lembaran lembaran cinta

0
23

awal kisah

kutulis kisah ini di atas bangunan setengah jadi di bumi ummul-quro al-islami.matahari bersinar terang merah kemerah-merahan membenamkan sinarnya di antara gumpalan awan orange bukit galuga,. angin bersemilir silih berganti membawa hawa dingin membelai kulit tiang-tiang tertancap kokoh tinggi menjulang hendak menantang langit di atas bukit hijau. warnanya putih perak mengkilap kecoklat-coklatan, semakin cokelat di sapu oleh sinar matahari.

burung-burung berterbangan menuju sangkarnya berada di tengah hijaunya hutan belantara yang masih menghiasi kota bogor. dari tepi kanan terlihat segerombolan anak-anak bermain kejar-kejaran bercengkrama satu sama lain. mobil-mobil terlihat laksana semut dari atas sini, sedang berjalan lurus membelah panorama kota bogor, di samping jalan rumah-rumah tersusun rapi, sejauh mata memandang hanya pemandangan nun hijau terhampar membentuk garis horizontal yang membentang  tersusun dari pepohonan jati. sebuah gubuk tempat beristirahat dan rumah warga serta beberapa pemuda yang tengah tergopoh-gopoh membawa tas besar hitam tengah pulang dari pekerjaanya.

waktu menunjukan pukul 18.00 adzan berkumandang, suaranya terdengar lantang bertalu-talu memecah langit, keras dan kencang, memberikan tanda akan panggilan nun suci, panggilan yang amat mulia mengajak para manusia untuk mensucikan akan kewajiban agama dari sang pencipta.

ihsan keluar dari kos-kosanya menuju masjid yang tak terlalu jauh dari kos-kosanya, kurang lebih hanya 15 meter. ia pergi mengenakan baju putih bercorak garis hitam didadanya dan peci putih dikepalanya serta sarung hitam yang bergelayut ditubuhnya.

ia pergi memenuhi panggilan nun suci dari Tuhan pengatur alam. ia mengambil air wudhu, nampak dosa-dosa keluar oleh air wudhu yang ia basuh di wajahnya. kemudian ia masuk masjid shalat qobliyah dua rakaat lalu berdoa. membisikan seluruh hajat-hajatnya kepada Sang pemberi harapan.

iqomat di bunyikan, lantang,oleh seorang pemuda setengah baya memberikan tanda bahwa shalat akan dimulai. seluruh jamaah berbaris rapih saling mengisi shaf kosong satu sama lain. di shaf pertama di isi oleh para sesepuh, dan orang-orang dewasa. sedangkan dishaf paling belakang di isi oleh anak-anak mereka berjejer rapi layaknya barisan perang para mujtahidin yang gagah berani tak takut mati, siap membela islam dari orang-orang kafir yang hendak memecah belah ummat islam.

shalat maghrib pun usai, sebagian jammaah ada yang menghambur keluar meninggalkan masjid, ada yang beriktikaf sambil berdzikir ada juga yang membaca al-quran dan ada juga yang sujud syukur sekali lalu kemudian pergi. ihsan berdzikir dengan khusyuk di barisan kedua, lalu berdoa membisikan sejuta harapanya kepada Dzat yang Maha abadi . ia berdoa dengan khusyuk, seakan-akan para malaikat menyaksikan kejadian itu lalu mengusapkan tangan kemukanya,  sujud sekali dan menghambur meninggalkan masjid.

tiba-tiba matanya terbelalak ketika berada di tengah pintu, ia kaget sendalnya tidak ada di tempat,bingung kemudian mencarinya kesana kemari menyapu setiap sudut masjid hingga akhirnya ia menyerah sambil mengelus-elus dada dan pulang tanpa sandal, ia anggap kejadian seperti itu sudah biasa tapi bukan berarti di biarkan begitu saja, kalau ia biarkan saja berarti secara tidak langsung ia membela kebudayaan jelek, dan kebudayaan ini harus di potong dan di cabut sampai keakar-akarnya.

” assalamualaikum”. ihsan mengetuk pintu mengucapkan salam.

