COLOURFULL OF LOVES 10

0
135

(-10-)

THIS IS REAL, NOT DREAM

x x x

“A-ano …” Evelyn kembali menggigit bibir bawahnya, pertanda ketika ia tengah dilanda kegugupan atau kebingungan. Pria tampan di hadapannya benar-benar membuat ia salah tingkah dan serba salah.

Apalagi sedari tadi pria itu terus saja memandanginya tanpa berkedip. Seolah Evelyn adalah objek penelitian yang sangat penting untuk kedua netra indah miliknya. Tak bisa dilewatkan meski sedetik saja. Hal itu jelas sangat mengganggu si gadis yang memang pada dasarnya sangat pemalu.

Namun hey! Siapapun yang dipandangi terus-menerus seperti itu pastilah akan merasakan ketidaknyamanan. Begitupula dengan Evelyn. Ekspresi wajah serta sorot mata pria itu tak terbaca. Sangat datar dan hampa. Seolah tak memiliki jiwa. Seolah sebuah boneka atau robot saja.

“A-ada yang bisa saya bantu?” Evelyn memberanikan diri untuk bertanya. Lagi. Entah untuk yang ke berapa kalinya. Ia telah mengajukan berbagai pertanyaan pada pria itu, namun sekalipun tak pernah mendapatkan respon yang berarti. Pria itu tetap saja bungkam, diam dengan tatapan yang masih terfokus padanya.

‘Ya Tuhan … Sebenarnya pria ini kenapa sih? Aneh sekali. Sejak tadi hanya diam saja tak mendengar atau menjawab pertanyaanku. Apa ia bisu dan tuli?’ Erang Evelyn mulai kesal. Menghela nafas berat guna mengeluarkan segala hal yang memenuhi hati serta pikirannya.

“Aku sakit.” Pada akhirnya pria itu bersuara. Membuat perhatian Evelyn langsung tertuju padanya.

Terpesona. Evelyn seolah baru saja mendengar suara seorang malaikat. Lembut dan menenangkan. Suara pria itu sangat indah sama seperti wajah dan penampilannya.

Pria itu memiliki rambut hitam berkilau yang memanjang hingga ke leher, tubuh tingginya terbalut setelan jas berwarna putih senada dengan dasi yang melingkar di kerah kemeja biru muda miliknya. Punggungnya lebar. Kulitnya putih bersih bahkan terkesan pucat seperti kekurangan darah. Namun meski begitu tak mengurangi kesempurnaannya. Ia terlihat sangat tampan seperti malaikat tanpa sayap yang dikirim Tuhan dari Surga.

Terdengar hiperbola memang, namun itulah yang ada di dalam pikiran Evelyn. Ia bahkan telah menghabiskan waktu beberapa menit untuk meneliti dan memperhatikan pria tampan yang ada di dekatnya hingga terciptalah kesimpulan tersebut.

‘Bodoh! Apa sih yang aku pikirkan disaat seperti ini?’ Batin Evelyn merutuki kebodohannya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya guna menghilangkan pikiran aneh yang bermunculan disana.

Sedikit berdehem, Evelyn berusaha bersikap normal tanpa memperlihatkan kegugupan dan kecanggungannya. Ia pun bertanya, “Apa yang anda rasakan?”

“Kau membuatku sakit.” Pria itu menyimpan sebelah tangannya diatas dada. Sangat terus terang, tak ada keraguan sedikitpun didukung dengan raut wajahnya yang serius terkesan tanpa ekspresi.

Dahi Evelyn sedikit mengernyit tanda kebingungan. Ia benar-benar hilang akal. Tak tahu harus bereaksi bagaimana ketika ada seorang pria tampan mengatakan hal aneh dan tak masuk akal begitu. Kapan Evelyn pernah menyakitinya? Bahkan mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Ini adalah pertemuan pertama mereka. Namun pria itu berkata bahwa Evelyn telah membuatnya sakit.

