Dia adalah… Kamu (Bab 1 – 2)

0
225

 

______________

 

Ini hari ke lima kegiatan MOS berlangsung dan selama itu pula kelas sangat bebas jaya sentosa tanpa ada guru yang mengajar. Hanya hari pertama guru wali masuk ke kelas untuk perkenalan dan hari-hari berikutnya pun sama, ada beberapa guru yang masuk barang hanya sekitar 30 menit s/d 45 menit untuk perkenalan mata pelajaran. Dilihat banyaknya rombongan murid berseragam SMP dan dipandu oleh dua orang anak OSIS yang berlalu lalang di koridor sekolah, kegiatan MOS hari ini yaitu safari sekolah. Memperkenalkan sudut-sudut sekolah kepada murid baru. Mulai dari depan gerbang sampai kebun belakang yang ada di samping kelas Nindi, dari lantai bawah sampai lantai paling atas. Di sela-sela hiruk pikuknya kelas 12 IPA 5, Miska sang wakil ketua kelas terpilih─dan merupakan salah satu penghuni kelas 12 IPA 5 yang populer karena kecantikan dan sifat easy goingnya─memukul-mukul papan tulis putih dengan penghapus sambil berteriak, “woy minta perhatiannya dong!”. Semua yang sibuk dengan kegiatan masing-masing berhenti sejenak dan memperhatikan ke sumber suara.

“Tadi gue sama Shihab udah ke ruang guru buat konfirmasi kehadiran guru, terus kita sampe istirahat kedua gak akan ada guru soalnya bu Dian sama pak Heru lagi ada tugas mengawasi kegiatan MOS,” Mendengar berita itu, seluruh anak-anak di kelas 12 IPA 5 bersorak sorai secara serempak sehingga benar-benar gaduh. Miska kembali memukul-mukul papan tulis sambil kembali berteriak, “tenang dulu woy belum selesai!”. Keributan belum selesai tetapi sudah berkurang dan Miska pun kembali berbicara di depan kelas, “Berhubung jam kosong sampe istirahat kedua, gimana kalau kita nonton film aja? Soalnya kita gak boleh keluar-keluar kelas, lagi ada kegiatan safari sekolah.”

Banyak yang menyahutkan kata ‘setuju’ dan di sela-sela sahutan tersebut salah satu perempuan dari barisan tengah mengangkat tangan lalu bertanya, “Emang kita mau nonton apa? Emang ada flashdisknya?” Kini semua mata tertuju ke arah perempuan tersebut kecuali beberapa kelompok lelaki yang berada di pojokan da belakang kelas yang entah mungkin sedang bermain game online di handphonenya atau sedang melakukan hal lain yang sesekali mereka mengeluarkan sorakan dan umpatan.

Kemudian ada seorang lelaki yang berceletuk, “Eh gue ada nih flashdisk tapi adanya film ikeh-ikeh kimochi wkwkwk,” Lalu tawa para murid lelaki seketika pecah mendengar kata-kata tersebut. Lelaki tadi mendapat toyoran dari beberapa temannya yang sedang berkumpul. Sedangkan para murid perempuan terlihat bersungut-sungut dan mengatakan kalimat yang mengekpresikan kejengkelan seperti “Ih apaan sih!”, “Sumpah tuh orang gak guna banget!”, “Iyyuuuh sampah”.

Ketukan papan tulis kembali terdengar di depan kelas, kini giliran Shihab sang ketua kelas yang memukul papan tulis. Melihat situasi kelasnya, Nindi merogoh ke dalam tas dan mengambil sesuatu dari sana kemudian berdiri dan berjalan ke belakang kelas untuk mengambil flatshoesnya di loker sepatu dan kemudian berjalan ke arah meja guru dimana Shihab berada. Tak ada yang memperhatikan Nindi berjalan ke depan kelas, mungkin ada tapi hanya beberapa orang saja dan yang lain masih sibuk dengan obrolan kecil masing-masing kelompoknya. Shihab melihat Nindi dengan tanda tanya di wajahnya.

“Gue izin ke kantin bentar ya, Hab,” kata Nindi.

Shihab pun menjawab, “Yaudah iya.”

Ketika Shihab akan berjalan ke tengah-tengah papan tulis untuk menarik layar proyektor, Nindi mencegahnya dan berkata “Eh ini Hab di flashdisk gue banyak film nih, kalian pilih aja,” Sambil menyodorkan sebuah flashdisk berwarna putih abu ke Shihab. Shihab menerimanya dan membalas, “Oh oke, Thanks ya,” Dan Nindi hanya mengatakan “Oke,” Kemudian berjalan keluar kelas dan memakai flatshoesnya. Walau sudah berjalan beberapa langkah dari kelasnya, Nindi masih mendengar sayup-sayup suara Shihab di belakang yang berbicara dengan keras.

Nindi berjalan dengan gontai. Rambut panjangnya yang tergerai dibiarkan berantakan tertiup angin pagi itu. Memang tidak terlalu pagi, mungkin sekitar pukul 09.00. Nindi berjalan melewati masjid kemudian melewati lapangan volly dan kini berjalan diantara lapangan basket yang dipagari oleh jaring-jaring besi yang ada di sebelah kanan Nindi dan jajaran ruangan untuk kelas 11 IPA di sebelah kiri Nindi. Nindi berjalan sambil memperhatikan sekumpulan murid-murid SMP yang berada di lapangan basket hingga ia tidak memperhatikan ke depan. Ia terus melangkah hingga ketika Nindi kembali menatap ke depan, matanya terpaku pada objek yang berada sekitar 1 meter di hadapannya.

