Alegoris Kehidupan

0
52

BAB 3 – Aku dan Bumerang

 

Malam itu aku lupa bahwa nasihat kak Rahma adalah benar. Apa katanya? Tuhan akan membalas sekecil apapun kejahatan yang pernah kita lakukan terhadap orang lain karena hidup adalah sebab akibat. Aku yang kala itu lupa bahwa Tuhan tidak akan pernah tidur, selalu mendengar jeritan hati seseorang yang tersakiti, lupa bahwa janji Tuhan adalah pasti. Lupa bahwa bumerang yang aku lempar dua tahun lalu akan tiba juga, merobek sisa kesadaran yang telah tersimpan lama disudut ruang siap menghancurkan hati yang terlalu lama keras bagai karang dipinggir lautan.

Umurku 13 tahun dan aku sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama tingkat dua. Waktu selalu berjalan lebih cepat dari yang kita inginkan, baru kemarin aku dan teman-teman berkumpul disekolah menikmati hari kebersamaan sebelum hari perpisahaan tiba. Bermain sepeda hasil dari kesepakatan pinjam-meminjam dengan teman laki-laki dikelas kami dan kami menghabiskan sisa siang kala itu berkeliling komplek mengukir kisah indah terakhir di sekolah dasar.

Aku sekolah di SMP tepat dibelakang SD ku, sekolah yang sama dengan Nara, Nana dan Mei. Sama? Tidak juga. Aku sebenarnya tidak mendapatkan sekolah yang sama dengan Nara, Nana dan Mei aku adalah murid pindahan dari sekolah swasta di Jakarta Timur. Keputusan ku untuk pindah sekolah ialah karena jarak sekolahku yang dulu cukup jauh dengan fisik yang lemah ini sering kali membuat ku jatuh sakit sehingga ayah yang khawatir akan kondisiku memutuskan untuk memindahkan sekolahku.

“Kelompok Tika ayo maju, jangan Tika dan Alfi lagi ya kalian sudah maju tiga pertanyaan beri kesempatan untuk teman kalian.” Kata bu Susi pada Tika yang hendak maju ke  depan kelas lagi untuk menyelesaikan soal kuis yang diadakan perkelompok, Tika telah menjawab dua pertanyaan dari tiga pertanyaan untuk setiap kelompok.

“Yah Bu sekali lagi deh Bu.” Pinta Tika pada Ibu Susi.

“Tidak Tika kamu sudah menjawab dua pertanyaan, beri kesempatan temanmu untuk menjawab. Puspa, Aya maju giliran kalian yang menjawab.” Perintah Bu Susi.

“Pus lo jawab soal yang nomor empat saja soal yang gampang biar Aya yang kerjakan.” perintah Tika pada Puspa dan dibalas dengan anggukan.

“Ay sini gue kasih tahu cara mengerjakannya. Jika nilai n yang memenuhi (12 + 8) + (-3n) = -22 maka caranya  – 3n = -22 – 20  kan hasilnya jadi -3n = – 42 maka n = -3/-42 = 14. Nah sudah paham?” Kata Tika menjelaskannya padaku.

“Iya paham. Yaudah gue coba jawab ya.” jawabku pada Tika.

“Perhitungan kamu benar tetapi hasil kamu minus, seharusnya hasil yang benar adalah plus karena jika minus dibagi minus akan menjadi plus. Dari lima pertanyaan kelompok kamu salah satu ya.” kata Bu Susi seraya menuliskan nilai B+ di buku nilai.

“Yah bu yang salah kan cuma satu kok jadi B+ bu?” keluh Tika yang tidak menerima hasil yang telah di dapatkan.

“Iya  karena kamu sebagai ketua kelompok tidak membantu kelompok kamu untuk menjawab pertanyaan dengan benar.” jelas Bu Susi merapikan buku, bel tanda istirahat tiba terdengar nyaring.

“Sudah saya jelasin bu, Aya nya saja yang bebal.” keluhnya menunjuk ku yang duduk disampingnya dan dibalas dengan bergeleng, mengisyaratkan ‘tidak ada alasan.’

“Lo sih Ay! Gue kan sudah kasih tahu cara dan jawabannya kenapa masih saja salah? Heran gue, itu soal kan gampang masa gitu doang lo nggak bisa?” Hardik Tika padaku.