“Maaf, saya tak mengerti maksud anda.”

Pria itu telah berdiri membuat tubuh tingginya terlihat semakin menjulang di hadapan gadis mungil dan pendek seperti Evelyn. Tanpa diduga ia berjalan mendekati kursi Evelyn, membuat gadis itu reflex bangkit berdiri untuk menjauh, berjalan mundur hingga terpojok.

Evelyn tak bisa bergerak lagi. Terjebak diantara tembok di belakangnya dan kedua tangan pria asing yang kini telah berada di sisi kanan dan kiri. Evelyn dibuat mati kutu olehnya. Tak tahu harus bagaimana.

“A-ano…” Jantung Evelyn seolah akan meledak karena keadaan yang tengah dihadapinya. Jarak mereka terlalu dekat sekarang. Ia bahkan bisa mencium aroma khas memabukkan yang menguar dari tubuh menjulang dihadapannya. Wajah Evelyn memerah. Grogi, salah tingkah dan malu. Hanya menundukkan kepala tak berani menatap ke depan.

‘Situasi macam apa ini?’ Teriak Evelyn dalam hati. Jika terlalu lama dalam posisi seperti itu maka sudah dipastikan ia akan pingsan sebentar lagi.

Lihat saja kulitnya yang putih telah berubah menjadi merah bak tomat matang.

“Selama seribu tahun aku hidup, sekalipun aku tak pernah merasakan hal aneh seperti ini. Dadaku bergejolak. Rasanya akan meledak kapan saja. Ada sesuatu di dalam perutku yang membuat tak nyaman. Menggelitik. Hanya dengan melihatmu saja aku sudah tersiksa sedemikian rupa.”

Lantunan suara lembut penuh wibawa milik pria itu kembali terdengar. Evelyn terpaku dibuatnya. Cara bicara, penampilan serta tingkah lakunya mencerminkan bahwa ia bukanlah orang dari kalangan biasa atau rakyat jelata. Ia pasti berasal dari kalangan atas. Berdarah biru. Sejenis bangsawan.

“Ma-maaf.” Hanya itu yang bisa Evelyn ucapkan. Ia bingung harus memberikan respon bagaimana. Iapun tak tahu untuk apa meminta maaf.

Namun tunggu dulu! Ada yang aneh dari ucapan pria itu. Evelyn menggelengkan kepalanya berharap kewarasannya akan kembali. Mungkin Evelyn salah dengar saat pria itu berkata bahwa dirinya telah hidup selama seribu tahun. Ya, pasti ia sudah salah. Mana mungkin seseorang akan hidup selama itu? Kecuali jika orang tersebut bukanlah manusia, melainkan makhluk immortal seperti vampire.

‘Astaga, aku mulai gila.’ Batin Evelyn merutuki kebodohannya sendiri karena telah berpikir aneh tentang pria itu. Seharusnya ia tak terlalu sering menonton film horor tentang vampire dan semacamnya, sehingga otaknya tak dipenuhi dengan hal-hal tak masuk akal.

Kedua manik pria itu terlihat bersinar. Sangat indah bak sebuah batu oniks. Bahkan jauh lebih indah lagi. Seakan terhipnotis, aku yang sejak tadi berusaha mengalihkan tatapan ke sembarang arah kini malah menatap lurus tepat di matanya. Tak bisa dilewatkan begitu saja keindahan langka ini.

“Kau hanya manusia biasa namun aku telah kalah telak olehmu.”

Ia mengangkat tangan kanannya perlahan ingin menyentuh wajah Evelyn. Hal itu berdampak besar pada jantung si gadis yang tengah berlari maraton di dalam sana. Sepertinya Evelyn akan terkena serangan jantung jika tak segera keluar dari situasi ini.

