan kalian? Lancar? Setelah pulang Putra invite BBM gue katanya minta sama lo?” tanyaku pada Nara yang sedang menghabiskan sepotong roti.

“Iya kemarin lusa Putra minta pin lo nggak tahu buat apa.” jawab Nara dengan wajah cemburu.

“Buat nanya-nanya tentang lo.” kataku yang mengetahui maksud wajah itu.

“Eh?”

“Dia yang bilang. Jadi bagaimana hubungan kalian? Lancar?” jelasku yang dibalas dengan anggukan dan wajah yang berseri-seri.

“Tapi gue juga lagi dekat dengan senior nih Ay.” kata Nara sedikit berbisik.

“Eh? Senior? Siapa?” tanyaku dengan nada tinggi karena terkejut.

“Ish pelan-pelan dong! Kak Raihan jurusan IPA 2, baik dan pintar Ay wajahnya juga lumayan. Duh gue jadi bingung nih pilih yang mana.” kata Nara menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Iya gue nggak tahu lo harus pilih yang mana. Terserah lo saja kan lo yang jalani bukan gue.”

“Iya cuma gue bingung Ay keduanya baik.”

“Justru karena mereka baik jangan lo sakitin.” kata ku yang dibalas dengan wajah masam.

Sebenarnya aku sungguh tidak pandai prihal percintaan aku tidak tahu harus bagaimana mungkin karena aku baru pacaran dua kali itu pun hanya bertahan dua minggu dan paling lama sebulan terakhir dengan teman masa kecilku sehingga aku tidak tahu jawaban apa yang benar untuk Nara.

Suara bel tanda pulang sekolah terdengar nyaring. Satu mata pelajaran tanpa guru berhasil membuat riuh seisi ruang saling berebut keluar lebih dulu. Bu Azizah tidak bisa hadir karena sakit, menitipkan kelas ke guru piket dan memberikan setumpuk tugas untuk kami. Aku tadi dapat SMS dari Bu Azizah untuk memberitahu teman-teman untuk mengumpulkan tugas yang banyak itu tetapi sesuai dengan kesepakatan teman-teman aku meminta izin padanya agar kami mengumpulkan tugas itu tiga hari lagi tepat ketika pelajaran Ekonomi yang akan datang dan beliau pun mengizinkan.

“Teh ibu dimana?” tanyaku pada Teh Wati seraya melepaskan sepatu.

“Pergi, ada pengajian bulanan.”

“Oh. Teteh masak apa?” tanyaku yang malas membuka tudung nasi.

“Gurame goreng, sayur asam, tahu-tempe goreng, oncom dan sambal mentah. Makan gih.” Perintah Teh Wati yang sudah ku anggap sebagai saudara kandungku.

“Iya.” jawabku mengambil sepiring nasi beserta lauk pauk.

Terdengar suara telepon genggam di sampingku berbunyi, aku yang sedang menghabiskan semangkuk nasi asik menonton kartun kesukaan ku melihat sekilas nama dari pengirim pesan, mengabaikannya. Setelah enam puluh menit aku makan malam dan salat magrib barulah aku membalas pesan darinya.

“Iya Put kenapa?” tanyaku membalas pesan dari Putra yang sedaritadi aku abaikan.

“Nggak papa. Lo lagi apa?” tanya Putra padaku.

“Lagi nonton. Kenapa?”

“Eh maaf gue ganggu ya?”

“Enggak kok santai. Kenapa deh? Lo mau tanya apa tentang Nara?” kataku memperbaiki sikap mengingat dia adalah teman dekat sahabatku.

“Hahaha iya mau tanya, Nara itu seperti apa sih?”

“Nara ya? Hmm dia gadis pintar, baik, dan juga asik.”

“Tapi kenapa ya dia kemarin diam saja nggak tegur gue justru lo yang tegur gue.”

“Malu, mungkin. Kan kalian sedang PDKT,  lo saja diam terus nggak coba tegur Nara.”