Dika.

Terlalu dekat. Mata mereka bertemu dan saling terpaku selama beberapa saat. Ketika kesadarannya kembali pulih, Nindi menundukkan pandangannya dan berinisiatif mengambil 1 langkah bergeser ke kiri untuk memberi jalan kepada Dika. Dan tak di sangka ternyata Dika pun bergeser ke arah yang sama! Refleks pandangan Nindi kembali ke wajah Dika dengan ekspresi kaget dan kemudian pipi Nindi bersemu merah karena salah tingkah. Dika pun terlihat salah tingkah saat itu. Risih dengan keadaan tersebut, Nindi kembali mengambil 1 langkah ke kanan. Dan lagi-lagi Dika mengambil langkah ke arah yang sama dengan Nindi. Saat itu jantung Nindi berdegup begitu kencang dan wajahnya memerah serta terasa panas sampai menjalar ke telinganya. Nindi menundukkan pandangannya agar Dika tidak melihat wajah Nindi yang memerah seperti tomat. Tak ingin kejadian itu berlangsung lama, Nindi hanya diam menunduk untuk membiarkan Dika mengambil langkah terlebih dahulu. Ketika Dika sudah 2 langkah di belakang Nindi, tanpa pikir panjang, Nindi berlari hingga parkiran motor yang berada di dekat kantin. Nindi memegang dadanya dengan kedua tangannya. Napasnya memburu, jantungnya berdetak sangat kencang, dan wajahnya terasa panas. Ia mencoba mengatur napasnya agar lebih tenang sambil mengipasi wajahnya dengan tangan kanannya agar rasa panasnya menghilang.

“Wah sumpah tadi bikin gue jantungan parah!” gumamnya pada diri sendiri. Setelah dirasa sedikit tenang, Nindi melanjutkan perjalanannya menuju ke kantin. Beruntungnya saat itu suasana tidak begitu ramai sehingga Nindi tidak begitu khawatir dengan pendapat orang tentang keadaan wajahnya yang bersemu merah itu.

***

Jika kau pernah merasakan masa-masa saat sekolah, kau pasti mengetahui salah satu dari sekian banyak kebahagiaan sederhana sebagai seorang siswa. Ya, saat bel pulang sekolah berdering. Aura kegembiraan seketika terpancar dari wajah-wajah yang semula terlihat suntuk dan mengantuk. Tapi sangat disayangkan, hujan dengan bangga menyinggahi Kota Bogor dan memeluknya dengan gumpalan kabut tipis pada sore itu. Semua teman sekelas Nindi dengan segera membereskan barang-barang yang berantakan di atas meja masing-masing. Walaupun di luar hujan sedang mengguyur, tetapi mereka sangat bersemangat untuk berkemas. Hanya Nindi yang masih menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan kedua tangannya sebagai penyangga. Sebagian murid telah keluar kelas, mungkin mereka pergi ke kelas teman mereka atau pergi ke kantin untuk menunggu hujan reda. Suasana kelas sudah sedikit tenang, kemudian terdengar alunan lagu Fall For You dari Secondhand Serenade mengalun dari speaker kelas yang berada di 2 sudut ruangan depan kelas. Nindi mengangkat kepalanya melihat ke depan kelas. Ternyata Miska yang memutar lagu tersebut. Adapula Tika, teman sebangku Nindi, sedang berbincang dengan Miska.

Gue kira Tika udah balik, batin Nindi. Rambut panjang Nindi sedikit berantakan. Nindi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menyisir rambutnya dengan jari-jari. Nindi menyapukan pandangannya ke setiap penjuru kelas. Semua temannya sudah bersiap untuk bergegas pulang tetapi hujan mencegahnya sedikit lebih lama. Ketika Nindi sedang asyik mengedarkan pandangannya, Miska datang menghampiri Nindi dan duduk di kursi depan Nindi seraya berkata, “Nindi, gue punya permintaan.”

“Kenapa?” jawab Nindi dengan sedikit penasaran.

“Boleh ya kita tuker posisi tempat duduk? Please…” Miska memohon dengan memasang wajah yang seperti anak kucing. Mata indahnya berbinar.

“Ya gue sih tergantung Tika,” jawab Nindi tak berani mengambil keputusan sepihak. Nindi melirik ke arah Tika yang juga sedang melihat Nindi dan Miska. Lalu Tika pun menghampiri mereka dan berhenti di tempat duduknya.

“Tadi gue udah bilang kok ke Tika,” Miska melirik ke arah Tika dan melanjutkan, “iya kan, Tik?”

Tika mengangguk membenarkan seraya berkata, “Iya, kalau gue sih tergantung sama temen sebangku gue. Nindi setuju, gue pun setuju. Gak mungkin, kan, kalau gue ambil keputusan sendiri.”

Lalu Miska berdiri secara tiba-tiba, menepukkan kedua tangannya dan mengucapkan sebuah kesimpulan dari percakapan ini. “Okay… kalau begitu artinya kalian berdua gak keberatan kita tuker posisi tempat duduk, kan?” Nindi dan Tika saling melirik satu sama lain, Tika mengangkat kedua alisnya untuk memastikan dan Nindi menjawabnya dengan anggukan pelan. Akhirnya mereka mencapai satu keputusan.