“Iya maaf tadi gue lupa kalau minus ketemu minus itu jadi plus bukan minus.” jawabku pada Tika.

“Ya ampun lo nggak lulus SD apa gitu saja nggak tahu! Sudah ah gue mau istirahat.” Kata Tika meninggalkan aku didalam kelas seorang diri.

Ialah Tika teman sekelas ku dan juga teman sebangku ku. Teman? Apa aku bisa mengatakan dia adalah teman? Apa ada seorang teman yang tega merendahkan temannya? Terlebih, apa dia menganggap ku adalah temannya? Sebenarnya ketika aku naik ke kelas dua aku duduk dengan teman sebangku ku waktu kelas satu, Nada. Tetapi baru dua minggu sekolah orang tuanya dipindah tugaskan ke luar kota, meninggalkan aku seorang diri hingga jadilah Tika duduk denganku.

Tika adalah murid yang cukup cerdas juga cantik dan mudah bersosialisasi sangat bertolak belakang denganku. Dia cukup dikenal oleh banyak murid, mungkin karena dia cukup galak jika dibandingkan dengan gadis seusianya entahlah. Dia sebenarnya baik tetapi hanya dengan teman-temannya saja dan mungkin aku tidak termasuk dalam daftar teman-temannya. Bagiku dengan segala kelebihan yang dia miliki dia sungguh sulit untuk di dekati terlebih bagi seseorang sepertiku.

Aku jadi mengingat masa lalu, kejadian tepat sehari sebelum perlepasan ku dari sekolah dasar. Tangisan dari seseorang yang aku rendahkan mungkin telah berhasil membuat Tuhan turun tangan hingga Dia menghukum ku atas perilakuan ku selama ini, kesalahan yang menghancurkan dinding pertahanan,. Penghinaan dari perkataan Tika mungkin adalah benih yang telah aku tanam dan rasa sakit atas penghinaan itu merupakan buah yang harus aku makan sampai habis dengan penuh keikhlasan.

♥♥♥

 

“Kalian nanti mau daftar SMP mana?” tanyaku pada sahabatku.

“SMP 1, SMP 3, dan SMP 5” Jawab mereka serentak.

“Kalian cari yang dekat ya biar nggak kesiangan?’ tanyaku tertawa.

“Itu mah lo Ay si tukang telat.” Seru Ira yang disambut dengan gelak tawa sahabat-sahabatku.

“Eh kalian sudah tahu belum? Besok kan geng alay ikut andil dalam acara pelepasan kita.” tanya Mei.

“Hah serius? Kok gue nggak tahu?” tanya Mulan.

“Iya serius gue tadi sempat lihat susunan acaranya dan ada nama mereka disana.” Kata Ira menjelaskan.

“Pantas saja gue lihat mereka hari ini, nah itu mereka.” Tunjuk Nandya seraya mata kami tertuju pada mereka yang sedang latihan dance diatas panggung.

“Isengin yuk!” ajak Ara dan kami mengikutinya.

“Wih ada yang lagi latihan dance nih.” seru Nara yang dimaksud menoleh.

“Yang katanya hasil koreografi mereka ya?” kata Yanti disambut dengan gelak tawa kami.

“Eh jangan gitu nanti adik kelas kita ngadu lagi loh sama guru.” Tambah Ira yang tengah merangkul Filay dan langsung melepasnya dengan ekpsresi jijik.

“Tahu nih Yanti dan Nara gangguin mereka latihan aja.” Seru Mei.

“Nanti mereka nangis lagi seperti kemarin.” Kata Nandya yang dibalas dengan kebungkaman mereka seraya melanjutkan latihannya.

“Ayo teman-teman disawer biduannya.” Seru ku melemparkan uang recehan ke wajahnya yang diikuti oleh sahabat-sahabatku.

Sang angin membelai lembut pipiku, dedaun yang sedikit menguning itu melambai-lambai sengaja ingin mengajak ku menari―mungkin ia bosan lihat wajahku yang menyapu bersih halaman dan aku menghabiskan gorengan yang tadi ku beli dikantin belakang. Teman-teman masih sibuk diluar ruang kelas meninggalkan aku duduk seorang diri.