“Hehe gue malu, baru pertama kali dekat dengan cewek.”

“Hahaha masa sih? Kok gue nggak percaya ya?”

“Lah seriusan, gue baru pacaran sekali itu pun cuma main-main bertahan cuma seminggu.”

“Hahaha iya deh percaya.”

“Menurut lo Nara suka nggak sama gue?”

“Kalau nggak suka untuk apa dia memenuhi ajakkan lo menonton film di bioskop?”

“Hehe iya benar juga, cuma gue nggak yakin saja. Sekarang Nara seperti beda sama gue nggak tahu kenapa.”

“Cuma perasaan lo saja kali, dia biasa saja tuh.” jawabku menutupi cerita Nara tadi pagi disekolah.

“Hehe iya kali ya. Kesukaan Nara apa Ay?”

“Suka makan, hahaha.”

“Hahaha serius?”

“Iya serius walaupun dia kurus tapi dia suka makan sama lah kaya gue.”

“Kalian dekat sejak kapan?”

“Sejak Sekolah Dasar.”

“Berarti sudah dua belas tahun dong kalian berteman.”

“Iya.”

“Nara dulu waktu masih di Sekolah Dasar bagaimana?”

Sisa hari itu ku habisi dengan membalas pertanyaan-pertanyaan yang Putra ajukan kepadaku prihal Nara yang setelah percakapan itu aku beritahu semuanya kepada Nara, aku hanya tidak ingin membuatnya tidak nyaman karena seseorang yang dekat dengannya mengirim pesan padaku.

“Iya Nar kemarin saat Putra tanya tentang lo ke gue, kuota internet gue habis dan tiba-tiba dia kirimin pulsa ke nomor gue. Demi tahu tentang lo nih hahaha.” kata ku meminum sebotol air mineral dingin melepas dahaga setelah dua putaran aku lari di lapangan― mata pelajaran olahraga.

“Iya gue juga beberapa kali dibelikan pulsa sama Putra.” kata Nara padaku.

“Jadi lo pilih siapa nih? Putra atau Kak Raihan?” tanyaku sedikit serius.

“Gue bingung dua-duanya baik. Kalau keduanya saja boleh nggak?” tanya Nara, tertawa.

“Hahaha dasar! Pilihlah salah satu dan kasih keputusan jangan PHP-in anak orang.” godaku pada Nara.

“Hahaha sial! Iya nanti gue ambil keputusan kalau gue sudah tahu siapa yang paling menguntungkan untuk gue.” Gurau Nara yang ku balas dengan melempar tissu yang tadi ku minta.

♥♥♥

 

“Hei Putra!” Panggilku menghampirinya yang sedaritadi menunggu di depan halte. Dia tiga hari lalu mengajak ku bertemu, katanya dia ingin banyak bertanya padaku dan aku memenuhinya.

“Hei Aya.” Seru Putra terpancar jelas senyum di wajahnya.

“Maaf ya lama, bus nya sudah lewat belum?” tanyaku tergesah-gesah karena lelah berlari.

“Hahaha santai saja belum ada kok, nah itu busnya baru saja datang. Ayo Ay!” Seru Putra menghentikan bus yang sudah ditunggu-tunggu, menarik lenganku agar tidak tertinggal bus.

“Lo masih komunikasi dengan mantan lo Ay?” tanya Putra mencairkan suasana setelah kami terdiam terlalu lama.

“Sudah enggak.” Jawabku yang masih menatap jalan dibalik jendela.

“Oh gue kira masih.” Kata Putra menggaruk kepala yang tidak gatal, akhir-akhir ini dia sudah jarang membicarakan Nara digantikan pertanyaan tentangku dia juga tahu mantan ku sebulan terakhir. Dia mengetahui itu ketika kami bertemu untuk pertama kali, Nara seperti biasa mengejekku yang berpacaran dengan cinta monyetku di Sekolah Dasar.

“Lo sendiri bagaimana dengan Nara? Sudah ada kemajuan belum?” tanyaku menatap wajahnya.