“Iya,” jawab Tika. Setelah mendengar jawaban dari Tika, Miska mengembangkan senyuman puas pada bibirnya kemudian berkata, “Thankyou…. Jadi mulai besok kita udah tukeran tempat duduk ya.”

Ketika Miska sudah bergegas pulang, Nindi memandangi tempat duduk yang ada di ujung barisan, tempat duduk Miska yang akan menjadi tempat duduknya mulai esok hari. Posisi tempat duduknya memang terlihat nyaman, berada di samping kaca, ya walaupun sebenarnya tempat duduknya yang sekarang pun berada tepat di samping jendela kaca hanya saja jendela yang sekarang permanen tidak bisa di buka. Di luar jendela, terdapat kebun tanaman obat-obatan yang di tanam oleh setiap kelas. Dari posisi tempat duduk itu kita dapat melihat langit luas secara langsung tanpa ada penghalang satu pun. Di saat sedang memperhatikan calon tempat duduknya, handphone Nindi tiba-tiba bergetar. Ada sebuah pesan masuk dari Fitri. Ia memberitahukan bahwa Fitri dan Tyas akan segera menuju kelas Nindi. Nindi kemudian menghela napas dan segera berkemas.

Hujan di luar sudah berhenti, teman sekelasnya pun sudah meninggalkan kelas. Kini hanya Nindi sendiri. Ia berdiri dan menyampirkan tasnya lalu berjalan menyebrangi ruangan menuju calon tempat duduknya besok. Nindi duduk tepat di samping jendela.

Nyaman, gumam Nindi dalam hati. Nindi bertopang dagu memandang Langit yang bersih melewati jendela kaca yang dihiasi oleh butiran-butiran air dari sisa hujan sore itu. Kaca jendela sedikit mengembun di bagian dalamnya. Ketika Nindi sedang menikmati suasana, seseorang memanggilnya dari arah pintu. Ternyata itu Fitri dan Tyas. Nindi langsung berdiri kemudian berjalan ke loker sepatu dan bergegas menghampiri teman-temannya.

“Sorry ya lama,” ujar Tyas seraya merangkul Nindi yang sudah memakai sepatunya. “tadi di kelas ada isu katanya besok cinta bakal bertebaran dimana-mana.” lanjut Tyas. Mereka berjalan beriringan dengan Tyas tetap merangkul Nindi dan Fitri berjalan di sisi lainnya.

“Hah? Bertebaran cinta? Maksudnya? Lo salah denger kali.” Nindi mengernyitkan kedua alisnya tanda ia tidak paham dengan topik pembicaraan saat ini.

“Nggak, Nin. Bener kok kata Tyas. Makanya di kelas tadi pada heboh,” Fitri membenarkan.

“Pokoknya lihat aja deh besok seperti apa.” Jeda sesaat, kemudian Nindi berkata, “Eh, besok yang tampil giliran ekskul basket sama volly, kan?” dengan wajah yang tiba-tiba cerah. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia. Tyas dan Fitri sudah bisa menebak apa maksudnya dari perkataan Nindi. Dika. Karena Dika sudah mengikuti ekskul basket dari kelas 10 dan saat ini kali terakhirnya ia ikut tampil dengan tim basket sebagai kapten mengingat ia sudah kelas 12, sudah waktunya pergantian tim. Nindi berjalan dengan ceria seraya berkata, “Kita ke lapangan basket dulu yuk!” dan menggamit tangan kedua sahabatnya. Fitri dan Tyas hanya mengikuti dengan pasrah. Ketika mereka akan melewati lapangan volly, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Fitri dan otomatis mereka bertiga mencari-cari sumber suara. Ketemu. Bu Erna─salah satu guru olahraga─ bersama 2 orang murid lainnya berkumpul di sudut lapangan volly dan kemudian Fitri pun menghampiri diikuti oleh Nindi dan Tyas.

“Fitri, ibu minta tolong bawain net ya ke lapangan basket,” pintanya, kemudian ia melanjutkan, “Nindi sama Tyas juga tolong bantuin Fitri ya.”

Mereka bertiga serentak mengiyakan permintaan Bu Erna. 2 orang murid tadi sudah lebih dulu ke lapangan basket sambil membawa membawa tiang net dan Bu Erna sedang memilah-milah bola yang ada di keranjang. Fitri mengambil net yang ada di sebelah keranjang di bantu oleh Nindi. Tyas yang bingung harus membantu apa hanya melihat saja karena dibawa oleh 2 orang pun sudah cukup. Besok demo ekskul volly di lakukan di lapangan basket karena lapangan tersebut lebih luas dan lebih leluasa untuk murid-murid baru yang akan menonton penampilan demo tersebut. Memang selama ini penampilan demo saat MOS selalu dilakukan di lapangan basket bukan di lapangan rumput atau volly. Lapangan rumput biasa dipakai untuk latihan atau persiapan sebelum tampil.