Sejujurnya aku tidak memiliki teman walau aku hampir dua tahun aku sekolah disini. Tidak seorang pun. Teman yang sudah ku anggap sahabat kini telah mengabaikan ku. Mereka adalah Nara, Nana dan Mei mereka telah melupakanku dan memilih bermain bersama teman barunya masing-masing tega meninggalkan ku seorang diri. Kesedihan itu semakin memuncak setelah dua hari lalu Tika meneceritakan prihal Nara padaku yang dia dengar dari teman baru Nara.

“Ay memang benar lo bersahabat dengan Nara?” tanya Tika melepas kebosanan ditengah kelas kosong tanpa guru.

“Eh? Iya gue bersahabat dengan Nara, Nana dan juga Mei. Kenapa memangnya?” tanyaku pada Tika.

“Enggak cuma heran saja kan lo bilang kalau kalian bersahabat tapi kenapa Nara sepertinya enggak suka banget ya sama lo?” kata Tika padaku.

“Maksudnya bagaimana? Nggak suka bagaimana maksud lo?” tanyaku yang bingung maksud dari perbincangan ini.

“Lo tahu kan Wirda teman dekatnya Nara?” tanya Tika yang ku jawab dengan anggukan kecil.“Wirda tadi cerita sama gue kalau Nara nggak suka banget sama lo.  Dari cerita Wirda sih seperti Nara merendahkan lo gitu Ay.” kata Tika pada ku.

“Merendahkan bagaimana Tik?”

“Nara cerita dengan Wirda kalau lo tukang nyontek, kalau ada tugas lo selalu menyontek tugasnya Nara lo juga nggak bisa apa-apa kalau nggak ada teman-teman lo. Ah dia juga bilang kalau sebenarnya dia nggak pernah mau berteman dengan lo apalagi punya  teman bodoh seperti lo.” Jelas Tika padaku.

Kala itu hatiku bagai tertusuk hujan anak panah.

Sakit.

Sungguh aku bahkan tidak pernah berfikir walau sehasta pun aku tidak pernah menyangka jika Nara sahabatku akan mengatakan buruk dibelakang ku. Sungguh apa ini maksud perkataan ibu satu tahun yang lalu?

Sebelum aku dipindahkan ibu sudah menasihatiku agar memikirkannya dengan baik, kata ibu “Ay dalam hidup ini ada yang pergi dan ada pula yang datang, mungkin sudah saatnya teman lama pergi dan tergantikan dengan teman baru kamu hanya perlu mengikhlaskannya karena jika benar mereka adalah teman baikmu, sahabatmu mereka tidak akan pernah pergi dari hati pun dari kenangan dan masa depan. Cukup biarkan waktu yang akan menjawab segalanya, waktu akan selalu menunjukkan kualitas seseorang apakah mereka benar seseorang yang baik atau pun seseorang yang buruk.” Kata ibu setelah mendengar alasan jujur ku untuk pindah yang hanya ingin bertemu dengan sahabat ku di SD ku dulu.

Ah perkataan seorang ibu selalu benar, bukan? Andai saja kala itu aku memilih untuk tetap tinggal di sekolah yang berbeda dengan sahabatku, membiarkan waktu yang mengambil ahli untuk mempererat atau memperlemah pertemanan kami serta membiarkan alam menyeleksi teman terbaik untuk menemaniku melewati masa remaja ku. Ah andai waktu selalu bisa diputar. Andai.

Suara bel tanda berakhirnya istirahat terdengar nyaring. Siswa-siswi berbondong-bondong masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran yang sempat tertunda.

“Ay lo nggak jajan?” tanya Alfi seraya duduk di kursi miliknya tepat dibelakang kursiku.

“Eh? Sudah.” jawabku singkat.

“Perkataan Tika jangan dipikirin Ay, dia memang begitu. Gue dan Alfi juga nggak masalah dapat nilai B+ masih bagus kok nilai kita. Betul nggak Fi?” kata Puspa membesarkan hatiku.

“Benar Ay, jadi tidak perlu dipikirkan. Gue juga nggak masalah dapat nilai B+ itu juga sudah bagus kok.” jawab Alfi dan ku balas dengan anggukan kecil.

Mereka adalah teman SD ku juga tetapi dulu kami memang tidak terlalu dekat, dulu mereka sedikit segan denganku dan sahabat-sahabatku. Entah aku tidak begitu tahu mengapa, mungkin karena geng ku terlalu banyak membuat masalah hingga teman-teman yang lain segan untuk akrab dengan kami.