“Eh? Belum.” dengan wajah bingung Putra menjawab singkat.

“Dih bagaimana sih, sudah PDKT cukup lama masa masih belum ada kemajuan? Nanti keburu diambil orang lain loh!” Seru ku menepuk pundaknya.

“Hahaha nggak tahu. Eh sudah mau sampai ayo turun.” Jawab Putra bangkit dari tempat duduk seraya membayar ongkos kami. Dia seperti tadi membantuku menuruni bus dan memasuki mall tanpa banyak bicara.

“Lo mau nonton apa Ay?” tanya Putra dalam bioskop.

“Apa ya? Bingung gue juga.” kataku melihat poster playing di layar loker tiket.

“Horror saja yang lain nggak ada yang seru.” Kata Putra membeli tiket bioskop untuk kami.

“Boleh.” jawabku singkat.

Sebenarnya aku merasa bersalah kepada Nara karena tanpa sepengetahuannya aku pergi dengan seorang yang sedang dekat dengannya walaupun sebenarnya aku memenuhi permintaan itu karena dia ingin banyak bertanya kepadaku. Bertanya apalagi selain bertanya tentang Nara?

“Ay bagaimana sekolah barunya? Enak nggak teman dan guru-gurunya.” tanya Putra seraya menghabiskan sepiring nasi dan ayam fillet pesanannya.

“Enak. Lo kenapa nggak jadi pindah sekolah Put? Padahal kalau lo jadi pindah, lo bisa lebih dekat dengan Nara.” jawabku menghabiskan sepiring nasi dan ayam bakar pesananku.

“Hehe iya jadi saat gue mau pindah orang tua gue kasih gue dua pilihan, mau pindah sekolah atau beli telepon genggam baru.”

“Oh jadi lo pilih telepon genggam baru?”

“Hehe iya telepon genggam gue sudah mulai error, jadi gue pilih beli telepon genggam baru lah daripada pindah sekolah.”

“Hahaha dasar.”

“Ay ada yang ingin gue tanyakan ke lo.” Kata Putra yang baru saja menghabiskan nasi pesanannya.

“Lo mau tanya apa sih sama gue sampai ngajak gue pergi? Mau tanya apa tentang Nara?” tanyaku menghabiskan jus jeruk milikku.

“Memangnya kalau gue enggak segera beri kepastian akan ada orang lain yang lebih dulu beri kepastian?” tanya Putra padaku dengan penuh keraguan.

“Iyalah Put, gue kasih tahu ya kalau cewek tuh nggak suka di gantungin macam jemuran kalau memang suka bilang kalau cuma main-main tinggalkan.” kataku semangat sebenarnya aku sedikit gemas karena Putra sudah terlalu lama tidak memberi kepastian uang jelas kepada Nara.

“Oh gitu ya?” jawab Putra memainkan gelasnya yang telah lama kosong.

“Iya! Makanya buru deh kasih kepastian ke Nara jangan lama-lama nanti diambil orang nyesel lho!” seruku yang dibalas dengan senyum ganjil olehnya.

“Sudah sore nih, ayo pulang!” ajak Putra kepadaku yang ku balas dengan anggukan kecil.

♥♥♥

 

“Jadi apa jawaban yang kamu berikan?” Tanya Putra padaku yang duduk membisu disampingnya.

“Iya aku mau.” Jawabku yang tersipu malu.

Sebulan lalu setelah aku pergi dengan Putra dia menyatakan cinta padaku tepat seminggu kami bertemu, aku kala itu seakan terpaku bingung ingin menjawab apa, memikirkan banyak hal menjadikan ku membeku membaca pesan singkat darinya.

“Mengapa aku?” balasku setelah aku diam untuk beberapa saat.

“Mengapa tidak?  Kamu seseorang yang aku cari selama ini, kamu baik, penuh perhatian dan aku nyaman bersama mu.” Jawab Putra yang berhasil membuatku tambah memikirkan banyak hal.