Benar saja, di lapangan basket ada tim basket yang sedang latihan dan Dika pun salah satu yang bergabung dalam tim. Kini di dadanya, Nindi merasa ada sesuatu yang menggelitik menyenangkan. Wajahnya tiba-tiba bersemu saat tim basket termasuk Dika melihat sesaat ke arah Nindi dan Fitri yang masuk membawa net. Dika sedang menggiring bola basket dan Nindi bersama kedua sahabatnya berjalan melalui belakang ring basket dan berbelok ke samping lapangan. Ketika Dika mengoper bola basket ke arah temannya yang berada di belakang Nindi, salah satu tim basket tersebut mundur untuk menangkap bola basket dan ia menabra Nindi yang sedang menyimpan net. Karena kaget, Nindi menengok ke belakang dan bug… bola mendarat tepat di wajah Nindi.

“Nindi!” Kejadian itu berlangsung secara cepat sehingga kedua sahabatnya hanya bisa meneriakkan namanya. Pandangan Nindi perlahan menggelap. Adegan yang terakhir ia lihat, kedua sahabatnya menopang tubuh Nindi, Dika menepuk pelan pipi Nindi, dan seseorang berlari dengan panik ke arahnya. Siapa? Kemudian setelah itu, semua menjadi menghitam.

***

Mata Nindi perlahan membuka. Pandangannya masih sedikit berkunang. Ia menatap langit-langit yang berwarna putih lalu menyentuh hidungnya yang terasa senut-senut. Fitri yang melihat Nindi sudah sadar langsung berdiri dari tempat duduk yang ada di samping tempat tidur dan memegang tangan Nindi seraya berkata, “Nin, masih pusing?” dan Nindi hanya mengangguk sambil mengernyit. Nindi melihat sekeliling, hanya ada Fitri dan petugas UKS yang sedang merapikan laci obat-obatan. Di luar ruangan UKS terlihat bayangan beberapa orang sedang berdiri. Petugas UKS menghampiri Nindi dan memeriksa denyut nadi Nindi yang ada di pergelangan tangannya sambil memperhatikan detikkan jarum jam tangan. “Sudah stabil,” ucapnya. “saya tinggal keluar dulu ya.” lanjut petugas UKS tersebut dan Fitri mengucapkan terima kasih. Kemudian petugas itu keluar.

“Tyas kemana?” tanya Nindi yang sedari tadi tak melihat Tyas.

“Dia lagi bikin teh manis anget di pantry,” jawab Fitri. Tak lama kemudian Tyas masuk bersama seorang lelaki sambil membawa segelas teh. Saat melihat orang yang bersama Tyas, seketika jantung Nindi mempercepat detakkannya. Wajahnya terasa panas hingga sampai ke telinga. Pipinya bersemu merah. Nindi menjadi salah tingkah tak tahu harus bagaimana. Tyas menyimpan segelas teh di atas meja yang ada di samping tempat tidur sedangkan Fitri membantu Nindi untuk duduk.

“Ya ampun, Nin, lagi sakit juga masih aja sempet grogi ke Dika,” bisik Fitri saat membantunya. Nindi hanya menimpali dengan berkata, “Ih apaan sih.” lalu Fitri tertawa kecil. Dika masih berdiri di belakang Tyas memperhatikan Nindi dengan sangsi dan Tyas memberi gelas teh manis hangat kepada Nindi. Ketika sedang minum teh hangat, Bu Erna masuk ke dalam UKS dan menghampiri Nindi seraya berkata, “Kamu sudah baikkan?” dan Nindi menjawabnya dengan berkata, “Alhamdulillah, bu.” dan melanjutkan meminum teh hangatnya. Bu Erna menengok ke arah belakang dan berkata, “Dika, kamu antar Nindi pulang ya,” dan dengan mantap Dika menjawab, “Iya, bu.”

Ketika mendengar perkataan Bu Erna, Nindi langsung tersedak teh hangat. Tyas dan Fitri langsung menepuk-nepuk punggung Nindi sambil tersenyum geli. Mendengar Nindi yang tersedak, Bu Erna bertanya khawatir, “Kamu gak apa-apa?” dan Nindi hanya mengangguk. Kemudian Bu Erna melanjutkan, “makanya pelan-pelan saja minumnya, ya. Ibu pamit mau ke lapangan lagi.” dan semua mengiyakan kemudian Bu Erna berlalu. Selepas kepergian Bu Erna, Dika menghampiri Nindi.

“Gimana, udah baikkan?” tanya Dika dan Nindi hanya mengangguk. Fitri dan Tyas sengaja menghindar untuk memberi ruang pada Dika. Nindi hanya mengangguk dan Dika kembali bertanya, “mau pulang sekarang?” kemudian Nindi menatap kedua Fitri dan Tyas, dan mereka hanya menyunggingkan senyum aneh. Dika masih menunggu jawaban Nindi. Nindi menghela napas kemudian berkata, “Iya,” sambil mengangguk. Puas dengan jawabannya, Dika kemudian berjalan keluar seraya berkata, “Gue ambil tas dulu.” kemudian sudah hilang dari pandangan.

“Iiih kalian tuh kenapa sih?” tanya Nindi gemas pada kedua sahabatnya, kemudian melanjutkan, “kadang gak ngedukung gue terus tiba-tiba sekan-akan kalian ngedukung gue sama Dika.”

“Kalau kita sih ya… mengikuti suasana aja,” jawab Tyas dengan santai sambil merangkul Fitri dan melanjutkan, “iya gak, Fit?” Fitri pun mengiyakan sambil cengengesan.

“Yaudah, pake sepatu dulu, Nin. Nanti keburu Dika datang.” sambung Fitri.

