Cinta itu Duka (bag 38)

0
176

Ibu kepala Sekolah melanjutkan ceritanya. Surya mencurahkan seluruh perhatian. Seolah dia kembali di bawa sang waktu ke masa 15 tahun lalu. Saat duduk di bale mendengar cerita Kakek. Sambil menikmati makanan kesukaannya, singkong rebus dicocol gula putih. Tembok ruang tamu ibu kepala sekolah tiba-tiba memudar. Berganti rumah panggung yang sepenuhnya dikelilingi kayu. Kursi dari busa yang sedang diduduki terdengar mengeluarkan suara, kret… gesekan dua bilah bambu menahan berat badan orang di atasnya. Semilir angin tersapu dari ayunan daun-daun hijau pohon mangga golek. Pohon yang ditanam Kakek sehari setelah pernikahannya dengan nenek. Di bawah pohon itu anaknya belajar berjalan dan di bawah pohon itu juga cucunya main gundu.

Surya mengenal jendral Soedirman dalam kisah agresi militer Belanda kedua. Belanda yang sudah mulai kuat setelah beberapa kali mengadakan perundingan dengan Indonesia, mengepung Jogja. Ibukota kedua tersebut berhasil diduduki. Semua pemimpin RI ditangkap. Pesawat pembom B-25 milik angkatan udara Belanda membawa mereka terbang. Presiden Soekarno, Sutan Syahril dan menteri luar negri Haji Agus Salim diasingkan ke Brastagi. Wakil presiden Moh Hatta, RS Soerjadarma Kepala Stap Angkatan Udara, MR. Assat dan AG. Pringgodigdo Sekretaris Negara diasingkan ke Pangkal Pinang.   Keadaan negara genting, bahkan berada di titik nadir. Indonesia yang baru saja merdeka bisa kembali menajdi daerah jajahan Belanda. Kakeknya menuturkan panglima besar yang sedang sakit masuk keluar hutan untuk melaksanakan taktik perang gerilya. Sebuah taktik cerdas bagi tentara Indonesai yang kalah kualitas senjata dari Belanda. Kata kakeknya, Jendral Soedirman mengajari generasi penerus bangsa. “Kalau kita kurang modal, harus tambah usaha.” Mengeluh akan kekurangan yang ada hanya menambah derita. “Gerilya itu usaha tambahan untuk menutupi kekurangan senjata”. Tutur mantan pejuang Siliwangi.

Dengan model perang hit and run, tentara Indonesia berhasil melemahkan pasukan musuh. Konvoi pasukan Belanda diserang mendadak, korban berjatuhan. Jaringan telpon diputus, komunikasi pun terhambat. Jalan kereta api disabotase, mobilitas pasukan belanda terbatas. Pasokan logistik dicuri, mereka kekurangan makan. Belanda menyadari serangan pasukan siluman harus dihentikan. Mereka pun membuat banyak posko di sepanjang area pendudukan. Sebuah strategi yang diinginkan tentara Republik Indonesia. Dengan pembentukan posko, pasukan Belanda tercecer di banyak daerah. Jogjakarta sebagai markas besarnya menjadi lemah. Sebuah serangan besar pun direncanakan. Jenderal Soedirman mengkoordinir semua pasukan yang berada di Jawa Tengah. Tepat pukul 06.00 tanggal 1 maret 1945, sebuah serangan besar dilakukan oleh pasukan Brigade X dengan bantuan satu batalion dari Brigade IX ke jantung kota Jogjakarta. Pasukan Belanda yang tidka menduga serangan tersebut dibuat kalang kabut. Kota Jogjakarta pun berhasil diduduki. Serangan umum satu maret telah membuka mata dunia. Indonesai masih ada. Tentara Republik Indonesai belum habis. Negara yang sudah diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 layak diakui kemerdekannya.

Ada satu rahasia yang Surya peroleh dari kisah Soedirman versi kakeknya. Panglima Besar TNI itu sempat meminta Alfiah istrinya menjual perhiasan yang dipakai. Hasil penjualan digunakan untuk membiayai perang gerilya. Suatu sikap yang patut ditiru oleh semua pemimpin. Berani berkorban, jiwa, raga dan harta demi bangsa. Juga bagi calon istri pemimpin, harus siap hidup susah. Menjadi istri pemimpin umat seperti Fatimah istri Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Setelah suaminya dilantik menjadi khalifah, Fatimah rela menyerahkan semua perhiasan berharganya ke baitul mal. Karena dia sepenuhnya mengerti, menjadi istri pejabat berarti menjadi abdi rakyat. Standar hidupnya harus sama dengan rakyat.

Tinggalkan Komentar