Takdir Cinta

0
326

Pertemuan

Hari ini cuaca sangat terik, bahkan angin yang berhembus pun tidak terasa bahwa ia hadir menyapa kulit yang berkeringat ini. Terlihat orang-orang di sekeliling lapangan menutupi kepala dengan topi dan wajah mereka dengan tissu, ada yang sambil meminum es untuk menghilangkan dahaga yang hadir saat acara lomba berlangsung. Prak Prok Prak Prok belok kiriiii jalannnn ! derap langkah kaki dan suara lantang itu terdengar jelas bahwa sang komandan sedang memberi instruksi kepada pasukannya. Aku yang berdiri di pojok lapangan melihat pasukan yang sedang berlomba tampil pun merasa takjub karena bagusnya penampilan mereka. “Tepuk tangan yang meriah untuk pasukan dari SMA Bangsa, luar biasa sekali penampilannya, mengalahkan teriknya matahari yang saat ini begitu membara” begitu ucapan sang host saat penampilan dari SMA Bangsa berakhir. Derap langkah kaki pasukannya, ketegasan formasi yang dibentuk, dan suara MC yang memandu pasukan sangat keren dan membuat merinding setiap orang yang melihat. Ini bukan kali pertama aku merasa takjub, karena ajang perlombaan baris berbaris ini sudah biasa diadakan setiap tahunnya di SMA ku dan selalu memberikan warna hebat didalamnya.

Saat aku melamun membayangkan perolehan angka yang mungkin di dapat dari SMA Bangsa, Tiba-tiba ada yang berteriak memanggilku “Raaannn….Raniaaaaa” dan kepalaku menoleh kesana kemari mencari sumber suara. Seketika aku berteriak “siscaaaa” saat tahu sumber suara itu dari sahabatku. Sisca pun melambaikan tangannya padaku memberi kode untuk segera menghampirinya. Ia adalah sahabat ku sejak kami duduk di bangku SMP. Orang pertama yang menghiburku saat aku mendapat nilai C di mata pelajaran matematika. Iyaaa, kami menjadi dekat karena sifat polos kami yang saling mendukung satu sama lain. Sayangnya kami tidak di satukan di SMA yang sama.

Tanpa berpikir lama aku berbalik arah, berjalan keluar lapangan sambil kututupi wajahku dengan jilbab yang ku pakai….

“Siscaaa…….apa kabar?” teriakku sambil memeluk sahabat karib yang terakhir kali bertemu kira-kira 5 bulan lalu.

“Kabar baik Rann….kamu gimana kabarnya? Kangen bangett iiii” jawab siscaa sambil memelukku dan menggoyangkannya ke kanan dan kiri.

“Aku baik-baik sayanggg, sama kangen juga. Aku pikir kamu gabisa kesini karena sms ku tadi malam ga kamu bales sisss” sahutku menjawab rasa kangen sahabatku.

“Maaf Rann, pulsaku habis jadi sms nya ga sampe deh. Oiyaaa aku datang kesini ga sendiri Rann, ada temanku yang katanya pengen liat perlombaan baris berbaris”

“Oyaa?? Mana teman mu??” tanya sisca penasaran.

“Sebentar Rann, tadi perasaan dia berdiri di belakang aku deh, sekarang ko ngilang yaaa” sahut sisca sambil melihat ke sekeliling.

“ Ehh itu dia…” ujar sisca sambil menunjuk ke arah tukang es.

“Datang datang langsung jajan aja. Hahaa dasar Reii” sisca bicara sambil bercanda.

“Mungkin dia haus sis…cuaca kan lagi panas banget sekarang. By the way siapa tadi namanya? Reii?” jawabku sambil tertawa kecil dan penasaran mendengar sisca memanggil nama temannya. Tatapan mataku masih tertuju ke arah yang ditunjukkan sisca.

“Namanya Reinaldi Pratama Rann….dari gosip yang aku dengar Reii punya pacar disini. Tapi aku gatau juga soalnya dia jarang cerita kalau masalah pribadi” jawab sisca berbisik di telingaku.

“Oo gitu….lihat dia berjalan kemari” jawab ku pelan seraya memberi kode pada sisca untuk berhenti membicarakan temannya. Dia berjalan dengan tiga minuman di tangannya, Satu dia pegang dan dua lagi dia bawa menggunakan kantong plastik, semakin mendekat semakin jelas postur tubuhnya yang tinggi dan senyum ramahnya yang menyapa kami. Hati kecilku sedikit kecewa kalau ternyata temannya temanku ini sudah punya pacar karena menurutku dia ganteng. hehe

“Hai, maaf membuat kalian menunggu lama. ini buat kamu dan temanmu sis” Reii memberikan kantong plastik berisi minuman kepada sisca.