Otak Evelyn memerintahkan untuk bergerak, namun tubuhnya mengkhianati. Kaku. Tak bisa digerakkan. Ia telah terjebak oleh pria asing perwujudan malaikat yang tengah memojokkannya diantara dinding. Semua yang ada pada diri pria itu adalah keindahan. Terlalu sempurna. Terlalu sulit untuk mencari kekurangannya meski setitik saja.

Untuk beberapa saat, ketika jemari panjang nan pucatnya menyentuh kulit wajah Evelyn, detakkan jantung gadis itu seolah terhenti. Nafasnya tertahan. Darahnya memanas. Hanya dengan sedikit  sentuhan saja Evelyn menjadi kacau.

Ini aneh. Evelyn bukanlah gadis polos yang tak pernah jatuh cinta dan menjalin hubungan asmara dengan seorang pria. Sensasi dan perasaan yang kini ia alami sangatlah berbeda. Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.

“Ini menyakitkan namun juga menyenangkan. Aku merasakan kedua hal itu secara bersamaan.” Pria itu masih menyentuh wajah Evelyn. Mengusapnya lembut seolah ingin merasakan kulit si gadis secara perlahan. Sedangkan Evelyn masih tak kuasa bernafas secara normal. Terlalu berat untuknya hingga kepalanya mendadak pusing.

Kaki Evelyn melemas. Hampir oleng terjatuh ke lantai jika saja pria itu tak menangkap tubuhnya dengan cepat. Mendekapnya. Tak terlalu erat. Menenangkan sekaligus mengacaukan kinerja sistem tubuh Evelyn.

“Zerd. Ingatlah namaku!” Ujarnya seolah ingin Evelyn merekam suaranya di dalam memori kepala si gadis.

Bulu kuduk Evelyn meremang seketika. Tubuh pria itu sangat dingin tak seperti manusia normal. Dan yang lebih mengejutkan lagi, jantungnya sama sekali tak berdetak. Telinga Evelyn menempel tepat di depan dada bidangnya, namun Evelyn tak bisa merasakan dan mendengar apapun  disana.

Ini tak mungkin bukan? Tak mungkin ada seorang manusia tak memiliki detak jantung, karena itu artinya ia telah mati. Kecuali jika orang tersebut bukanlah seorang manusia. Dengan kata lain, hanya seorang vampire yang tak memiliki detak jantung. Tak memiliki suhu tubuh yang normal. Dingin dan pucat seperti mayat.

Evelyn tak ingin membenarkan pemikiran gila yang sempat melintas di dalam kepalanya tadi. Semua hanya omong kosong. Vampire tak mungkin ada di dunia nyata. Mereka hanyalah makhluk fiksi yang tercipta oleh para pembuat cerita.  Keberadaan mereka hanyalah khayalan belaka.

Lantas adakah jawaban lain yang lebih rasional atas pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya itu?

“Kau benar. Aku adalah seorang vampire.”

Pengakuan jujur tanpa basa-basi itu terlontar begitu saja dari mulut Zerd. Tenang sekali seolah mengakui hal biasa. Berbanding terbalik dengan Evelyn yang bergetar ketakutan di dalam dekapannya.

Kini Evelyn tengah berada di dalam dekapan seorang vampire yang selalu menghisap darah manusia sebagai makanannya.

Apa hidupku akan berakhir secepat ini? Masih banyak hal yang belum aku lakukan. Masih banyak hal yang belum kucapai. Aku tak ingin mati muda. Selamatkanlah aku, Tuhan!’

Tenggorokkan Evelyn kesat tak mampu bersuara. Hidupnya berada di ujung tanduk. Salah bicara atau bertindak sedikit saja, ia mungkin akan mati di tangan Zerd. Ia bisa menghisap darahnya hingga kering jika mau. Ia bisa mencabik tubuhnya hingga hancur. Atau menyantap dagingnya sekalian tanpa sisa.

Membayangkan semua hal mengerikan itu membuat Evelyn semakin ketakutan dan gelisah saja.