Nindi bangun dan memakai kedua sepatunya. Tyas melerai rangkulananya kemudian menyodorkan tas Nindi yang ia ambil dari kursi dan membantu Nindi untuk berdiri. “Masih pusing?” tanya Tyas berubah lembut. Nindi memegang kepalanya dan menjawab, “Iya lumayan masih sedikit berkunang-kunang.” Fitri pun membantunya.

Tak lama kemudian Dika datang dengan tas gendong di sampirkan di bahu kirinya. Nindi sudah siap untuk pulang. Ketika ia membayangkan semotor dengan Dika, dadanya bergelenyar. ada perasaan menyenangkan yang menggelitiki dada dan perutnya. Lagi-lagi wajahnya terasa panas kemudian merambat ke telinganya. Pipinya bersemu merah. Ini kali pertamanya ia berinteraksi langsung dengan Dika, sesosok lelaki yang ia sukai dari kelas 10 hingga saat ini kelas 12. Nindi yang selama ini menjadi seorang secret admirer tiba-tiba mendapat keajaiban bisa pulang bersama seorang kapten basket. Ketika pikirannya sedang dipenuhi oleh Dika, Nindi baru sadar kini Dika sudah berganti menjadi pakaian seragam SMA dengan 2 kancing teratas dibiarkan terbuka sehingga dapat melihat baju basket melapisi tubuhnya di balik seragam. Dika menghampiri Nindi yang dipapah oleh Fitri dan Tyas. Melihat wajah Nindi yang memerah, Dika pun bertanya, “Lo demam?” sambil menyentuh kening Nindi. Nindi dan kedua sahabatnya menahan napas dengan wajah tegang ketika Dika menyentuh kening Nindi. Nindi hanya menggeleng. Kemudian tangan Dika beralih ke pipi Nindi dan menyentuhnya kembali untuk mengecek suhu tubuh Nindi.

“Lumayan panas lho, yuk pulang supaya lo cepet istirahat.” Dika menarik tangannya kembali dan Nindi hanya mengangguk.

***

Bagi Nindi, selama ia melewati masa SMAnya, tak ada yang lebih membahagiakan lagi selain hari ini. Kini ia duduk di belakang Dika, orang yang sangat ia sukai dari awal masa SMAnya. Motor yang membawanya melewati senja yang sedikit basah dari sisa-sisa hujan dengan jaket yang dikenakannya menyeruakkan aroma tubuh Dika membuat dada dan perutnya tergelitik seperti ada kupu-kupu yang beterbangan. Senja saat itu terasa menyenangkan bagi Nindi. Nindi terus memutarkan memori ketika Dika memberikan jaketnya dan memakaikan helm ke kepalanya. Dika yang terus bertanya apa Nindi baik-baik saja. Punggung Dika yang terlihat begitu kokoh melindungi Nindi dari terpaan angin sore itu. Bibir Nindi tak henti-hentinya menyunggingkan senyum malu yang menghiasi wajah manisnya dengan binar dimatanya.

Tuan hati, hari ini aku duduk di belakangmu, memandangi wajah seriusmu melalui kaca spion motor ini. Terima kasih, aku benar-benar bahagia…

***

“Kamu udah baikkan?”

Papa Nindi berjalan menghampiri Nindi yang sedang menghabiskan sarapan paginya di ruang keluarga. Beliau duduk di salah satu tempat duduk dan kemudian mencari-cari sesuatu di tumpukan koran yang ada di bawah meja. Mendengar pertanyaan tersebut, Nindi menengok sebentar seraya menjawab, “Alhamdulillah, Pa, kemarin cuma pusing sedikit jadi sekarang udah sembuh.” kemudian melanjutkan sarapannya.

“Oh iya. Kamu, kan, sekarang udah kelas 3 SMA, gimana sama rencana kamu nanti? Kamu jadi coba ngelamar beasiswa kuliah ke luar negeri?” tanya Papa Nindi. Wajahnya tertutup koran yang sedang beliau baca.

Hening. Nindi hanya terdiam menatap piring yang ada di tangannya. Karena tak kunjung terdengar suara Nindi, Papa Nindi mengintip dari balik koran lalu menghela napas sambil menutup koran lalu menyimpannya di atas meja. Kini posisi duduknya sedikit di condongkan ke depan. Kedua sikutnya menempel di atas kedua pahanya dan kedua tangannya mengenggem satu sama lain. Papa Nindi memperhatikan wajah putri bungsunya yang menggelap.

“Bukannya Papa mau nuntut kamu harus kuliah di luar negeri, Dek, Papa cuma mau kamu teguh sama keputusan kamu di awal. Dari kelas 1 SMA kamu udah ambil kursus ini itu buat persiapan beasiswa ke luar negeri, kamu juga bilang sendiri mau kuliah di luar negeri dengan usaha kamu sendiri. Dan sekarang kamu udah kelas 3, udah waktunya fokus sama universitas yang mau kamu tuju, jurusan apa yang mau kamu ambil. 1 tahun itu sebentar lho dan proses pengajuan beasiswa itu butuh waktu yang panjang. Papa cuma mau mengingatkan kamu aja, jangan sampai kamu pada akhirnya menyesal. Tapi semua tergantung sama diri kamu sendiri, Papa gak akan maksa.”