“Wahh Reii…aku kan ga pesan apa-apa. Jadi enak di traktir gini. Hehe makasih banyak yaa” jawab sisca sumringah, sambil memberikan minuman yang satunya untuk Rania.

“Oiyaa Raniaa kenalkan ini temanku namanya Reinaldi Pratama, dan Reii ini sahabatku Rania Putri. Kita satu sekolah, bedanya dia jurusan IPA dan aku IPS” semangat Sisca mengenalkan temannya padaku sambil tersenyum sumringah. Aku dan Reii pun berjabatan tangan seraya menyebutkan nama masing-masing.

“Terimakasih minumannya Reii…disaat cuaca panas seperti ini sangat pas” jawabku sambil bersyukur.

“Samasama Rann” jawab Reii sambil tersenyum.

Kami pun berjalan perlahan menyusuri kerumunan orang-orang yang hadir menonton perlombaan. Berharap mendapatkan bangku kosong untuk duduk tapi ternyata tidak sesuai harapan. Semua bangku terisi oleh banyaknya penonton hari ini. Reii mengingatkan kami untuk solat zuhur karena waktu sudah menunjukkan jam dua belas tepat. Kami pun berjalan menuju masjid sekolah. Dan pas lantunan adzan zuhur berkumandang.

Reii dengan sigapnya masuk ke dalam masjid dan membuang tempat minum plastik es nya di tong sampah. Aku duduk di samping masjid sambil memijat-mijat betis yang terasa pegal. Sisca melepas tali sepatunya sambil berdiri dan membantuku untuk bangkit dengan penuh semangat. Kami pun mengambil wudhu dan solat.

Setelah selesai solat kami kembali mencari tempat strategis untuk menonton perlombaan. Host acara mulai membuka acaranya kembali dan riuh gemuruh penonton mulai terdengar. Aku, Sisca dan Reii pun menyimak penampilan salah satu sekolah ternama di kota ini. Dan tiba-tiba ponsel Sisca berdering dengan nyaring. Membangunkan keseriusanku dan Reii. “iyaaa tunggu sebentar, aku ke depan sekarang” sahut sisca menjawab telponnya. Penasaran aku pun bertanya “siapa yang telpon sis?”

“Pacarku Rann…Maaf ya Rann Reii aku pamit duluan. Dia udah nunggu di depan” ujar sisca terburu-buru sambil menjabat tanganku.

“Kenapa ga diajak masuk aja nonton dulu sebentar sis?” ujarku sambil menahan jabatan tangan sisca, seolah tak ingin ditinggal sendirian.

“Sory Rann, udah ada acara lain sama Dika. Kapan-kapan kita hangout bareng ya biar waktu ketemunya lebih lama. Sekarang lo sama Reii dulu ya” rayu sisca membuatku tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakannya pergi dengan pacarnya. Aku melihat sisca berjalan menuju pintu keluar sekolah. Begitu pun dengan Reii. Dan setelah itu tatapan mata kami bertemu. Aku terbatuk perlahan. Reii mencairkan suasana dengan bertanya padaku dimana rumahku, kesibukkan apa yang sedang aku jalani akhir-akhir ini dan bagaimana kesiapanku menjelang perkuliahan. Aku pun bertanya sebaliknya. Kami tertawa bersama bertukar informasi tentang perkuliahan tanpa canggung layaknya teman lama. Yahh jarang sekali aku berkenalan dengan seseorang dan langsung akrab seperti ini.

Cuaca semakin terik, pancaran sinar matahari mulai menikung dan memasuki koridor dimana aku berdiri dengan Reii. Aku kembali menutupi wajahku dengan jilbabku. Tanpa kusadari Reii memakaikan topi nya padaku. Aku pun terhentak kaget, mataku melihat ke atas ke ujung topi yang sudah pas terpakai dikepalaku. “Tidak usah Reii, kamu saja yang pakai. Nanti kamu kepanasan” sahutku spontan sambil melepas topi, tapi tertahan oleh tangan Reii yang tetap memposisikan topi nya di kepalaku. “gapapa kamu saja Rann. Aku ga kepanasan ko” ujar Reii dengan lembut. Aaaa hatiku meleleh rasanya, aku tak sanggup berkata apa-apa lagi selain berucap “Terimakasih Reii”. Dan Reii pun membalasnya dengan seyuman.

Tatapan mata kami berfokus pada pasukan yang sedang berlomba, sesekali aku dan Reii berbincang mengenai penampilan mereka dan sesekali juga kami mengecek handphone kami masing-masing apakah ada sms masuk atau tidak. Satu kali aku harus meninggalkan Reii karena kebutuhan mendesak panitia yang membutuhkan bantuanku. Walaupun aku meninggalkan Reii, dia tetap di posisi yang sama saat aku kembali, tersenyum dan berkata padaku “topinya cocok kamu pakai Rann” dan aku pun tersipu malu.