“Pikiranmu terlalu berlebihan. Aku tak sekejam itu.” Zerd berujar kembali. Melakukan hal tak terduga dengan menggendong Evelyn ala bridal style. Evelyn menatapnya horor. Tak terbayangkan apa yang akan ia padanya.

Suara pintu terbuka keras hampir membuat Evelyn mati karena jantungan. Di daun pintu sana terlihat seorang pria tinggi berkacamata bersurai pirang tengah menatap kearah mereka dengan ekspresi wajah terkejut.

Evelyn bernafas lega sekaligus ingin menangis ketika melihatnya. Pria yang diharapkan akan datang menyelamatkannya ternyata benar-benar muncul di hadapannya saat ini.

“Samuel, to-tolong aku! Pri-pria ini seorang vampire. A-aku akan dibunuhnya.” Meski tergagap Evelyn memberanikan diri untuk berbicara. Hanya  Samuel yang bisa menyelamatkan hidupnya. Tak ada yang bisa diharapkan lagi.

Ketakutan yang telah merajai mulai mengambil alih tubuh serta pikiran Evelyn. Air matanya telah mengalir membasahi wajah. Gemetar tubuhnya tak bisa disembunyikan lagi. Terlihat sangat jelas seperti orang yang terkena hipotermia.

“Eve …” Samuel terlihat terkejut melihatnya. Lebih terkejut lagi saat ia melihat sosok pria tampan yang kini tengah menggendong Evelyn.

Belum sempat Evelyn membuka mulutnya, ucapan Samuel selanjutnya membuat gadis itu kian kehilangan akal sehat, “Ternyata anda disini, My Lord. Saya mencari-cari anda sejak tadi. Khawatir anda akan tersesat. Sedang apa anda berada di ruang kesehatan ini? Saya telah menunggu kedatangan anda di ruangan pribadi saya sejak tadi.” Tanya Samuel sopan dan lembut. Penuh hormat.

‘Demi Tuhan! Jadi mereka sebenarnya telah saling mengenal satu sama lain? Jadi, Headmaster sekaligus teman baik di sekolah tempat bekerjaku juga seorang vampire sama seperti pria ini?

Kepala Evelyn bertambah berat memikirkan semua kegilaan yang terjadi. Tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak apalagi melarikan diri. Kenyataan yang tersaji di depan matanya terlalu mengejutkan dan mengacaukan kinerja otaknya dalam sekejap.

“Aku telah kalah dan mati untuk yang kedua kalinya, Samuel.” Ujar Zerd membuat dahi semua orang yang mendengarnya mengernyit karena tak mengerti.

“Apa maksud anda, My Lord?” Tanya Samuel langsung. Sedangkan Evelyn hanya terdiam tanpa bisa berbicara ataupun melakukan apa-apa. Jujur saja, kondisinya kini tak menguntungkan sama sekali. Ia takut salah mengambil tindakan yang pastinya akan membahayakan nyawanya sendiri.

“Makhluk kecil, lemah, tak berdaya dan manis inilah yang menjadi penyebabnya.” Mata mereka kembali bertemu. Zerd menatap Evelyn penuh arti tak sedatar dan sehampa tadi. Evelyn bisa melihat adanya sinar kehidupan di sepasang manik indah itu.

Evelyn terhipnotis olehnya untuk ke sekian kali. Tak mampu mengalihkan pandangan kearah lain. Sesaat melupakan kondisi yang tengah dialami, melupakan eksistensi Samuel diantara mereka. Waktu seolah berhenti. Dunia pun seolah berhenti berputar. Mereka tetap saling menatap tanpa berniat untuk mengakhirinya.

“Atur segera pernikahanku dengannya! Aku ingin menjadikan gadis manusia ini sebagai istriku, Samuel.” Perintah serta pernyataan Zerd menghancurkan hipnotis dari sepasang manik oniks mempesona itu. Evelyn segera kembali ke alam  nyata. Menyadari bahwa hidupnya benar-benar akan berakhir segera.