Kini Nindi menatap Papanya yang juga menatapnya. Wajahnya tampak lelah. Kerutan penuaan sudah menghiasi setiap sudut wajah beliau. Kulit yang tak lagi kencang. Tubuh yang tak lagi tegap. Rambut yang tak lagi hitam legam. Semuanya sudah berubah. Kecuali satu, sinar matanya masih tetap sama. Kehangatan terpancar dari mata beliau. Kehangatan yang sama yang dulu menatapnya saat Nindi masih kecil. Nindi tak tahu harus memilih keinginannya atau harapan orang tuanya. Tapi Nindi sadar, kedua orang tuanya kini sudah tak lagi muda. Apa yang udah aku kasih buat Papa sama Mama? ucap Nindi dalam hati.

“Nindi udah nentuin universitas sama jurusannya, Pa, tapi Nindi ragu. Ini keputusan yang berat buat Nindi,” ujar Nindi lirih.

Papa Nindi menyentuh bahu kanan Nindi dan tersenyum lembut. “Perbanyak berdoa. Kalau ragu berarti masih 50:50, jadikan 50% itu menjadi 100% dengan usaha kamu. Tenang aja, sebuah usaha gak akan mengkhianati kita asalkan kita imbangi dengan berdoa. Sebagai manusia yang beragama, kita harus selalu libatkan Tuhan kita dalam setiap aspek kehidupan kita.”

Nindi mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Pa. Makasih ya, Pa.”

Papa Nindi pun tersenyum dan kembali melanjutkan membuka koran dan Nindi melanjutkan menghabiskan sarapannya. Setelah itu Nindi bergegas pergi ke sekolah.

***

“Baiklah, untuk hari ini saya cukupkan. Pada pertemuan selanjutnya, bagi kalian yang belum memiliki modul jangan lupa untuk meminjam modul di perpustakaan.”

“Oui, madame!” Semua murid menjawab secara serempak kemudian ruang kelas menjadi sedikit gaduh karena pelajaran sudah selesai. Setelah Bu Lia selesai berkemas, beliau berjalan meuju pintu seraya berkata, “Au revoir!”

Para murid pun menjawab, “Au revoir!”

Dari sepekan ini akhirnya ada satu mata pelajaran yang sudah dimulai, yaitu pelajaran bahasa Perancis. Setidaknya mereka mendapat ilmu dalam sepekan yang kurang efektif ini. Ah…ya, ini hari terakhir MOS! Menurut isu yang kemarin beredar, pada hari terakhir MOS akan ada ‘cinta yag bertebaran’ di sekitar sekolah dan itu mungkin memang benar karena pada saat Nindi memasuki wilayah sekitar sekolah, ia melihat para murid baru membawa sebuket atau sebatang bunga baik itu bunga mawar atau jenis bunga lainnya. Tapi itu tak begitu penting untuk Nindi. Yang Nindi tunggu yaitu penampilan demo ekskul basket. Semua sudah pasti tahu apa alasannya. Yup! Dika. Seorang kapten tim basket yang selalu diagung-agungkan oleh Nindi. Kejadian manis kemarin sore masih terlukis jelas di pelupuk matanya. Setiap mengingat kejadian itu, pipi Nindi selalu bersemu merah. Hatinya bergelenyar menyenangkan.

Pada pelajaran bahasa Perancis sebelumnya, mata Nindi sempat terasa begitu berat hingga ia beberapa kali terpaksa mendengarkan lagu beat untuk menghilangkan kantuknya. Tapi setelah pelajaran berakhir, anehnya semua kantuk yang ia rasakan tiba-tiba menguap entah kemana. Otaknya otomatis tergerak memikirkan demo ekskul basket dan Dika. Ia segera membereskan buku-bukunya, menaruhnya di laci meja, mengirim sebuah pesan grup dan kemudian pergi ke lapangan basket.

Suasana saat itu cukup ramai. Nindi mencari tempat yang nyaman untuk melihat permainan tim basket dan sayangnya semua tempat strategis sudah di tempati oleh murid lain. Tak patah semangat, Nindi menerobos sekumpulan murid murid baru yang sudah berdiri terlebih dahulu sehingga dengusan sebal sesekali terdengar oleh Nindi ketika ia berusaha untuk maju. Tapi Nindi tak ambil pusing, toh hanya untuk kali ini ia sengaja membuat orang merasa sebal ya walaupun secara teknis ini tidak di sengaja. Ketika sudah berada di barisan paling depan, tak sengaja orang yang ada di samping kiri Nindi mendorong tubuh Nindi hingga ia kehilangan keseimbangan. Bukannya terjatuh, tetapi ia malah tertahan oleh tubuh seseorang. Kedua bahunya di cengkram kuat oleh orang tersebut dan punggung Nindi bersandar pada orang itu. Nindi mendongak ke belakang untuk melihat wajahnya. Seorang lelaki. Untuk beberapa detik mereka saling tatap. Aroma parfum menyeruak dari tubuh lelaki itu. Dada Nindi mulai berdebar, terlalu dekat. Nindi langsung melepaskan diri dengan salah tingkah dan lelaki itu pun melepaskan cengkramannya.

“Ah, s-sorry,” ucap Nindi dengan kikuk sambil merapikan bajunya yang tidak berantakan sama sekali.

“It’s okay,” jawab lelaki itu. Kemudian ia berdeham.