“Lalu Nara? Bukankah kamu dulu menyukainya? Mengapa dengan cepat kamu berlabuhkan hatimu kepadaku?”

“Aku hanya baru menyadari bahwa aku selama ini menyukai orang yang salah.”

“Baiklah, beri aku waktu untuk berfikir dan aku akan memberitahu kan mu nanti.” Kataku padanya dan dia pun setuju akan perkataanku.

Setelah itu aku tidak membalas pesan-pesannya, aku kala itu hanya membutuhkan waktu untuk berfikir hingga keesokan harinya aku memberitahukan pada Nara kalau Putra telah menyatakan cinta kepadaku. Aku juga meminta saran kepadanya atas apa yang harus aku lakukan dan jawaban apa yang harus aku berikan kepadanya. Aku hanya tidak ingin Nara mengetahui prihalku dari mulut orang lain dan terlebih aku menghargai dirinya sebagai sahabatku aku tidak ingin membuatnya jauh lebih kecewa denganku jikalau aku tidak memberitahukan prihal Putra kepadanya.

“Iya terserah lo saja. Gue cuma bisa bilang kalau dia tidak sebaik yang lo pikirkan.” Kata Nara setelah aku menjelaskan prihal Putra yang menyatakan cinta kepadaku dan juga setelah aku meminta izin padanya agar merestui hubunganku dengan Putra.

Tetapi hingga hari ini aku tidak benar-benar tahu apakah Nara telah mengizinkan ku bersama seseorang yang dulu ia sukai pun aku tidak benar-benar paham akan pernyataan Nara kepadaku dulu tetapi terlepas daripada itu aku yakin bahwa Nara akan menerima ku seperti dulu karena dia adalah sahabatku.

Bukankah begitu?

“Alhamdulillah terimakasih atas jawabannya, jawaban mu adalah kado ulang tahunku paling indah yang aku terima selama ini.” Kata Putra menggenggam tanganku.

“Iya sama-sama maaf ya kamunya sudah nunggu lama.” Kataku menatap wajahnya yang berseri-seri.

“Tidak mengapa jawaban mu hari ini sudah membuatku bahagia sudah cukup meruntuhkan lelahnya menunggu atas jawabanmu selama sebulan.” Kata Putra tertawa yang ku balas dengan anggukan kecil.

Hari ini berjalan lebih cepat, bagai metor yang jatuh ke bumi. Setelah pertemuan singkat kami, aku pulang kerumah dengan hati bahagia.

Bahagia?

Tidak juga, saat ini aku masih memikirkan Nara, aku masih takut menghadapi hari esok. Tetapi semakin lama aku takut akan datangnya hari esok, ia akan datang lebih cepat dari biasanya, ayah membangunkan ku  yang masih terlelap diselimuti mimpi, ibu yang lelah membangunkan ku sedaritadi tertidur pulas disamping ku. Aku terbangun dari tidurku, melaksanakan salat dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah.

“Pagi Nara.” Sapaku pada Nara yang sedang berbincang dengan Dede.

“Pagi.” Jawab Nara singkat seraya bangkit duduk di tempatnya kembali.

“Pagi Aya.” Seru Dede padaku.

“Pagi De.” Jawabku singkat.

Di sepanjang hari Nara menghindari ku, entah menghindari tatapan denganku juga menghindari untuk berbicara denganku dan aku selama sepanjang hari hanya terdiam dan membisu enggan untuk pergi ke kantin pun untuk sekedar berbincang bersama seperti biasa kami lakukan. Aku hanya memikirkan banyak hal untuk ku bicarakan nanti dengannya selepas pulang sekolah.

“Nara!” Seruku pada Nara yang bergegas pulang tanpa menghiraukan ku.

“Nara tunggu!” Seruku lebih keras agar terdengar olehnya dan langkah kaki Nara pun terhenti.

“Iya?” jawab Nara dengan wajah masamnya.

“Gue mau ngomong sama lo.” Kataku menarik nafas, lelah.