Bola mata Evelyn bergerak gelisah dan takut. Melempar tatapan minta tolong pada Samuel yang selama ini selalu memperlakukannya dengan sangat baik, selalu menolongnya kapanpun dan dimanapun. Berharap Samuel akan mengesampingkan urusan kehormatan dan tata kramanya pada Zerd kemudian memilihnya. Namun yang ia dapat hanya tatapan meminta maaf dari pria itu. Samuel tak bergeming dari tempatnya, menundukkan kepalanya guna menghindari tatapan Evelyn.

“Baik, My Lord. Saya akan laksanakan sesuai perintah anda.” Ucapan Samuel semakin membuat Evelyn kehilangan harapan untuk bisa keluar dari keadaan ini ataupun melarikan diri dari pria tampan yang baru saja memaksa untuk menikahinya.

“TIDAAAAAK. A-aku tak mau menikah denganmu. Kita sangat berbeda. Kita tak mungkin bisa hidup bersama dengan perbedaan besar yang ada. Hidup manusia itu tak akan lama, sedangkan hidup vampire kebalikannya. Lagipula kita baru saja bertemu, bagaimana bisa kau langsung berkeinginan untuk menikah denganku? Ini gila. Sangat gila. Aku bahkan tak pernah membayangkan hal ini dalam mimpi sekalipun. Pokokny aku ti—”

Semua ocehan yang keluar dari mulut Evelyn seketika terhenti ketika sesuatu yang kenyal dan basah mengenai bibirnya. Zerd baru saja menjilat bibirnya. Sengatan listrik berskala besar langsung menyerang tubuh Evelyn. Ia tak bisa bergerak apalagi melanjutkan kata. Terlalu terkejut dengan tindakan yang baru saja dilakukan pria itu.

Oh, dan lihat saja raut wajah Zerd! Masih saja datar tanpa ekspresi. Sangat jauh berbeda dengan Evelyn yang telah berubah kacau dalam sekejap. Wajahnya sangat memerah sekarang. Detak jantungnya terlalu cepat dan keras. Mampu terdengar oleh orang yang tengah berada dekat dengannya.

My Lord …” Samuel pun terkejut. Matanya membola. Ada rona merah tipis menghiasi wajah tampannya. Mungkin ia merasa malu melihat adegan yang baru saja terjadi. Yang melihat saja merasa malu, apalagi Evelyn yang menjadi sasaran tindakan Zerd. Namun si pelaku malah terlihat biasa saja, tak terpengaruh sedikitpun.

Dasar makhluk berhati dingin.

“Manis sekali. Banyak hal aneh yang terjadi padaku saat menyentuhmu. Ini menyenangkan dan aku menyukainya.” Zerd sedikit menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.

Sedikit demi sedikit raut wajah datar dan hampa miliknya mulai menunjukkan beberapa ekspresi. Seribu kali menambah ketampanannya. Evelyn sampai tak ingin berkedip menatap wajahnya saat tersenyum seperti itu. Tak ingin kehilangan senyum itu dari bibirnya.

M-my Lord …” Bingung dan kehilangan kata. Samuel pun tak tahu harus menanggapinya seperti apa.

Zerd melangkahkan kedua kaki jenjangnya menuju pintu keluar. Melewati Samuel yang masih berdiri di dekat sana. “Aku akan membawanya ke rumah. Kau segera urus semua sesuai perintah.” Ujarnya tegas tanpa keraguan. Jelas tak terbantahkan.

“Akan saya laksanakan secepatnya, My Lord.” Kepala Samuel tertunduk hormat dengan sebelah tangan tersimpan di dada.