Nindi kembali menatap wajah lelaki itu sekilas sambil tersenyum kecil dan kemudian ia memfokuskan diri ke lapangan yang ada di depannya. Tanpa Nindi sadari, ternyata permainan dari ekskul basket telah dimulai. Nindi mencari Dika dan disana. Dika sedang mendribel bola basket, melewati lawannya dengan mulus dan mengoperkan bola tersebut pada temannya. Hup! Tertangkap. Bisikan-bisikan yang tertuju pada Dika mulai terdengar dari murid-murid baru yang berdiri di sekitar Nindi. Di seberang lapangan, perempuan itu berdiri bersama ketiga temannya. Perempuan yang di hampiri oleh Dika beberapa hari yang lalu. Ia meneriakan kata-kata penyemangat untuk Dika. Ada sedikit rasa sesak di dada Nindi tapi ia acuhkan rasa itu dan kembali memfokuskan diri pada permainan ekskul basket yang ada di depannya.

Demo ekskul basket saat itu berjalan dengan seru tapi Nindi tidak bisa benar-benar memfokuskan dirinya pada permainan Dika. Pikirannya dikacaukan oleh orang yang ada di sebelahnya. Nindi merasa tidak nyaman berada di sebelah lelaki itu. Saat permainan ekskul basket sedang berlangsung, karena rasa penasarannya, sesekali Nindi melirik ke arah lelaki itu. Mencoba melihat wajahnya karena tadi ia tidak sempat untuk sekedar menilik wajah orang yang sudah menolongnya. Bahkan saat mereka saling bertatapan pun pikiran Nindi kosong dan ditambah lagi cahaya matahari mengganggu pandangannya jadi ia benar-benar tak sempat memperhatikan wajah lelaki itu. Ia hanya mengetahui orang yang menolongnya itu seorang lelaki.

Argh!!! Ada apa sih sama gue?!, gerutu Nindi dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya berusaha untuk mengenyahkan semua rasa penasarannya.

***

Nindi membaringkan kepalanya di atas meja. Tangannya tersimpan dengan lemas di atas pangkuannya. Otaknya terus perputar-putar tanpa henti karena ia teringat percakapan dengan Papanya tadi pagi. Kini ia sedang berada di sebuah persimpangan dimana jalan yang nantinya akan ia ambil merupakan sebuah penentu untuk masa depannya. Hati dan pikirannya berbeda tapi ia harus membuat keputusan yang tepat agar tak ada penyesalan di ujung perjalanannya kelak. Dalam kepalanya, Nindi kembali memutarkan perkataan Papanya.

“Jadikan 50% menjadi 100%, ya?” gumamnya pelan.

Untuk mengalihkan pikirannya, Nindi memperhatikan teman-teman kelasnya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa kelompok sedang berkumpul entah sedang membicarakan apa, sekelompok lelaki sedang bermain kartu UNO di belakang kelas dekat lemari buku, adapula yang sedang mendengarkan musik. Ada beberapa orang─jelas anak-anak populer nan cantik dan tampan di kelas pasti mendapatkannya saat di kantin ataupun saat berjalan di koridor─ yang membawa setangkai bunga adapula yang membawa sebuket bunga. Mereka yang mendapat bunga seketika di berondong pertanyaan oleh teman-teman yang lain.

“Wahhh, dapet bunga dari anak baru ya?”

“Iya, gue dapet pas lagi jalan samping lapangan.”

“Gimana ngasihnya? So sweet gak?”

“Biasa aja, cuma ngasih terus pergi deh tuh anak.”

Kira-kira seperti itulah percakapan mereka. Oh mungkin ini yang dimaksud ‘bertebaran cinta’, pikir Nindi. Mungkin itu merupakan salah satu agenda yang diadakan oleh OSIS pada hari terakhir MOS. Membawa bunga lalu diberikan pada orang-orang yang ada di sekitar sekolah, mungkin. Jika agenda seperti ini, tak ada pengaruhnya bagi Nindi. Toh ia hanya murid minoritas yang tak terlihat jadi tak mungkin ada murid baru yang dengan senang hati memberikan bunga kepadanya.

Nindi mengangkat kepalanya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Jenuh. Bel pulang sekolah mungkin sekitar satu jam lagi. Ia ingin segera pulang. Ia ingin segera berkumpul dengan Fitri dan Tyas. Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, Nindi mengambil handphone, earphone, dan novel dari dalam tasnya kemudian memasangkan earphone ke telinganya dan memutarkan sebuah lagu yang ada di handphonenya. Tangannya membuka buku novel yang sudah ditandai pada sebuah halaman dan mulailah Nindi berkutat dengan novelnya. Jika sudah seperti itu, Nindi sudah tidak peduli dengan sekitarnya. Ini posisi ternyaman Nindi.

***

Ia terus menyusuri koridor sambil memperhatikan setiap papan kelas yang tergantung di atas pintu, berbelok diujung koridor dan memasuki koridor lain. Kini akhirnya ia berada di koridor kelas 12 IPA dan terus menyusuri tiap-tiap kelas hingga akhirnya ia menemukan kelas yang ia cari. Setelah sampai di pintu, ia pun menengok ke dalam kelas untuk mencari seseorang dan kemudian salah satu murid kelas tersebut menghampirinya dan bertanya, “Lagi cari siapa?”

“Oh ini, gue nyari Nindi Anindita, ada?” jawabnya.