Reii mengajakku untuk makan siang di kantin sekolah. Kami pun berjalan menuju kantin, teman-teman yang melihatku berjalan dengan seorang laki-laki bergosip ria menyangka bahwa Reii adalah pacarku. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum menyangsikan. Setibanya di kantin, Reii bertanya makanan yang paling diminati apa dan aku memberikan rekomendasi untuk mencoba soto ayam pak kumis dengan ekstra kulit ayam kering. Kami pun memesan menu yang sama begitupun dengan minumannya yaitu es kelapa.

“enak ya Rann sotonya” ujar Reii begitu mencicipi soto pak kumis

“iya Reii…enaaakkk” jawabku singkat sambil menikmati makanan

“Oiya Rann, tadi kamu bilang ingin jadi bidan dan lanjut kuliah kebidanan. Kamu ga takut sama darah-darah ya?” tanya Reii penasaran

“hhmm kalau ngeliat tangan sendiri luka, terus keluar darah si sejauh ini biasa aja Reii. Belum tau kalau ngeliat darah yang banyak bakal gimana. Semoga ga pingsan ya. Hehee” ujar ku sambil bercanda, sambil sesekali aku minum es kelapa.

“iya juga yaa…hal kaya gitu harus dinilai langsung. Sanggup atau tidaknya dilapangan” ujar Reii dengan serius menanggapi pernyataanku

“iya Reii, karena untuk tahu sesuatu kita sanggup atau tidak harus dicoba dulu” sahutku dengan semangat. Aku melihat Reii meng-iyakan pernyataanku dengan anggukan kepalanya.

“Rann boleh minta nomor kontakmu?” tanya Reii tiba-tiba..

Ini yang aku tunggu sejak tadi, bertukar nomor kontak berarti ada kemungkinan untuk berkomunikasi selanjutnya. Gumamku riang dalam hati. Kami pun saling menyimpan nomor kontak di handphone masing-masing. Tiba-tiba seseorang menyenggol mejaku dan tangannya mendepak gelas es kelapaku hingga terjatuh. Aku tersentak kaget, tanganku basah begitupun sekitaran meja. Orang yang aku yakini bukan dari SMA ku ini meminta maaf, ia khilaf karena terlalu semangat bercanda dengan temannya. Aku pun memaafkan dengan anggukan kepala. Kesal memang, tapi aku tidak ingin ribut jadi kubiarkan mereka pergi. Diam-diam Reii memperhatikan kejadian ini dengan serius, wajahnya tampak tak senang. Mungkin jika orang itu tidak meminta maaf Reii akan maju layaknya panglima tempur. Begitu pikirku.

Reii dengan sigapnya mencari tissu, kemudian dia memegang tanganku yang basah dan mengusapnya perlahan. Aku yang sedang fokus  membersihkan rok sambil berdiri tersentak kaget. Terdiam melihat kelembutan dan perhatian Reii. Lagi-lagi hatiku meleleh dibuatnya. Reii membangunkan kesadaranku dengan perkataannya “nah sudah selesai” ia membuang tissu yang tadi dipakai ke tong sampah. Kami pun duduk kembali.

Tak lama aku dan Reii menghabiskan makanan. Tiba-tiba terdengar suara lantang memanggil “Reiiiii…..” sahut seorang perempuan dari kejauhan. Ia berdiri tepat di dekat pintu gerbang sekolah. Kami pun menoleh ke arah yang sama. Dalam hati, aku bertanya-tanya siapa. Ingin rasanya aku tanyakan langsung, tapi kutahan. Aku ingin Reii yang bicara dan memberitahuku. Reii pun bangkit dari kursi dan membayar makanan kami.

“Aku pamit duluan Rann” tanpa basabasi Reii mengucapkan kata itu

“ko duluan? Kenapa?” sahutku spontan. Aku bingung kenapa terlontar kata itu. Kenapa tidak aku ucapkan kata lain seperti “yaa” atau apapun. Aku seperti tidak ingin ditinggalkan olehnya. Aaaaa terlalu terlihat. Aku malu. Gumamku dalam hati.

Reii tersenyum dan berkata “Pacarku sudah menunggu Rann”

Aku speechless dan terbatuk pelan “ooo yaa Reii, silahkan. Terimakasih untuk hari ini” jawabku lemas. Reii mengambil tas dan memakaikan dipunggungnya. Kemudian pergi. Dan aku terdiam sendiri.

 

Bersambung

Tinggalkan Komentar