Alegoris Kehidupan

0
153

PROLOG

 

Aku berdiri dibalik jendela lagi hari ini. Entah sejak kapan aku lakukan ritual itu setiap hari. Dikala sedih dikala senang yang ku lakukan hanya berdiri dibalik jendela, hanya untuk mengucap “selamat pagi” dan “selamat malam” yang entah untuk apa dan  siapa. Selepas mengucap “selamat pagi”  yang aku lakukan tidak banyak hanya menatap segerombolan awan yang melintas di atap rumah, melihat kendaraan berlalu lalang dan mendengar kicauan burung pipit yang tengah bergosip, entahlah aku tidak terlalu mendengarkannya─ terlalu pagi untuk mengurusi kehidupan.

Dan sebelum mengucap “selamat malam” yang kulakukan adalah berbincang dengan senja. Berbincang dengannya selalu membuat ku bahagia walau yang sering kami lakukan hanya saling menatap tanpa mengatakan apa-apa. Pernah waktu itu aku mengutarakan perasaan ku, ku katakan padanya bahwa ia adalah yang terindah dengan berbagai warna orange, kemerah-merahan yang kadang juga berwarna merah muda membuat ku acapkali jatuh cinta. Dan ketika itu ia berterimakasih pada langit, katanya,’aku indah karena langit membuat ku indah.’ Aku tidak benar-benar mengerti maksud perkataannya, bagaimana mungkin senja dapat indah karena kehadiran langit? Bukankah ia indah karena dia adalah senja? Entahlah aku tidak mengerti.

Senja pergi dan meninggalkan aku bersama bola bulat yang menggantung di langit lepas menjelang malam. Hei rembulan itu seperti bola, bukan? Ah, aku juga senang bermanja dengannya. Menatapnya tiap malam, berbincang dengannya dan menitipkan sercarik pesan rindu untuk seseorang yang aku rindukkan. Menurutku, ketika kita merindukan seseorang dan kita tidak dapat bertemu dengannya lagi kita dapat menitipkan pesan pada rembulan, maka rindu pun akan tersampaikan. Aneh memang tetapi ketika aku titipkan pesan rindu padanya yang ku rasakan adalah ketenangan. Mungkin karena seolah seseorang yang aku rindukan itu mendengar dan tersenyum padaku dengan cara yang tidak dapat ku definisikan. Entahlah, sulit untuk ku jelaskan.

Aku berdiri dibalik jendela lagi hari ini. Masih memikirkan untuk apa aku di lahirkan, untuk apa Tuhan memberi ku hidup hingga malam ini. Katanya, hidup ini adalah perjalanan. Perjalanan bagi mereka yang di lahirkan dan diberikan berkat hidup oleh Tuhan.  Dan sebuah nama yang diberikan hanya menjadi jejak yang akan tertinggal di kehidupan. Jejak yang dapat dipilih oleh setiap nama untuk meninggalkan jejak baik atau pun jejak buruk bagi mereka di masa depan.

Seperti seorang guru yang bertanya pada murid-muridnya,

‘Jika besar nanti kau ingin jadi apa?’

Mungkin begitu pula dengan Tuhan yang bertanya pada kami,

‘Kau ingin meninggalkan jejak apa untuk hidup mu nanti?’

Aku berdiri dibalik jendela lagi hari ini. Masih memiliki sekarung penyesalan akan hidupku  yang telah lampau, masih memiliki segudang pertanyaan akan makna detik demi detik kehidupan dan aku masih memiliki secarcik harapan untuk hidup ku di masa depan. Aku menyesal tidak belajar dengan giat di kala usia ku masih belia, menyesal hanya menghabiskan hidup ku dulu dengan bersenang-senang saja, menyesal tidak memiliki mimpi hingga hari ini, menyesal hanya menghabiskan waktu dibalik jendela yang sama di sisa hidupku yang entah sampai kapan.

Aku berdiri dibalik jendela lagi hari ini. Gurat wajah ibu terpampang nyata di pelupuk mata membuat air mata ku mengalir tiada henti. Aku masih ingat, ibu berharap banyak pada ku dari segala aspek kehidupan. Ibu selalu berharap aku bisa menjadi gadis yang dapat ia banggakan, dapat menjadi barang untuk di pamerkan ke teman-teman. Aku tidak paham mengapa kesuksesan itu menjadi ajang untuk dipamerkan, entah siapa yang memulai ajang pamer itu lebih dulu tetapi yang ku tahu diatas langit masih ada langit, bukan? Jadi untuk apa memamerkan sesuatu yang tiada ujungnya?

Bahkan padi yang memiliki banyak manfaat untuk kita, menghasilkan nasi untuk kebutuhan kita saja semakin menundukkan kepalanya walau ia semakin menjulai tinggi membelah langit. Lalu mengapa kita yang mungkin hanya memiliki sedikit prestasi, sedikit harta, sedikit manfaat bagi sesama melempar kesombongan yang entah untuk apa dan siapa. Entahlah, aku tidak mengerti.

Hanya saja tangis ibu kala itu sering kali buat ku memikirkan banyak hal, memikirkan apakah aku telah membuatnya malu memiliki anak sepertiku? Apakah aku selalu menyusahkan hidupnya? Apakah aku masih belum bisa menjadi kebanggannya? Apakah ibu mencintai ku?

Gemuruh mengagetkan ku yang termangu didepan jendela. Petir menyambar di sela-sela kaca menghasilkan siluet indah nan menakutkan. Hujan datang malam ini membasahi balkon depan kamar yang jail menyentuh jendela kamar tidurku. Menemaniku yang seorang diri dengan sekarung penyesalan, segudang pertanyaan dan secarcik harapan. Harapan untuk menebus banyak penyesalan di masa lalu, harapan untuk mengubah hidupku di masa depan, harapan untuk menjadi kebanggaan tanpa memandingkan hidupku dengan hidup orang lain, harapan untuk memiliki harapan. Karena kini yang ku sadari bahwa hidup ku saat ini masih belum bisa menjadi kebanggannya. Menjadi pelita dihatinya, menjadi berlian untuk hidupnya, menjadi seseorang untuk dia yang terkasih, teruntuk dia seseorang yang aku cintai untuk dia, ibuku.

♥♥♥

Tinggalkan Komentar