Kisah Rumput

0
29

Sabtu, 19 Agustus 2017 saya menghadiri acara Peresmian Pembukaan PTKIS Kopertais II Jawa Barat dan Banten. Ada satu hal yang menarik menurut saya dalam cara tersebut. Saat memberi arahan, Rektor UIN Sunan Gunung Djati mengungkapkan sebuah philosopi hidup. Beliau menyebutnya sebagai philosopi rumput.

Dalam sejarah hukum perdata, rumput tidak pernah tercatat sebagai pemiliki tanah. Dan sejarah itu pun belum pernah mencatat ada gugatan seorang tuan tanah terhadap rumput. Padahal rumput sering kali menempati tanah yang tercatat bukan miliknya. Rumput sering tidak peduli. Dia tumbuh dimana saja yang dimau. Pemilik tanah pun terkadang berlaku reaktif. Rumput yang tumbuh tanpa diundang tersebut dipotong, dicabut sampai akarnya, bahkan dibakar. Tapi apa yang terjadi? beberapa pekan berselang rumput kembali tumbuh. Cabut mencabut pun menjadi ritual. Timbul rasa kesal dalam diri tuan tanah. Lelah terus menerus dikerjain rumput, dia borong paving block. Tanah tempat rumput tumbuh pun ditutup rapat. Seminggu berlalu, bulan pun datang berselang, tuan tanah dibuat senang. Tapi setelah hitungan tahun, beberapa paving sudah mulai bergeser, bahkan ada yang retak dan tercongkel. Rumput pun tumbuh lagi.

Pak Rektor menutup kisahnya dengan sebuah istimbat. Bahwa dirinya mengusung semangat rumput. Meski banyak masalah dalam perjalanan hidup mengkoordinir perguruan tinggi swasta di wilayah Jawa Barat dan Banten, Pak Rektor sebagai Koordinator Kopertais tidak pernah patah semangat.

Saya yang duduk di jajaran paling depan tersengat. Sebuah philosopi yang amat hebat. Hidup ini tidak akan pernah mudah. Istilah iklannya life is never flat. Setiap perjuangan pasti akan dihadang tantangan. Satu selesai, akan datang tantangan lainnya. Begitu terus sampai misi selesai. Tapi pada kenyataannya tidak semua misi dapat terselesaikan. Terkadang semangat pembawa misi kalah kuat dengan tantangan yang dia hadapi. Pak Rektor telah mengajarkan saya arti konsistensi. Rumput adalah simbol konsistensi. Dia kan terus tumbuh. Meski terus diburu tantangan.

Justru karena konsistensinya tersebut, tantangan pun berubah menjadi hadiah. Musuh yang tadinya ingin membinasakan berubah menjadi kawan yang penyayang. Rumput pun diterima oleh tuan tanah. Bahkan dirawat dengan telaten. Tuan rumah luangkan waktu untuk si rumput. Cinta bersemi diantara mereka. Hasilnya rumput menjadi penghias tanah. Tuan tanah pun senang.