“Apa?”

“Gue sudah berpacaran dengan Putra.”

“Oh. Lalu?”

“Lo nggak marah kan Nar?” tanyaku dengan tatapan serius.

“Nggak. Sudah enggak ada yang perlu dibicarakan lagi kan? Gue pulang duluan ya, bye.” Jawab Nara singkat dan berlalu begitu saja.

Tetapi perkataan Nara hanyalah sebuah paradoks untuk menutupi luka yang berada di dasar hati, luka yang mungkin dapat ku lihat jikalau aku sedikit lebih peka saat aku melihat matanya memerah karena menahan marah juga tangis. Bibirnya mungkin mengatakan tidak pun wajahnya tampak seperti biasa tetapi hatinya mungkin menangis dan aku terlalu bebal untuk menyadari akan hal itu hingga selama berhari-hari akhirnya aku mengetahui kebenaran dalam hatinya setelah aku melihat dia mengungkapkan segalanya di media sosial.

“Ay, kamu sudah paham belum?” Tanya Bu Azizah yang sedaritadi menjelaskan materi Ekonomi berhasil memecahkan pikiranku bergelut dalam emosi.

“Eh? Maaf Bu saya masih belum paham.” Jawabku.

“Jadi Aya untuk mencari PTKP dengan menambahkan seluruh WP seperti; WP sendiri, WP kawin, dan tanggungan anak wajib pajak maka hasil dari seluruh pertambahannya adalah PTKP. Lalu setelah mengetahui hasil dari PTKP langkah selanjutnya adalah mencari PKP dengan cara mengurangi penghasilan netto dengan PTKP yang telah diketahui dan setelah itu akan dikalikan dengan PPH terutang pertahun. Nah Aya sampai sini kamu sudah paham?” Tanya bu Azizah padaku yang ku balas dengan anggukan―semoga.

“Bu untuk Ujian Akhir Semester nanti materinya apa saja Bu?” Tanya seorang teman pada Bu Azizah.

“Kalian pelajari saja semua materi di semester genap yang telah ibu berikan di kelas dan juga ketika les.”

“Siap Bu.”

“Baik karena hari ini adalah hari terakhir kita les ibu mengucapkan terimakasih dan semoga ilmu yang selama ini ibu berikan bermanfaat untuk kalian semua dan semoga hasil Ujian Akhir Semester nanti akan jauh lebih baik dari hasil Ujian Tengah Semester sehingga kalian dapat naik ketingkat selanjutnya dengan hasil memuaskan. Kurang lebihnya ibu mohon maaf kesalahan ada pada ibu dan kelebihan ada pada Allah SWT. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Kata perpisahan Bu Azizah pada kami yang telah mengikuti les selama setahun penuh.

“Walaikumsalamwarahmatullahi wabarakatuh.” Jawab kami seraya keluar kelas.

“Aya, tunggu ibu ingin berbicara denganmu.” Panggil bu Azizah padaku.

“Gue duluan ya Ay.” Pamit teman-teman meninggalkan ku yang ku balas dengan anggukan.

“Ada apa bu?” tanyaku menghampiri Bu Azizah.

“Kamu sedang ada masalah apa? Tidak seperti biasanya nilai kamu menurun di ujian harian?” Tanya Bu Azizah kepadaku seakan tahu apa yang selama ini ku pikirkan.

“Maaf Bu, Aya juga kecewa dan merasa bersalah dengan hasil ujian harian yang dua hari lalu Ibu berikan.” Kataku seraya memeluk bu Azizah.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan Aya tidak ada yang salah dalam hal ini.”

“Tapi Bu Aya takut orang tua Aya kecewa jikalau mereka tahu akan hasil ujian yang tidak sempurna itu.”

“Sebuah nilai yang kamu dapatkan tidak berarti apa-apa kalau kamu tidak menjadi anak yang baik.”

“Tapi Bu tetap saja Aya takut.”