” waalaikum salam, eh kang ihsan silahkan masuk kang” jawab pria bernama farid membukakan pintu. dia adalah teman sekaligus saudara sepupu ihsan, tercatat masih ada satu golongan darah dari ibunya. ia sangat menghormati ihsan serta menuakan ihsan. ia juga yang menaruh perhatian lebih terhadap ihsan. di kos-kosanya, ihsan tinggal bersama ke tiga temanya, farid, faris dan bayan. mereka tinggal dengan rukun. di kos-kosanya, ihsanlah yang menjadi ketua kosan, ia yang paling dewasa dan yang paling jujur, namun walaupun begitu ihsan tidak sewnang-wenang memerintahkan mereka, sekecil amanah apapun pasti ia anggap serius, ia bukan memandang besar kecil suatu pekerjaanya, tapi yang ia pandang adalah amanahnya, oleh karena itu, setiap pekerjaan sekecil apapun ia tangani dengan sepenuh hati. di kos-kosanya, ihsan bekerja sebagai guru bahasa inggris di ponpes di smpn 1 leuwiliang dan man 1 leuwiliang, farid juga sama, ia berprofesi sebagai guru di sekolah yang sama dengan ihsan, kecuali faris dan bayan, faris berprofesi sebagai pedagang kecil-kecilan di dekat kos-kosanya dan bayan masih berpangku tangan dengan kedua orang tuanya, ia adalah anak konglomerat, orang tuanya memiliki banyak perusahan yang ada di dua belas kota besar, bandung, jogja, serang, bogor, kelaten, solo, papua, bali dan lain-lain. tapi meskipun begitu, ia tetap saja harus bisa bediri dengan kaki tangan sendiri, baginya yang kaya itu adalah orang tuanya, dia yah dia, lalu jika yang kaya orang tuanya, yang terhormat adalah orang tuanya juga, lalu, apa yang ia bisa banggakan?

farid memandangi ihsan, matanya menangkap sebuah keganjilan pada diri ihsan.

” walah-walah, kang, kemana sendal akang?

 ihsan tersenyum tenang, seakan-akan tak terjadi apa-apa pada dirinya, ia masuk kedalam lalu uduk di atas kursi.sebelumnya, ia sudah mencuci kakinya di keran dekat kosan.

” biasa, di ambil orang rid.

raut wajah farid memerah, darahnya sedikit mendidih.

“wah, bener nih kang memang harus di beri pelajaran tuh orang, awas saja kalau sampai ketemu, akan aku jadikan perkedel tuh kang, lihat saja.. bagaimana shalatnya mau di terima kalau yang dia pakai itu haram. tukasnya geram sambil meluap-luapkan emosi.

ihsan yang menjadi korban malah tenang-tenang saja, ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

” rid, tidak usah cemas, kalau memang sendal itu masih rezeki akang, pasti balik lagi.. yang mengatur rezeki itu Alah rid, kau jangan cemas, setiap musibah pasti ada pelajaran, dan kita harus pintar-pintar mengambil pelajaran itu supaya yang kita dapat bukan hanya musibahnya saja. mungkin, dengan cara ini Allah menegur akang, yah, begitulah yang akang rasa, karena akhir-akhir ini akang jarang sekali shadaqoh. jelas ihsan panjang lebar.

farid tersenyum, ia terpukau dengan jawaban ihsan, walaupun di landa musibah, ia masih bisa saja berfikir jernih penuh ketenangan.

” hayo-hayo dari pada kalian ngomongin sandal yang hilang, lebih baik makan nasi goreng buatanku dulu nih.  suara faris dari belakang dapur mengagetkan mereka berdua. ihsan dan farid menoleh kearah farid yang sedang membawa nasi goreng di atas dipan biru yang biasa ia gunakan untuk memasak.

” alhamdulillah terima kasih yah ris, kebetulan akang sedang lapar, ternyata sendal akang di ganti dengan nasi goreng buatan kamu yang super lezat ini. hehe ucap ihsan sedikit memuji.

‘ walah, akang teh bisa saja, makasih yah kang atas pujianya al-hamdulillah kalau memang ini enak, makanya apa aku bilang, makan dulu biar enakan, dari pada ngebahas sendal yang hilang. hehe. faris memulai lelucon, ihsan dan farid tertawa tipis.

suasana begitu hangat walaupun makan di temani dengan nasi goreng yang di taburi kecap hitam di atasnya. bukan masalah kecapnya yang bisa membuat sasana begitu syahdu, akan tetapi rasa syukurlah yang mampu menghiasi suasana, suasana apapun pasti akan indah kalau ada rasa syukur didalamnya. mereka saling berbagi cerita satu sama lain persis seperti keluarga kakak beradik, begitu akur yang terikat oleh ikatan batin.

” oh iya, ngomong-ngomong bayan kemana? tanya ihsan seraya memasukan butir-butir nasi kedalam mulutnya.

” bayan sedang pergi ke ciawi kang, ia bilang ada forum diskusi nasional yang penting, yah wajarlah diakan seorang aktifis. jelas farid sambil meneguk teh hangat yang masih mengepulkan asap.

###