Mata pelajaran terakhir adalah IPA. Pelajaran yang sebenarnya tidak aku sukai tetapi guru yang baik akan membuat pelajaran lebih jauh menyenangkan, bukan?

“Kamu tahu nak? Mengapa telur asin bisa menjadi sangat lezat?” Tanya pak Rahmat seraya membungkus telur bebek dengan adonan abu gosok dan garam, hari ini kami praktek membuat telur asin dihalaman belakang.

“Enggak pak.” Jawab kami serentak.

“Karena telur bebek ini ‘rela’ diamplas, dibaluri oleh abu gosok hitam pekat yang telah dicampur dengan asinnya garam dan menunggu selama 20 hari di dalam ember yang tertutup rapat hingga akhirnya ia menjadi nikmat untuk dimakan.” Jawabnya menaruh tumpukan telur yang telah dibaluri abu gosok serta garam ke dalam ember dan segera menutupnya dengan rapat. “Seperti kehidupan ini, jika kita ingin mencapai kesuksesan kita harus ‘rela’ diamplas ribuan kali dengan berbagai kegagalan, diselimuti oleh tumpukkan buku tak peduli siang atau malam kita harus terus belajar tanpa lelah dan menyerah, mengurangi waktu bersenang-senang bersama teman-teman atau menutup keinginan kita untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna hingga akhirnya yang kita rasa adalah sebuah kenikmatan atas kesuksesan yang telah kita terima.” Jelas pak Rahmat memandangi bola mata kami yang melihat takjub.

“Tapi pak kalau kita tidak menikmati masa muda nanti kita nggak bahagia di masa tua. Belajar kan bisa nanti-nanti pak kalau sudah SMA atau kuliah sekarang waktunya menikmati masa muda dengan bersenang-senang.” Kata seorang teman memecahkan keheningan.

“Nak, masa muda memang menyenangkan penuh dengan rasa penasaran dan harsat untuk menjadi yang terdepan. Tetapi jangan pernah kamu lupa kalau waktu selalu berjalan lebih cepat dari yang kita pikirkan jangan menghabiskan waktu kamu dengan terlalu banyak bersenang-senang hingga lupa untuk belajar dan menata masa depan. Paham anak-anak?” Jelas pak Rahmat padanya.

“Paham pak.” Jawab kami serentak menyamarkan suara bel tanda pulang sekolah.

“Baik, simpan telur-telur kalian di lab fisika setelah 20 hari kita akan menikmati hasil telur asin yang kita buat hari ini. Nah kelas dibubarkan, kalian boleh pulang.” Jelasnya meninggalkan kami yang hendak merapikan sisa abu gosok yang berantakan.

“Baik pak.”

 

♥♥♥

 

 

Pagi berganti malam. Hari yang melelahkan telah terlampaui. Aku tertidur pulas di kamar ibu memeluk mimpi. Suara nyaring ibu membangunkan lelapnya aku yang terselimut asa. Mengambil sepotong roti dengan selai strawberry dan meminum segelas susu coklat buatan ibu dan bergegas pergi ke sekolah.

Aku telat.

“Kalian sangat beruntung sudah masuk sekolah negeri dan karena keberuntungan itu seharusnya kalian banyak bersyukur serta belajar yang giat bukan dengan tawuran atau bolos sekolah seperti ini.” kata seorang guru kesenian yang berhasil membungkamkan kami. “Kalian jangan pernah berfikir kalau kalian telah naik kelas adalah sepenuhnya hasil dari  kerja keras kalian, nilai-nilai kalian. Jika kalian ingin tahu setengah dari satu kelas ini belum tentu bisa naik kelas tetapi lihatlah dari kerja keras dan upaya wali kelas yang membuat kalian bisa naik ke tingkat selanjutnya. Lihat Aya, dia anak pindahan dari sekolah swasta kalau kalian tahu jika dia tidak dibantu oleh saya sebagai wali kelasnya dulu, dia nggak akan mungkin bisa naik kelas karena dia tidak pintar dan sering tidak masuk karena sakit tapi dia adalah anak yang rajin sehingga kerajinan yang ia miliki membuat dia bisa naik ke kelas dua.” kata bapak  Herdi pada kami.