Langkah Zerd kian menjauh. Sekilas sebelum pria tampan ini membawa Evelyn pergi, ia melihat gerakan bibir Samuel mengucapkan kata ‘maafkan aku’ tanpa suara. Sorot matanya menunjukkan ketidakberdayaan dan penyesalan. Tak berdaya di hadapan pria yang kini tengah menggendong Evelyn menyusuri area sekolah tanpa peduli dengan keadaan sekitar atau berbagai arti tatapan para murid yang mengarah pada mereka. Merasa menyesal karena tak bisa menolong sama sekali.

Evelyn bisa mengerti. Berusaha keras untuk mengerti posisi Samuel. Hanya saja kondisi dan keadaannya saat ini benar-benar tak masuk akal. Mungkinkah semua yang terjadi hanyalah mimpi? Ah, benar. Ia pasti tengah bermimpi. Ia akan memejamkan mata selama lima menit kemudian membukanya kembali. Setelah itu semuanya akan tampak normal seperti biasa. Ia yang masih terbaring di kamar  berbalutkan selimut berbulu kesayangannya.

‘Oke, akan kumulai.’ Ujar suara hati Evelyn.

Kedua matanya telah terpejam. Tinggal menunggu selama lima menit saja. Tak akan lama. Ia tersenyum dengan mata terpejam. Aroma khas yang memenuhi hidungnya begitu memabukan sekaligus menenangkan. Kehangatan asing yang membungkus tubuhnya sangat berbeda dengan selimut berbulu kesayangannya. Ia seolah berada di surga. Enggan membuka mata. Enggan untuk terbangun. Semua rasa nyaman yang menyenangkan itu akan berakhir begitu saja ketika ia memutuskan untuk membuka mata.

Bukankah itu tujuannya? Membuka mata setelah lima menit memejamkannya. Dengan begitu semua hal tak masuk akal yang terjadi padanya di dalam mimpi akan berakhir. Kehidupan normalnya akan kembali.

Mau tak mau Evelyn membuka matanya perlahan-lahan. Rasanya sangat berat seolah ada lem yang melekat kuat. Sebentar lagi ia akan terbangun dari mimpi tak masuk akal yang dialaminya. Melihat langit-langit kamar berwarna indigo yang setiap hari ditangkap oleh indera penglihatannya saat pertama kali membuka mata. Namun kini pemandangan yang ditangkap jauh berbeda dari yang biasanya. Bukan langit-langit kamar berwarna indigo yang ia lihat, melainkan sepasang manik oniks indah dan bersinar yang tengah menatapnya tanpa jemu. Hidungnya mancung. Bibir tipis berwarna peach yang begitu alami. Dagu lancip. Bulu mata lentik nan panjang menghiasi kelopak matanya. Menambah sempurna pahatan wajahnya yang mengagumkan bak dewa-dewa Yunani.

“Ini adalah nyata, bukan mimpi. Selama apapun kau menutup mata indahmu itu kemudian kembali membukanya, maka yang akan kau lihat hanyalah aku. Tak akan berubah.”

Suaranya yang menawan memenuhi indera pendengaran Evelyn bak nyanyian pengantar tidur. Terus terngiang. Menyadarkan ia secara sepenuhnya bahwa yang terjadi padanya bukanlah sebuah mimpi. Melainkan sebuah kenyataan yang tak mungkin bisa terelakan atau dihindari.

Ia—Evelyn—seorang gadis berusia 25 tahun, seorang dokter sekolah yang baru beberapa bulan bertitel jomblo akan dipaksa menikah oleh seorang vampire berwajah sangat tampan, berpenampilan serta memiliki suara yang menawan. Tanpa bisa bertindak atau berbuat apapun.

‘DEMI TUHAN…! INI SEMUA TAK MASUK AKAL. LEBIH TAK MASUK AKAN LAGI KARENA TERNYATA SEMUA INI BUKANLAH MIMPI MELAINKAN KENYATAAN.’ Teriak Evelyn dalam hati.

Haruskah ia berbahagia atau bersedih hati menghadapi semua kenyataan itu?

.

.

.

.

.

.

.

.

-FIN-

Tinggalkan Komentar