“Aya, seberapa besar sebuah nilai yang ada dalam ijazah tidak akan berarti apa-apa dalam hidup mu semua nilai hanya sebuah angka tanpa makna. Proses pembelajaran kamu lah yang akan mengubah takdir hidupmu jika proses belajar bisa kamu nikmati, kamu cintai rasa sakit atas kegagalan dan kamu hargai segala jatuh-bangun itu serta tahan banting mendengar segala bentuk penghinaan atas kegagalan yang menimpa kamu, maka itulah yang akan membuat kamu berhasil. Orang sukses bukan di lihat dari seberapa besar hasil yang dia dapatkan dalam ujian tetapi seberapa kuat dia untuk bangkit dalam kegagalan. Ibu percaya orang tua kamu pasti bangga Ay, bukan karena nilai yang tertulis dalam rapot mu nanti tetapi karena keinginan mu untuk terus belajar, mencoba menjadi anak yang bertanggung jawab atas hidupmu serta masa depanmu pun kamu memiliki hati yang baik, ibu yakin mereka akan bangga denganmu. Nah Aya ibu akan bertanya sekali lagi padamu, kamu sedang ada masalah apa?” Jelas bu Azizah memelukku.

“Aya sedang bertengkar dengan Nara bu, Nara mengataiku di sosial media.”

“Nara teman dekatmu?”

“Iya.”

“Kenapa memangnya? Apa yang membuat kalian bertengkar?”

“Aya pacaran dengan laki-laki yang dulu sempat dekat dengan Nara tapi sungguh bu sebelum Aya terima laki-laki itu Aya sudah menanyakan pada Nara juga Aya bertanya kepada Nara apakah dia masih menyukainya atau tidak dan Aya telah meminta pendapat prihal keputusan apa yang harus Aya ambil dan Nara hanya menjawab terserah yang Aya pikir itu adalah jawaban yang sebenarnya.”

“Memangnya Nara mengatai kamu apa?”

“Dia bikin status di sosial media kalau aku ini munafik, kecentilan, muka dua dan dia  juga menyebut Aya adalah wanita yang tidak baik.”

“Aya, kamu tahu sebuah gelas?” Tanya bu Azizah kepadaku yang ku balas dengan anggukan kecil. “Ketika kedua gelas ditekan terlalu erat dengan jangka waktu yang lama maka yang akan terjadi adalah salah satu atau kedua dari gelas tersebut akan pecah. Aya kamu sudah berteman dengan Nara terlalu erat dan terlalu lama bersama tiada jarak diantara kalian hingga akhirnya gelas punyamu juga gelas miliki Nara pecah berkeping-keping―” belum habis perkataan bu Azizah aku membalas ucapannya.

“Lalu apa yang harus Aya lakukan bu?”

“Tidak ada Nak, biarkan saja Nara menenangkan diri terlebih dahulu, beri dia waktu untuk bisa memaafkan mu biarkan dia memahami segala yang telah terjadi tidak lain adalah rencana dariNya dan juga untuk mu.” Kata Bu Azizah melihatku yang ku balas dengan wajah penuh tanda tanya. “Untuk kamu menemukan jawaban yang terbaik, apakah keputusan yang kamu ambil sudah benar atau justru salah. Bukankah kamu tahu bahwa dalam agama kita pacaran itu dilarang? Tetapi sudalah, ibu juga pernah melakukan itu ketika masih seusia mu tetapi pesan ibu segala yang akan dan ingin kamu lakukan nanti selalu ingat bahwa Tuhan mu Maha melihat segalanya yang kamu lakukan, orang tua mu selalu berharap kamu bisa menjadi kebanggan dan masa depanmu selalu menunggu mu untuk mumeraihnya. Nah Aya hapus air mata mu dan semangat lagi untuk belajar agar hasil Ujian Akhir Semester kamu mendapatkan nilai yang memuaskan.” Jelas bu Azizah yang ku balas dengan anggukan―tersenyum.

♥♥♥

Tinggalkan Komentar