Aku bisa merasakan teman sekelas ku tertuju ke arah ku, entah apa yang dipikirkan―mungkin pikiran baik atau juga pikiran buruk tentangku. Tetapi sejujurnya yang aku rasakan saat ini adalah kekecewaan. Iya, kekecewaan kepada seorang guru yang seharusnya bisa menjadi panutan ku. Aku berfikir apakah ini sebuah pujian? Ataukah sebuah hinaan? Bukankah membandingkan seorang murid didepan murid lainnya adalah tindakan yang buruk? Sebuah tindakan yang tidak seharusnya seorang guru lakukan terlebih jika dengan cara merendahkan seperti itu.

Tetapi ini bukan pertama kali untuk ku. Mata pelajaran sebelum kesenian adalah bahasa asing. Pagi itu aku yang telat bergegas mengerjakan tugas yang guru berikan pada kami, tugas menterjemahkan kalimat yang telah ia buat menjadi sebuah paragraf baru dengan menggunakan bahasa indonesia. Aku yang memiliki kamus elektronik―yang sedang populer di sekolah kami menggunakan kamus elektronik itu untuk menerjemahkan kalimat. Ketika aku memakai kamus elektronik guru bahasa asing itu tidak menegur apapun ia hanya diam saat melihat ku memakai kamus elektronik. Tetapi entah mengapa ketika teman sebangku ku, Tika memakai kamus elektronik yang ia pinjam dariku guru itu pun menegurnya.

Menegur?

Tidak, yang ia keluarkan adalah sebuah nasihat baik untuk masa depannya seakan mengabaikan ku yang sedaritadi memakai kamus elektronik itu tepat didepan wajahnya. Katanya, “Jangan memakai kamus elektronik itu Tika, memang itu akan memudahkan mu untuk menemukan sebuah kata tanpa harus membalik lembar demi lembar tetapi kamus elektronik itu akan membuat otakmu bodoh dan semakin membuatmu malas. Sungguh rugi orang-orang yang membeli alat seperti itu.”

Kala itu yang aku rasakan adalah sakit. Sakit karena sebuah perbandingan. Sakit karena seakan aku tidak dianggap olehnya. Bukankah seorang guru harus mendidik seluruh muridnya? Bukan hanya satu orang murid saja? Apa karena aku berbeda dengan Tika yang lebih pintar dariku hingga ia membiarkan ku melakukan kesalahan? Membiarkan masa depanku saja yang suram tetapi tidak dengan Tika?

Aku memikirkan banyak hal, memilih diam dan membisu diatas bangku sekolah. Enggan untuk istirahat walau bel tanda makan siang sudah berbunyi sejak tadi ‘tak peduli Tika berbaik hati mengajakku makan di kantin depan hanya tersenyum dan menggelengkan ketika dia mengajakku. Banyak yang aku pikirkan, banyak yang aku rasakan dan mereka tidak akan pernah mengerti. Suara adzan terdengar merdu setia memangil siapa saja yang ingin pulang. Aku beranjak pergi ke mushola sekolah melewati lorong demi lorong penuh siswa siswi yang bersuka-cita―tersenyum jika menyapa melengos jika terabaikan.

Sepuluh menit cukup untuk melaksanakan ibadah dengan untaian doa yang penuh harap agar terdengar olehNya.

“Aya solat sendirian saja.” sapa pak Herdi.

“Iya pak yang lain masih pada makan siang.” jawabku singkat dan bergegas memakai sepatu―malas melihat wajahnya terlebih karena dia lah yang membuat ku memikirkan banyak hal hari ini.

“Sepatu bapak sudah rusak nih Ay.” Kata pak Herdi membuka sepatu yang ku balas dengan wajah serba tanggung. Bingung karena tidak melihat ada yang rusak pada sepatu yang dia kenakan pun bingung untuk apa mengatakan hal seperti itu kepadaku? Apa peduliku? Belum habis pikiranku menjawab semua pernyataan serba tanggung itu dia melanjutkan maksud tujuannya mengatakan hal yang membingungkan itu.

“Bilang ibu mu dong Ay, beliin sepatu baru untuk bapak kan bapak sudah bantu kamu naik kelas kalau nggak ada bapak kamu nggak akan mungkin bisa naik.” Jelas pak Herdi dengan senyuman.

Hancurlah junjungan ku kepada seorang guru.

Musnah sudah sanjung ku untuk seorang guru.

Hari itu dan seterusnya aku tidak akan pernah menyukai seorang guru. Tidak seorang pun.

 

♥♥♥

Tinggalkan Komentar