“Oh Nindi, sebentar ya,” murid tersebut sesaat memperhatikan seisi kelas untuk mencari Nindi dan kemudian kembali menghadap orang tersebut dan melanjutka, “dia ada kok, mau gue panggilin?” tawarnya.

“Eh gak usah, biar gue aja yang nyamperin dia.” Ia menolak tawaran murid tersebut sambil menggelengkan kepalanya.

“O-oh, yaudah,” ucap murid tersebut bingung ketika ia sadar orang yang menyadari Nindi itu seorang murid baru. “Tuh dia duduk di barisan paling pojok bangku ke 4 deket jendela. Itu orangnya lagi baca, masuk aja.” lanjutnya sambil menunjuk seorang perempuan yang sedang asik berkutat dengan bukunya.

“Oh iya, Thanks ya.”

“Iya.”

Kemudian orang tersebut melepas sepatunya dan berjalan masuk melintasi kelas menuju meja yang tadi ditunjuk. Murid yang memberitahu posisi meja Nindi kini sudah berkumpul dengan teman-temannya dan berbisik-bisik. Tak hanya kelompok itu, murid-murid lain yang ada di kelas tersebut pun mulai berbisik-bisik ketika sadar ada seorang murid baru di dalam kelas sambil membawa sebuket bunga. Kini ia sudah berada tepat di samping meja Nindi tetapi Nindi tetap tidak menyadari kehadirannya. Kemudian ia membuka percakapan.

“Ehm… Kak?” ia berdeham. Tetapi tetap tidak ada tanggapan dari Nindi yang masih belum menyadari kehadirannya. Tika yang sedari tadi sedang duduk di belakang Nindi, beberapa kali mencolek temen sebangkunya itu. Nindi yang mulai merasa risih baru menyadari ada seseorang yang sedang berdiri memperhatikan di samping mejanya. Nindi langsung melepas earphone dari telinganya dan mendongak kepada orang tersebut.

“Hai…” sapa orang itu sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

“H-hai…, siapa ya?” tanya Nindi bingung.

“Gue yang waktu itu minta tanda tangan yang di samping perpus,” orang itu menjelaskan pertemuannya dengan Nindi saat beberapa hari yang lalu.

Nindi mengerutkan keningnya mencoba untuk mengingat dan akhirnya ia pun teringat lelaki itu, “Oh elo. Ada apa ya?” tanya Nindi. Ia heran mengapa lelaki ini hingga ia rela menghapirinya ke kelas. Nindi kemudian melirik ke tangan kiri lelaki tersebut. Ia menggenggam sebuket bunga mawar merah yang dihias dengan bunga baby breath putih. Lelaki itu tersenyum saat Nindi kembali mendongak kepadanya kemudian berkata, “Ini ada tugas lagi dari OSIS.” dan kepala Nindi refleks memikirkan sesuatu, hari bertebar cinta.

“Oh iya, memang kenapa?” Nindi kembali bertanya tapi pikirannya sudah teralih dengan buket bunga yang ada di tangan kiri lelaki itu sehingga Nindi sekali lagi melirik ke arah buket bunga dan mengalihkannya kembali dengan menatap wajah lelaki itu. Tiba-tiba lelaki itu mengulurkan tangan kanannya seraya berkata, “Gue Irgi.” ucapnya memperkenalkan diri. Nindi pun membalas dengan mengulurkan tangannya dengan ragu dan bingung.

“Nindi…” ucapnya. Nindi menjabat tangan Irgi dengan kaku. Tangan Irgi terasa begitu dingin. Irgi yang tak ingin rasa nervousnya diketahui oleh Nindi, ia langsung menarik tangannya kembali seraya berkata, “Iya gue udah tau kok.” sambil tersenyum. Kemudian ia melanjutkan, “Ada tugas dari OSIS, hari ini harus bawa bunga mawar untuk diberikan ke orang yang ada di lingkungan sekolah.” Terang Irgi lugas dan tenang berbanding terbalik dengan tangannya yang terasa dingin.

“Iya. Terus?” tanya Nindi, sebenarnya ia sudah menangkap maksud dari Irgi yang datang ke kelasnya saat itu tapi ia tetap bertanya untuk memastikan agar dia tidak terlalu percaya diri terlebih dahulu. Dugaan Nindi benar. Irgi memberikan bunga yang ia bawa kepada Nindi tapi apa yang dikatakan Irgi berikutnya merupakan kejutan untuk Nindi.

“Gue suka sama lo.”

Mendengarnya, berhasil membuat buku novel yang ada di tangan kiri Nindi jatuh ke meja. Melihat Nindi yang hanya melongo membuat Irgi meraih tangan kanan Nindi dan diletakkannya sebuket bunga tersebut di telapak tangan Nindi. Setelah sadar, Nindi tak tahu harus berkata apa.

“Eh, i-ini maksudnya apa?” tanya Nindi masih terkejut. Irgi hanya tersenyum kepada Nindi lalu pergi dengan santainya. Orang-orang yang sedari tadi melongo melihat drama di kelas tersebut sontak langsung berisik. Memang tak hanya Nindi yang mendapat bunga mawar dari murid baru, akan tetapi cara untuk memberikan bunga yang dilakukan Irgi bisa di bilang ‘gila ya tuh cowok, so sweet bin nekat!’

***

Bersambung…

 

Bab 1 selesai. selanjutnya masuk ke bab 2 🙂

 

Tinggalkan Komentar